Gunung Merapi Meletus, di Mana Mbah Maridjan?
Selasa, 26 Oktober 2010 | 20:23 WIB
Besar Kecil Normal
foto
TEMPO/Puspa Perwitasari
TEMPO Interaktif, Sleman - Gunung Merapi telah meletus namun juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. Sejumlah relawan sempat membujuk Mbah Maridjan untuk turun ke pengungsian sesaat sebelum awan panas muncul. Namun saat awan panas muncul, mereka kehilangan jejak Mbah Maridjan.
”Kami sempat nego dengan si Mbah, tapi tiba-tiba terdengar letusan. Kami lari menyelamatkan diri. Sejak itu kami tidak menemukan si Mbah,” kata salah seorang sumber Tempo yang tidak bersedia disebut namanya saat dihubungi Tempo, Selasa (26/10) malam ini.
Sumber ini menuturkan, para relawan datang ke rumah Mbah Maridjan sebelum wedhus gembel turun. Saat itu para relawan sempat melihat awan panas ke arah barat daya dalam radius sekitar 7 kilometer atau ke arah Magelang. ”Saat itu kami belum lari,” katanya.
Namun usai Maghrib, mereka melihat ada warna merah menyala di puncak Merapi yang mengarah ke selatan. Guguran lava itu tepat mengarah tepat di tempat tinggal Mbah Maridjan, yakni di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Lokasi dusun tersebut berada dalam kawasan rawan bencana III atau 5 kilometer dari puncak Merapi.
”Saat itulah kami lari dan tak lagi melihat si Mbah. Padahal waktu itu sedang negosiasi dengan si Mbah agar mau turun ngungsi,” kata sumber itu.
Beberapa kerabat Mbah Maridjan, menurut sumber itu, sudah turun mengungsi. Namun kerabat lainnya belum terlihat, seperti adik ipar Mbah Maridjan, Udi Sutrisno.
Sementara itu, Kepala Dusun Kinahrego Ramijo belum juga bisa dihubungi. Meski demikian, sumber tersebut belum bersedia memastikan dimana kondisi terakhir Mbah Maridjan. ”Kami akan naik untuk mencari lagi,” kata sumber tersebut.
Nasional
Jawa Timur
Maridjan Sang Penjaga, Setia Sampai ajal
Mbah Maridjan menepati janjinya. "Menjaga Merapi sampai ajal menjemput."
Kamis, 28 Oktober 2010, 08:58 WIB
Ismoko Widjaya
Mbah Maridjan sehari sebelum wafat, 25 Oktober 2010 (Antara/ Regina Safri)
BERITA TERKAIT
* Tugas Pertama Kapolri, ke Mentawai
* Video Mbah Maridjan Meninggal Posisi Sujud
* Mbah Maridjan Dimakamkan di Kaki Merapi
* Wapres Boediono ke Barak Pengungsi Merapi
* Gempa Mentawai dan Merapi Meletus Terkait?
VIVAnews - Jenazah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud di dalam kamarnya. Saat ditemukan, Mbah Maridjan mengenakan batik kuning dan bersujud di atas sajadahnya di dalam kamar.
Hari ini, Kamis 28 Oktober 2010, sekitar pukul 10.00 WIB Mbah Maridjan akan dikebumikan. Tepat di bawah kaki Gunung Merapi. "Dari RS Sardjito berangkat pukul 09.00 WIB," kata kerabat Mbah Maridjan, Agus Wiyarto, Kamis 27 Oktober 2010.
Mbah Maridjan merupakan orang asli kaki Merapi. Lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, 83 tahun lalu. Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi bersujud di tempat kelahirannya.
Mbah Maridjan menepati janjinya. "Menjaga Merapi sampai ajal menjemput," kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso kemarin di gedung DPR. Mbah Maridjan merupakan didaulat menjadi kuncen atau juru kunci 'penjaga' Gunung Merapi sejak 1982.
Jabatan juru kunci bukanlah hal yang baru bagi ayah dengan empat orang anak kelahiran 1927 itu. Pada 1970, atau saat Mbah Maridjan berusia 43 tahun, Keraton Yogyakarta sudah menunjukknya menjadi wakil juru kunci, mendampingi sang ayah. Saat sang ayah wafat, Mbah Maridjan ditunjuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk melanjutkan amanat sebagai juru kunci Merapi.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan tugas utama sebagai juru kunci. Tugasnya, setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari Mbah Maridjan untuk mengungsi.
Bersama Ponirah, istrinya, Mbah Maridjan memiliki empat orang anak. Mbah Anjungan, Raden Ayu Surjuna, Raden Ayu Murjana, dan Raden Mas Kumambang.
Kharisma dan 'kemampuan' Mbah Maridjan menurun kepada anak-anaknya. Salah satunya Mbah Anjungan, yang dipercaya menjadi penasihat Presiden Soekarno sejak 1968-1969. Bahkan pada pada 1974-1987 menjadi Wali Mangkunagara VIII.
Mbah Maridjan mendapat gelar Mas Penewu Suraksohargo atau Sang Penjaga atau Juru Kunci Gunung Merapi. Sejak dijaga Mbah Maridjan, Gunung Merapi sudah lima kali meletus dan 'batuk-batuk'. Yakni di tahun 1994, 1998, 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus, 2006 dan 26 Oktober 2010.
Tidak semua juru kunci setenar Mbah Maridjan. Peristiwa meletusnya Merapi pada 2006 membuat namanya meroket. Mbah Maridjan kukuh tidak turun gunung karena yakin letusan awan panas 'wedhus gembel' Merapi tidak akan menyambarnya. Dengan keberanian dan perkiraan yang tepat itu, Mbah Maridjan terkenal. Bahkan dia menjadi bintang iklan minumen berenergi.
Kini, entah wangsit apa yang didapat Mbah Maridjan hingga dirinya enggan mengungsi turun dari Merapi. Dia memilih beribadah di atas sajadah dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa sampai ajal menjemput. Mbah Maridjan meninggal dunia bersama 29 orang lainnya termasuk redaktur senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. (umi)
• VIVAnews
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#3
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#4
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#5
Adik Ipar dan Murid Mbah Maridjan Luka Bakar
Rabu, 27 Oktober 2010 | 05:43 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Korban letusan gunung Merapi di RS Sarjito Yogyakarta. ANTARA/Regina Safri
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Adik ipar Mbah Maridjan, Udi Sutrisno (50) dan salah seorang cantrik atau murid Mbah Maridjan, Muji (50) ditemukan selamat. Namun keduanya mengalami luka bakar serius dan saat ini tengah dirawat di Gedung Bedah Sentral Terpadu (GBST) Instalasi Luka Bakar RS dr Sardjito sejak Selasa (26/10) malam.
Muji ditemukan di sekitar rumah Mbah Maridjan dan langsung dibawa ke RS Sardjito. Sedangkan Udi yang rumahnya sekitar 20 meter dari rumah juru kunci Mbah Maridjan sempat dilarikan ke RS Panti Nugroho Pakem sebelum akhirnya dirujuk ke RS Sardjito.
“Tapi Mbah Maridjan belum kami temukan,” kata relawan dari Pos Keadilan Peduli Umat, Sholeh usai mengantar salah seorang korban selamat yang mengalami luka bakar ke unit gawat darurat RS dr Sardjito, Selasa (26/10) malam.
Menurut Sholeh, akses jalan menuju ke rumah Mbah Maridjan sulit dijangkau. Lantaran jalan tertutup dengan pohon-pohon sekitarnya yang tumbang disapu awan panas. Sedangkan rumah Mbah Maridjan pun telah roboh.
“Masjid yang ada di dekat rumahnya juga rusak, meski tidak roboh. Jadi kemungkinan ada yang masih hidup kecil,” kata Sholeh.
Ditambahkan relawan dari RS DKT Yogyakarta Kapten Suharna, untuk menjangkau ke lokasi tersebut harus menggunakan sepatu bot. Lantaran abu vulkanik yang menutupi kawasan tersebut masih terasa panas. Bahkan ketebalannya mencapai sekitar 10 sentimeter. Selain itu, masih banyak pohon yang masih merah membara karena terbakar saat tim evakuasi naik ke Kinahrejo.
“Kondisinya masih sangat mengkhawatirkan kalau tiba-tiba awan panas turun. Proses evakuasi akan kami lanjutkan Rabu pagi,” kata Suharna.
Berbeda dengan yang dikemukakan seorang relawan yang tidak bersedia disebut namanya. Saat ditemui di ruang forensik, relawan tersebut mengaku tengah ngobrol dengan Mbah Maridjan bersama relawan-relawan lainnya.
“Ya, guyon saja, ngomongin hal-hal yang dianggap sepele. Sama sekali kami tidak menyinggung Merapi pada si Mbah,” kata relawan itu.
Hingga kemudian sirine berbunyi sekitar satu menit usai adzan Maghrib. Saat itulah, relawan itu turun. Sedangkan Mbah Maridjan bergegas ke masjid untuk menjlankan sholat.
“Saya sempat lihat Mbah Maridjan masuk ke masjid,” kata relawan tersebut.
Sesaat sebelum sirine berbunyi, tiga buah mobil naik ke atas menuju rumah Mbah Maridjan. Saat sirine berbunyi, dua mobil turun dan tinggal satu buah mobil APV.
“Saya yakin sudah tidak ada orang di sana, kecuali Mbah Maridjan dan satu orang pengendara APV yang sama-sama masuk masjid,” kata relawan.
Saat evakuasi dilakukan, tim relawan menemukan sebuah mobil dan dua buah sepeda motor hangus terbakar.
PITO AGUSTIN RUDIANA
Detik-detik Letusan Merapi
Selasa, 26 Oktober 2010 | 23:57 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Gunung Merapi. REUTERS/Beawiharta
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta merilis kronologi letusan Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10/2010). BPPTK mencatat sejak pukul 17.02, gunung Merapi mulai mengeluarkan awan panas. Arah luncuran awan panas ke sektor barat-barat daya dan sektor selatan tenggara.
Terjadinya luncuran awan panas beberapa kali terekam pada menit-menit berikutnya
dengan durasi waktu antara 2 menit hingga paling lama terjadi selama 33 menit. Pada pukul 18.54 aktifitas awan panas mereda.
"Indikasinya sudah sangat jelas, Merapi menepati janjinya, itulah sebabnya saya meminta petugas di pos pengamatan untuk mundur. Kami sampaikan informasi ke Satlak Penanggulangan Bencana masing-masing kabupaten segera membunyikan sirine tanda bahaya," kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian Sumber Daya Mineral di Kantor BPPTK, Selasa (26/10).
Pemantauan secara visual melalui kamera CCTV yang terpasang di bukit Plawangan Kaliurang, tidak bisa dilakukan karena cuaca buruk dan terhalang kabut tebal. Kondisi malam hari yang gelap gulita itu membuat pengamatan tak bisa optimal dilakukan dengan bantuan kamera pemantau. Energi letusan Merapi kali ini cukup besar jika dibandingkan dengan kejadian serupa di tahun sebelumnya seperti tahun 2006 lalu.
Petugas di pos pengamatan melaporkan mendengar ada suara gemuruh pada pukul 18.45 dari Pos Jrakah dan Pos Selo dan terjadi suara dentuman tiga kali. Bahkan dilaporkan dari pos pengamatan Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 kilometer dari puncak.
”Masa krisis Merapi masih belum lewat, kami terus melakukan pemantauan dari alat seismik masih bisa memantau,” kata dia.
Mengenai penyelamatan warga yang diperkirakan terjebak saat terjadi luncuran awan panas, secara pribadi Surono merasa sedih bahkan dirinya sempat menangis karena sudah memberikan peringatan sebelumnya.
"BPPTK sudah merekomendasikan daerah mana saja yang aman, bukan polisi yang harus mengawasi. Masa krisis belum lewat, radius awan panas belum terpantau karena cuaca tak memungkinkan pemantauan visual,” kata dia.
Besar Kecil Normal
*
* Bagikan83
* 0
Awan Panas Bergerak ke Selatan dan Barat Daya
Selasa, 26 Oktober 2010 | 19:34 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Gunung Merapi. TEMPO/Arif Wibowo
TEMPO Interaktif, Sleman: Petugas pemantau Gunung Merapi kesulitan untuk mengamati penyebaran wedus gembel (awan panas) karena tertutup kabut tebal. Namun dari arah pergerakan angin, diperkirakan awan bergerak ke arah selatan (wilayah Cangkringan Kabupaten Sleman) dan barat daya (wilayah Dukun Kabupaten Magelang).
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, awan panas terlihat pertama kali sekitar pukul 17.02. Kemudian secara berturut-turut muncul lagi pada pukul 17.19, 17.24, dan 17.34. “Sirine alarm tanda bahaya berbunyi pada pukul 17.57,” kata Surono lewat telepon.
Hingga saat ini Merapai masih mengeluarkan awan panas. “Namun tidak bisa dipantau karena terhalang kabut,” kata Surono. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) telah memerintahkan semua petugas pemantau untuk meninggalkan posko dan segera turun gunung. Jika mereka bertahan di sana dikhawatirkan terkena awan panas.
Pada pukul 18.00 terdengar tiga kali letusan dari puncak Merapi. “Gejala ini menunjukan Merapi telah explosif,” kata Surono.
Hingga berita ini dilaporkan, belum diketahui korban yang jatuh akibat letusan Merapi itu. Menurut Heru Setyaka, warga Dukun, Magelang, di letusan Merapi itu menimbulkan hujan pasir dan kerikil di tempatnya. Jarak antara Dukun dengan puncak Merapai sekitar 12 km.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar