Sabtu, 30 Oktober 2010

musibah yang terjadi di tanah air

Korban Tewas Akibat Tsunami Mentawai Mencapai 449 Orang
Minggu, 31 Oktober 2010 | 10:21 WIB
Besar Kecil Normal
foto

Korban Mentawai. TEMPO/Aditia Noviansyah

TEMPO Interaktif, Padang - Hingga pagi ini korban tewas akibat tsunami di Kepulauan Mentawai yang tercatat di Posko Badan Penaggulangan Bencana Daerah Mentawai di Sikakap 449, sedangkan yang hilang 96 orang, korban luka berat 270, luka ringan 142 dan korban mengungsi 14.983.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kepulauan Mentawai Paulinus Sabelepangulu mengatakan, jumlak korban tersebut adalah data terakhir hingga tadi malam.

Paulinus menambahkan, yang menjadi kendala penanganan korban tsunami di Mentawai adalah distribusi bantuan ke lokasi pengungsian karena buruknya cuaca. “Kapal dan perahu motor tidak bisa mendistribusikan bantuan karena badai, apalagi melewati pantai barat, gelombangnya tinggi, sangat berbahaya, “ kata Paulinus, Minggu (31/10).

"Kami juga mengirimkan bantuan berupa bahan makanan atau sembako Pertamina peduli senilai Rp 40 juta," kata Harun.

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) menyatakan, mereka akan menambah minyak tanah di Tuah Bejat, Ibu Kota Mentawai. Bantuan yang diberikan terdiri dari 6 KL premium, 4 KL Solar dan 10 KL minyak tanah. pasokan bantuan kepada korban tsunammi di Mentawai, Sumatra Barat.

"Kami juga mengirimkan bantuan berupa bahan makanan atau sembako Pertamina peduli senilai Rp 40 juta," kata Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun Harun.

Kemarin, kapal pengangkut bantuan BBM Pertamina berlayar dengan membawa 16 kiloliter (KL) premium, 5 KL solar dan 7 KL minyak tanah. Bantuan ini baru dikirimkan karena pada 29 Oktober karena ada gelombang tinggi di Mentawai



Foke Berang Kerap Ditanya Soal Banjir
"Saya diundang di sini untuk meresmikan acara bukan untuk membicarakan kemacetan."
Sabtu, 30 Oktober 2010, 22:35 WIB
Antique, Dwifantya Aquina
Fauzi Bowo (VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis)
BERITA TERKAIT

* Jakarta Harus Waspada, Katulampa Siaga III
* "Pipi Monyet", Cara Bangkok Bebas Banjir
* Foke: Macet dan Banjir Bukan Hanya di Jakarta
* Demonstran Tuntut Fauzi Bowo Mundur
* Foke Larang Motor Berteduh di Bawah Flyover

VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berang saat kembali ditanya soal pertanggungjawabannya terkait banjir dan kemacetan yang sempat melumpuhkan Ibukota beberapa hari lalu.

Foke, panggilan akrab Fauzi yang mengkampanyekan dirinya sebagai ahli Jakarta ini menolak menjawab pertanyaan dari para pewarta berita.

"Saya diundang di sini untuk meresmikan acara bukan untuk membicarakan kemacetan," ujar Fauzi Bowo kepada wartawan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu 30 Oktober 2010.

Tak hanya itu, suara Fauzi juga sempat meninggi saat kembali ditanya soal penanggulangan dua problem utama Ibukota tersebut. "Sekarang saya tanya, sekarang lagi macet nggak? Sekarang lagi banjir nggak?" ujarnya berulang kali dengan nada tinggi dan tiba-tiba meninggalkan para wartawan.

Yang menarik, dalam pertunjukan perdana Teater Jakarta yang bertema Langkah, Bumi dan Matahari, dalam satu adegan menggambarkan kota Jakarta tenggelam. Gedung MPR DPR RI teredam hingga nyaris tenggelam.

Digambarkan pula padatnya lalu lintas Jakarta akibat banyaknya kendaraan yang mengakibatkan polusi, serta gedung-gedung pencakar langit yang menggantikan hutan di Jakarta.

Saat ditanya komentarnya mengenai pertunjukan tersebut Fauzi enggan menjawab dan menolak diwawancara para wartawan. (sj)

Badan Geologi Tak Rekomendasikan Bunker Untuk Berlindung
Selasa, 26 Oktober 2010 | 17:43 WIB
Besar Kecil Normal
foto

Seorang warga membuka pintu utama masuk ke bungker di Pos Pengamatan Merapi di Babadan Kecamatan Dukun Magelang. TEMPO/Anang Zakaria

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Bunker (bangunan tempat berlindung) yang dibangun di beberapa tempat di lereng Merapi tidak direkomendasikan untuk penyelamatan. Alasannya, bunker tersebut hanya kuat menahan awan panas, bukan material lava panas.

Seperti yang terjadi pada erupsi Merapi 2006. Dua orang relawan memilih bersembunyi di bunker Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan Sleman saat sudah tahu Merapi meletus. Tetapi ternyata bunker itu tidak kuat menahan material lava panas. Karena suhu material lava itu mencapai 800 derajat celcius. Akibatnya dua relawan itu tewas mengenaskan. Mereka ditemukan setelah tiga hari pencarian.

“Yang paling aman ya lari, mengungsi sebelum ada erupsi besar, maka masyarakat sekitar Merapi supaya mengikuti instruksi petugas,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi saat ditemui di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Selasa (26/10).

Kecepatan awan panas, kata dia, mencapai 300 kilometer per jam.

Menurut dia, bunker tersebut, hanya untuk perlindungan petugas akhir yang berada di pos pengamatan gunung merapi. Ibaratnya, bunker itu hanya untuk “kapten kapal” yang menyelamatkan diri di saat penumpang sudah diselamatkan semua.

“Ibaratnya, bunker itu dibuat untuk kapten kapal yang penumpangnya sudah diselamatkan semua saat karam,” kata dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar