* Home
* Daftar Isi
* Jadwal ISL 2010-2011
Gunung Krakatau, Ledakannya 30.000 Kali Bom Atom di Hiroshima
31/07/2009
gunung krakatau-6 Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana yang, karena letusan pada tanggal 26-27 Agustus 1883, kemudian sirna. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.
Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.
gunung krakatau-1 gunung krakatau-2 gunung krakatau-3gunung krakatau-4gunung krakatau-5 gunung krakatau-6gunung krakatau-7gunung krakatau-8
Header Krakatau 01 Header Krakatau 02 Header Krakatau 03
Blank
Action 01
Action 02
Action 03
Krakatau in action
Administratively Krakatau belongs to Lampung Province.
Krakatau located in Sunda Strait, between Java and Sumatera Island, had been wellknown and recorded in the history since the 16th century.
At that times Sunda strait became a heavy business traffic line from Europe (Holland, England, etc) to East India (Indonesia).
In this modern century Sunda Strait plays more important role as business traffic line as well as the field of geological and maritim research.
3 Anak Krakatau
Aerial View of Krakatau today
Ancient Krakatau was estimated 2,000 meters in height and radius of 9 kms.
Its great eruption happened in pre history in 416 as documented in the ancient Javanese book "Pustaka Raja", and left 3 island as the rest i.e. Rakata, Sertung and Panjang Island.
In the later expanding Rakata comes and followed by Danan and Perbuatan volcanic summits.
The latest great eruption of Krakatau volcano happened on 27th of the August 1883 and destroyed most of its body (3/4 of it). It caused big wave with 40 metres height.
Lampu Kapal
Krakatau Monument
at Teluk Betung
A stemship anchored in Teluk Betung port was thrown 2.5 kms away and washed ashore in the lower course of Kuripan river. It also caused ash and stone hail covered 300.000 squared miles or some 483 sq kms within a radius of 150 kms.
Jakarta (Batavia) and around Sunda Strait such as Anyer, Merak, Labuan, Kalianda, Teluk Betung and Kota Agung became pitch dark.
The eruption was heard from Phillippines, Alice Springs, Rodriquez Island and Madagascar. The power of its eruption was estimated to 21,547.6 atom bomb multiplied.
Besides that, the ash hail produced by the eruption caused obstruction of the view to the sun, so that it created a spectacular view as if the sun was almost gone.
Blank
Garis
Blank
After having 44 years rest, the child of Krakatau appeared in December 1927 and it is expanding until now.
Today you can come and step your foot on it searching closely the minerals (Volcanic bomb, lava, lappili) from the bottom of the earth which were thrown up through its creater.
Krakatau and its terific eruption which is recorded in the history now invites every one to come and witness for science as well as for pleasure.
Now the child of Krakatau has reached approx 200 m above sea level with the diameter of 2 kilometres.
The way to get there is from Canti located in Kalianda about an hour driving from Bandar Lampung, and the boats will take to the Karakatau area. Near by the Krakatau there are Sebuku and sabesi island as for stopover and staying over night. It only taken one and half hour from Canti.
Blank
donesia Resmi Ketua ASEAN
Artikel Terkait
* Vietnam, Tuan Rumah KTT Wanita ASEAN
* AS-ASEAN Kecam Militer Cina
* Liga Sepakbola Antarklub ASEAN Digagas
30/10/2010 21:25
Liputan6.com, Hanoi: Indonesia resmi menjabat sebagai Ketua ASEAN 2011 dan ketetapan itu diumumkan bersamaan dengan penutupan Pertemuan Puncak ke-17 ASEAN di Hanoi, Vietnam, Sabtu (30/10) malam. Dalam acara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pengumuman Indonesia menjadi Ketua ASEAN 2011 sekaligus menyampaikan visi Indonesia sebagai Ketua ASEAN dan tuan rumah pertemuan puncak ASEAN pada 2011.
Dalam pidatonya, Presiden Yudhoyono menyatakan, Indonesia menempatkan ASEAN sebagai organisasi yang sangat penting. Menurut Presiden, ASEAN adalah salah satu patokan untuk menentukan kebijakan. Sejak awal berdiri, ASEAN telah mencapai kemajuan. Indonesia, yang kembali mendapat mandat untuk menjadi Ketua ASEAN, berkomitmen untuk terus meningkatkan kemajuan organisasi itu. "Masih banyak ruang bagi ASEAN untuk bekerja dan untuk menghadapi berbagai tantangan global," kata Presiden Yudhoyono.
Sebagai Ketua ASEAN 2011, Presiden menegaskan, Indonesia akan mempercepat gerak menjadi pencapaian yang signifikan. "Kami akan mempercepat gerak, dari visi menjadi aksi, dari implementasi menjadi hasil yang nyata," katanya.
Sementara itu, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung mengucapkan selamat kepada Indonesia yang menerima jabatan ketua bergilir organisasi negara Asia Tenggara itu. "Saya berharap Indonesia sukses menjalankan fungsi Ketua ASEAN 2011," kata Nguyen Tan Dung yang menjabat Ketua ASEAN 2010 saat memberikan sambutan dalam acara penutupan Pertemuan Puncak ke-17 ASEAN.(ADO/Ant)
Liputan6.com, Sleman: Gunung Merapi terlihat tenang. Hingga Ahad (31/10) siang, belum ada tanda-tanda aktvitas Gunung Merapi bakal meningkat lagi. Kondisi ini berbeda bila dibanding hari sebelumnya, saat Merapi mengeluarkan awan panas yang disertai hujan abu vulkanik.
Kendati begitu, Merapi masih berstatus awas. Artinya, masyarakat di sekitar Merapi harus tetap waspada dan berhati-hati karena aktivitas gunung tersebut bisa meningkat sewaktu-waktu. Apalagi, masih ada 75 juta meter kubik material di dalam perut Merapi.
Saat berita ini ditulis, cuaca di sekitar Merapi mendung. Kabut tebal menutupi sebagian Merapi. Ini menyulitkan petugas di pos untuk melihat situasi Merapi secara jelas.
Sementara itu, dari malam hingga pagi tadi, setidaknya terdapat tujuh kali gempa berkekuatan kecil yang disertai kepulan asap tebal. Namun, sejak pagi hingga siang ini, asap tersebut sudah tak terlihat lagi.
Dari pengamatan SCTV, sejumlah warga memanfaatkan situasi tenang untuk menengok kediamannya. Mereka ingin melihat kondisi rumah, mengambil pakaian, atau memberi makan hewan ternak. Namun, oleh polisi yang berjaga-jaga di depan perkampungan, warga dilarang berlama-lama di rumahnya. Mereka diberi waktu sekitar 20 menit untuk selanjutnya kembali lagi ke lokasi yang lebih aman.
Sejumlah relawan juga berusaha membuka akses jalan untuk para pengungsi. Sebab, banyak pohon tumbang menghalangi jalur evakuasi, setelah Merapi erupsi kemarin. Selain membersihkan jalur pengungsi, relawan juga mengevakuasi seorang kakek yang bertahan di rumahnya.(ULF)
Sabtu, 30 Oktober 2010
musibah yang terjadi di tanah air
Korban Tewas Akibat Tsunami Mentawai Mencapai 449 Orang
Minggu, 31 Oktober 2010 | 10:21 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Korban Mentawai. TEMPO/Aditia Noviansyah
TEMPO Interaktif, Padang - Hingga pagi ini korban tewas akibat tsunami di Kepulauan Mentawai yang tercatat di Posko Badan Penaggulangan Bencana Daerah Mentawai di Sikakap 449, sedangkan yang hilang 96 orang, korban luka berat 270, luka ringan 142 dan korban mengungsi 14.983.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kepulauan Mentawai Paulinus Sabelepangulu mengatakan, jumlak korban tersebut adalah data terakhir hingga tadi malam.
Paulinus menambahkan, yang menjadi kendala penanganan korban tsunami di Mentawai adalah distribusi bantuan ke lokasi pengungsian karena buruknya cuaca. “Kapal dan perahu motor tidak bisa mendistribusikan bantuan karena badai, apalagi melewati pantai barat, gelombangnya tinggi, sangat berbahaya, “ kata Paulinus, Minggu (31/10).
"Kami juga mengirimkan bantuan berupa bahan makanan atau sembako Pertamina peduli senilai Rp 40 juta," kata Harun.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) menyatakan, mereka akan menambah minyak tanah di Tuah Bejat, Ibu Kota Mentawai. Bantuan yang diberikan terdiri dari 6 KL premium, 4 KL Solar dan 10 KL minyak tanah. pasokan bantuan kepada korban tsunammi di Mentawai, Sumatra Barat.
"Kami juga mengirimkan bantuan berupa bahan makanan atau sembako Pertamina peduli senilai Rp 40 juta," kata Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun Harun.
Kemarin, kapal pengangkut bantuan BBM Pertamina berlayar dengan membawa 16 kiloliter (KL) premium, 5 KL solar dan 7 KL minyak tanah. Bantuan ini baru dikirimkan karena pada 29 Oktober karena ada gelombang tinggi di Mentawai
Foke Berang Kerap Ditanya Soal Banjir
"Saya diundang di sini untuk meresmikan acara bukan untuk membicarakan kemacetan."
Sabtu, 30 Oktober 2010, 22:35 WIB
Antique, Dwifantya Aquina
Fauzi Bowo (VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis)
BERITA TERKAIT
* Jakarta Harus Waspada, Katulampa Siaga III
* "Pipi Monyet", Cara Bangkok Bebas Banjir
* Foke: Macet dan Banjir Bukan Hanya di Jakarta
* Demonstran Tuntut Fauzi Bowo Mundur
* Foke Larang Motor Berteduh di Bawah Flyover
VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berang saat kembali ditanya soal pertanggungjawabannya terkait banjir dan kemacetan yang sempat melumpuhkan Ibukota beberapa hari lalu.
Foke, panggilan akrab Fauzi yang mengkampanyekan dirinya sebagai ahli Jakarta ini menolak menjawab pertanyaan dari para pewarta berita.
"Saya diundang di sini untuk meresmikan acara bukan untuk membicarakan kemacetan," ujar Fauzi Bowo kepada wartawan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu 30 Oktober 2010.
Tak hanya itu, suara Fauzi juga sempat meninggi saat kembali ditanya soal penanggulangan dua problem utama Ibukota tersebut. "Sekarang saya tanya, sekarang lagi macet nggak? Sekarang lagi banjir nggak?" ujarnya berulang kali dengan nada tinggi dan tiba-tiba meninggalkan para wartawan.
Yang menarik, dalam pertunjukan perdana Teater Jakarta yang bertema Langkah, Bumi dan Matahari, dalam satu adegan menggambarkan kota Jakarta tenggelam. Gedung MPR DPR RI teredam hingga nyaris tenggelam.
Digambarkan pula padatnya lalu lintas Jakarta akibat banyaknya kendaraan yang mengakibatkan polusi, serta gedung-gedung pencakar langit yang menggantikan hutan di Jakarta.
Saat ditanya komentarnya mengenai pertunjukan tersebut Fauzi enggan menjawab dan menolak diwawancara para wartawan. (sj)
Badan Geologi Tak Rekomendasikan Bunker Untuk Berlindung
Selasa, 26 Oktober 2010 | 17:43 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Seorang warga membuka pintu utama masuk ke bungker di Pos Pengamatan Merapi di Babadan Kecamatan Dukun Magelang. TEMPO/Anang Zakaria
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Bunker (bangunan tempat berlindung) yang dibangun di beberapa tempat di lereng Merapi tidak direkomendasikan untuk penyelamatan. Alasannya, bunker tersebut hanya kuat menahan awan panas, bukan material lava panas.
Seperti yang terjadi pada erupsi Merapi 2006. Dua orang relawan memilih bersembunyi di bunker Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan Sleman saat sudah tahu Merapi meletus. Tetapi ternyata bunker itu tidak kuat menahan material lava panas. Karena suhu material lava itu mencapai 800 derajat celcius. Akibatnya dua relawan itu tewas mengenaskan. Mereka ditemukan setelah tiga hari pencarian.
“Yang paling aman ya lari, mengungsi sebelum ada erupsi besar, maka masyarakat sekitar Merapi supaya mengikuti instruksi petugas,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi saat ditemui di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Selasa (26/10).
Kecepatan awan panas, kata dia, mencapai 300 kilometer per jam.
Menurut dia, bunker tersebut, hanya untuk perlindungan petugas akhir yang berada di pos pengamatan gunung merapi. Ibaratnya, bunker itu hanya untuk “kapten kapal” yang menyelamatkan diri di saat penumpang sudah diselamatkan semua.
“Ibaratnya, bunker itu dibuat untuk kapten kapal yang penumpangnya sudah diselamatkan semua saat karam,” kata dia.
Minggu, 31 Oktober 2010 | 10:21 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Korban Mentawai. TEMPO/Aditia Noviansyah
TEMPO Interaktif, Padang - Hingga pagi ini korban tewas akibat tsunami di Kepulauan Mentawai yang tercatat di Posko Badan Penaggulangan Bencana Daerah Mentawai di Sikakap 449, sedangkan yang hilang 96 orang, korban luka berat 270, luka ringan 142 dan korban mengungsi 14.983.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kepulauan Mentawai Paulinus Sabelepangulu mengatakan, jumlak korban tersebut adalah data terakhir hingga tadi malam.
Paulinus menambahkan, yang menjadi kendala penanganan korban tsunami di Mentawai adalah distribusi bantuan ke lokasi pengungsian karena buruknya cuaca. “Kapal dan perahu motor tidak bisa mendistribusikan bantuan karena badai, apalagi melewati pantai barat, gelombangnya tinggi, sangat berbahaya, “ kata Paulinus, Minggu (31/10).
"Kami juga mengirimkan bantuan berupa bahan makanan atau sembako Pertamina peduli senilai Rp 40 juta," kata Harun.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) menyatakan, mereka akan menambah minyak tanah di Tuah Bejat, Ibu Kota Mentawai. Bantuan yang diberikan terdiri dari 6 KL premium, 4 KL Solar dan 10 KL minyak tanah. pasokan bantuan kepada korban tsunammi di Mentawai, Sumatra Barat.
"Kami juga mengirimkan bantuan berupa bahan makanan atau sembako Pertamina peduli senilai Rp 40 juta," kata Vice Presiden Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun Harun.
Kemarin, kapal pengangkut bantuan BBM Pertamina berlayar dengan membawa 16 kiloliter (KL) premium, 5 KL solar dan 7 KL minyak tanah. Bantuan ini baru dikirimkan karena pada 29 Oktober karena ada gelombang tinggi di Mentawai
Foke Berang Kerap Ditanya Soal Banjir
"Saya diundang di sini untuk meresmikan acara bukan untuk membicarakan kemacetan."
Sabtu, 30 Oktober 2010, 22:35 WIB
Antique, Dwifantya Aquina
Fauzi Bowo (VivaNews/ Nurcholis Anhari Lubis)
BERITA TERKAIT
* Jakarta Harus Waspada, Katulampa Siaga III
* "Pipi Monyet", Cara Bangkok Bebas Banjir
* Foke: Macet dan Banjir Bukan Hanya di Jakarta
* Demonstran Tuntut Fauzi Bowo Mundur
* Foke Larang Motor Berteduh di Bawah Flyover
VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berang saat kembali ditanya soal pertanggungjawabannya terkait banjir dan kemacetan yang sempat melumpuhkan Ibukota beberapa hari lalu.
Foke, panggilan akrab Fauzi yang mengkampanyekan dirinya sebagai ahli Jakarta ini menolak menjawab pertanyaan dari para pewarta berita.
"Saya diundang di sini untuk meresmikan acara bukan untuk membicarakan kemacetan," ujar Fauzi Bowo kepada wartawan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu 30 Oktober 2010.
Tak hanya itu, suara Fauzi juga sempat meninggi saat kembali ditanya soal penanggulangan dua problem utama Ibukota tersebut. "Sekarang saya tanya, sekarang lagi macet nggak? Sekarang lagi banjir nggak?" ujarnya berulang kali dengan nada tinggi dan tiba-tiba meninggalkan para wartawan.
Yang menarik, dalam pertunjukan perdana Teater Jakarta yang bertema Langkah, Bumi dan Matahari, dalam satu adegan menggambarkan kota Jakarta tenggelam. Gedung MPR DPR RI teredam hingga nyaris tenggelam.
Digambarkan pula padatnya lalu lintas Jakarta akibat banyaknya kendaraan yang mengakibatkan polusi, serta gedung-gedung pencakar langit yang menggantikan hutan di Jakarta.
Saat ditanya komentarnya mengenai pertunjukan tersebut Fauzi enggan menjawab dan menolak diwawancara para wartawan. (sj)
Badan Geologi Tak Rekomendasikan Bunker Untuk Berlindung
Selasa, 26 Oktober 2010 | 17:43 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Seorang warga membuka pintu utama masuk ke bungker di Pos Pengamatan Merapi di Babadan Kecamatan Dukun Magelang. TEMPO/Anang Zakaria
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Bunker (bangunan tempat berlindung) yang dibangun di beberapa tempat di lereng Merapi tidak direkomendasikan untuk penyelamatan. Alasannya, bunker tersebut hanya kuat menahan awan panas, bukan material lava panas.
Seperti yang terjadi pada erupsi Merapi 2006. Dua orang relawan memilih bersembunyi di bunker Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan Sleman saat sudah tahu Merapi meletus. Tetapi ternyata bunker itu tidak kuat menahan material lava panas. Karena suhu material lava itu mencapai 800 derajat celcius. Akibatnya dua relawan itu tewas mengenaskan. Mereka ditemukan setelah tiga hari pencarian.
“Yang paling aman ya lari, mengungsi sebelum ada erupsi besar, maka masyarakat sekitar Merapi supaya mengikuti instruksi petugas,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi saat ditemui di kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Selasa (26/10).
Kecepatan awan panas, kata dia, mencapai 300 kilometer per jam.
Menurut dia, bunker tersebut, hanya untuk perlindungan petugas akhir yang berada di pos pengamatan gunung merapi. Ibaratnya, bunker itu hanya untuk “kapten kapal” yang menyelamatkan diri di saat penumpang sudah diselamatkan semua.
“Ibaratnya, bunker itu dibuat untuk kapten kapal yang penumpangnya sudah diselamatkan semua saat karam,” kata dia.
MBAH MARIJAN DAN GUNUNG MERAPI
Gunung Merapi Meletus, di Mana Mbah Maridjan?
Selasa, 26 Oktober 2010 | 20:23 WIB
Besar Kecil Normal
foto
TEMPO/Puspa Perwitasari
TEMPO Interaktif, Sleman - Gunung Merapi telah meletus namun juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. Sejumlah relawan sempat membujuk Mbah Maridjan untuk turun ke pengungsian sesaat sebelum awan panas muncul. Namun saat awan panas muncul, mereka kehilangan jejak Mbah Maridjan.
”Kami sempat nego dengan si Mbah, tapi tiba-tiba terdengar letusan. Kami lari menyelamatkan diri. Sejak itu kami tidak menemukan si Mbah,” kata salah seorang sumber Tempo yang tidak bersedia disebut namanya saat dihubungi Tempo, Selasa (26/10) malam ini.
Sumber ini menuturkan, para relawan datang ke rumah Mbah Maridjan sebelum wedhus gembel turun. Saat itu para relawan sempat melihat awan panas ke arah barat daya dalam radius sekitar 7 kilometer atau ke arah Magelang. ”Saat itu kami belum lari,” katanya.
Namun usai Maghrib, mereka melihat ada warna merah menyala di puncak Merapi yang mengarah ke selatan. Guguran lava itu tepat mengarah tepat di tempat tinggal Mbah Maridjan, yakni di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Lokasi dusun tersebut berada dalam kawasan rawan bencana III atau 5 kilometer dari puncak Merapi.
”Saat itulah kami lari dan tak lagi melihat si Mbah. Padahal waktu itu sedang negosiasi dengan si Mbah agar mau turun ngungsi,” kata sumber itu.
Beberapa kerabat Mbah Maridjan, menurut sumber itu, sudah turun mengungsi. Namun kerabat lainnya belum terlihat, seperti adik ipar Mbah Maridjan, Udi Sutrisno.
Sementara itu, Kepala Dusun Kinahrego Ramijo belum juga bisa dihubungi. Meski demikian, sumber tersebut belum bersedia memastikan dimana kondisi terakhir Mbah Maridjan. ”Kami akan naik untuk mencari lagi,” kata sumber tersebut.
Nasional
Jawa Timur
Maridjan Sang Penjaga, Setia Sampai ajal
Mbah Maridjan menepati janjinya. "Menjaga Merapi sampai ajal menjemput."
Kamis, 28 Oktober 2010, 08:58 WIB
Ismoko Widjaya
Mbah Maridjan sehari sebelum wafat, 25 Oktober 2010 (Antara/ Regina Safri)
BERITA TERKAIT
* Tugas Pertama Kapolri, ke Mentawai
* Video Mbah Maridjan Meninggal Posisi Sujud
* Mbah Maridjan Dimakamkan di Kaki Merapi
* Wapres Boediono ke Barak Pengungsi Merapi
* Gempa Mentawai dan Merapi Meletus Terkait?
VIVAnews - Jenazah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud di dalam kamarnya. Saat ditemukan, Mbah Maridjan mengenakan batik kuning dan bersujud di atas sajadahnya di dalam kamar.
Hari ini, Kamis 28 Oktober 2010, sekitar pukul 10.00 WIB Mbah Maridjan akan dikebumikan. Tepat di bawah kaki Gunung Merapi. "Dari RS Sardjito berangkat pukul 09.00 WIB," kata kerabat Mbah Maridjan, Agus Wiyarto, Kamis 27 Oktober 2010.
Mbah Maridjan merupakan orang asli kaki Merapi. Lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, 83 tahun lalu. Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi bersujud di tempat kelahirannya.
Mbah Maridjan menepati janjinya. "Menjaga Merapi sampai ajal menjemput," kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso kemarin di gedung DPR. Mbah Maridjan merupakan didaulat menjadi kuncen atau juru kunci 'penjaga' Gunung Merapi sejak 1982.
Jabatan juru kunci bukanlah hal yang baru bagi ayah dengan empat orang anak kelahiran 1927 itu. Pada 1970, atau saat Mbah Maridjan berusia 43 tahun, Keraton Yogyakarta sudah menunjukknya menjadi wakil juru kunci, mendampingi sang ayah. Saat sang ayah wafat, Mbah Maridjan ditunjuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk melanjutkan amanat sebagai juru kunci Merapi.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan tugas utama sebagai juru kunci. Tugasnya, setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari Mbah Maridjan untuk mengungsi.
Bersama Ponirah, istrinya, Mbah Maridjan memiliki empat orang anak. Mbah Anjungan, Raden Ayu Surjuna, Raden Ayu Murjana, dan Raden Mas Kumambang.
Kharisma dan 'kemampuan' Mbah Maridjan menurun kepada anak-anaknya. Salah satunya Mbah Anjungan, yang dipercaya menjadi penasihat Presiden Soekarno sejak 1968-1969. Bahkan pada pada 1974-1987 menjadi Wali Mangkunagara VIII.
Mbah Maridjan mendapat gelar Mas Penewu Suraksohargo atau Sang Penjaga atau Juru Kunci Gunung Merapi. Sejak dijaga Mbah Maridjan, Gunung Merapi sudah lima kali meletus dan 'batuk-batuk'. Yakni di tahun 1994, 1998, 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus, 2006 dan 26 Oktober 2010.
Tidak semua juru kunci setenar Mbah Maridjan. Peristiwa meletusnya Merapi pada 2006 membuat namanya meroket. Mbah Maridjan kukuh tidak turun gunung karena yakin letusan awan panas 'wedhus gembel' Merapi tidak akan menyambarnya. Dengan keberanian dan perkiraan yang tepat itu, Mbah Maridjan terkenal. Bahkan dia menjadi bintang iklan minumen berenergi.
Kini, entah wangsit apa yang didapat Mbah Maridjan hingga dirinya enggan mengungsi turun dari Merapi. Dia memilih beribadah di atas sajadah dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa sampai ajal menjemput. Mbah Maridjan meninggal dunia bersama 29 orang lainnya termasuk redaktur senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. (umi)
• VIVAnews
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#3
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#4
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#5
Adik Ipar dan Murid Mbah Maridjan Luka Bakar
Rabu, 27 Oktober 2010 | 05:43 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Korban letusan gunung Merapi di RS Sarjito Yogyakarta. ANTARA/Regina Safri
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Adik ipar Mbah Maridjan, Udi Sutrisno (50) dan salah seorang cantrik atau murid Mbah Maridjan, Muji (50) ditemukan selamat. Namun keduanya mengalami luka bakar serius dan saat ini tengah dirawat di Gedung Bedah Sentral Terpadu (GBST) Instalasi Luka Bakar RS dr Sardjito sejak Selasa (26/10) malam.
Muji ditemukan di sekitar rumah Mbah Maridjan dan langsung dibawa ke RS Sardjito. Sedangkan Udi yang rumahnya sekitar 20 meter dari rumah juru kunci Mbah Maridjan sempat dilarikan ke RS Panti Nugroho Pakem sebelum akhirnya dirujuk ke RS Sardjito.
“Tapi Mbah Maridjan belum kami temukan,” kata relawan dari Pos Keadilan Peduli Umat, Sholeh usai mengantar salah seorang korban selamat yang mengalami luka bakar ke unit gawat darurat RS dr Sardjito, Selasa (26/10) malam.
Menurut Sholeh, akses jalan menuju ke rumah Mbah Maridjan sulit dijangkau. Lantaran jalan tertutup dengan pohon-pohon sekitarnya yang tumbang disapu awan panas. Sedangkan rumah Mbah Maridjan pun telah roboh.
“Masjid yang ada di dekat rumahnya juga rusak, meski tidak roboh. Jadi kemungkinan ada yang masih hidup kecil,” kata Sholeh.
Ditambahkan relawan dari RS DKT Yogyakarta Kapten Suharna, untuk menjangkau ke lokasi tersebut harus menggunakan sepatu bot. Lantaran abu vulkanik yang menutupi kawasan tersebut masih terasa panas. Bahkan ketebalannya mencapai sekitar 10 sentimeter. Selain itu, masih banyak pohon yang masih merah membara karena terbakar saat tim evakuasi naik ke Kinahrejo.
“Kondisinya masih sangat mengkhawatirkan kalau tiba-tiba awan panas turun. Proses evakuasi akan kami lanjutkan Rabu pagi,” kata Suharna.
Berbeda dengan yang dikemukakan seorang relawan yang tidak bersedia disebut namanya. Saat ditemui di ruang forensik, relawan tersebut mengaku tengah ngobrol dengan Mbah Maridjan bersama relawan-relawan lainnya.
“Ya, guyon saja, ngomongin hal-hal yang dianggap sepele. Sama sekali kami tidak menyinggung Merapi pada si Mbah,” kata relawan itu.
Hingga kemudian sirine berbunyi sekitar satu menit usai adzan Maghrib. Saat itulah, relawan itu turun. Sedangkan Mbah Maridjan bergegas ke masjid untuk menjlankan sholat.
“Saya sempat lihat Mbah Maridjan masuk ke masjid,” kata relawan tersebut.
Sesaat sebelum sirine berbunyi, tiga buah mobil naik ke atas menuju rumah Mbah Maridjan. Saat sirine berbunyi, dua mobil turun dan tinggal satu buah mobil APV.
“Saya yakin sudah tidak ada orang di sana, kecuali Mbah Maridjan dan satu orang pengendara APV yang sama-sama masuk masjid,” kata relawan.
Saat evakuasi dilakukan, tim relawan menemukan sebuah mobil dan dua buah sepeda motor hangus terbakar.
PITO AGUSTIN RUDIANA
Detik-detik Letusan Merapi
Selasa, 26 Oktober 2010 | 23:57 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Gunung Merapi. REUTERS/Beawiharta
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta merilis kronologi letusan Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10/2010). BPPTK mencatat sejak pukul 17.02, gunung Merapi mulai mengeluarkan awan panas. Arah luncuran awan panas ke sektor barat-barat daya dan sektor selatan tenggara.
Terjadinya luncuran awan panas beberapa kali terekam pada menit-menit berikutnya
dengan durasi waktu antara 2 menit hingga paling lama terjadi selama 33 menit. Pada pukul 18.54 aktifitas awan panas mereda.
"Indikasinya sudah sangat jelas, Merapi menepati janjinya, itulah sebabnya saya meminta petugas di pos pengamatan untuk mundur. Kami sampaikan informasi ke Satlak Penanggulangan Bencana masing-masing kabupaten segera membunyikan sirine tanda bahaya," kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian Sumber Daya Mineral di Kantor BPPTK, Selasa (26/10).
Pemantauan secara visual melalui kamera CCTV yang terpasang di bukit Plawangan Kaliurang, tidak bisa dilakukan karena cuaca buruk dan terhalang kabut tebal. Kondisi malam hari yang gelap gulita itu membuat pengamatan tak bisa optimal dilakukan dengan bantuan kamera pemantau. Energi letusan Merapi kali ini cukup besar jika dibandingkan dengan kejadian serupa di tahun sebelumnya seperti tahun 2006 lalu.
Petugas di pos pengamatan melaporkan mendengar ada suara gemuruh pada pukul 18.45 dari Pos Jrakah dan Pos Selo dan terjadi suara dentuman tiga kali. Bahkan dilaporkan dari pos pengamatan Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 kilometer dari puncak.
”Masa krisis Merapi masih belum lewat, kami terus melakukan pemantauan dari alat seismik masih bisa memantau,” kata dia.
Mengenai penyelamatan warga yang diperkirakan terjebak saat terjadi luncuran awan panas, secara pribadi Surono merasa sedih bahkan dirinya sempat menangis karena sudah memberikan peringatan sebelumnya.
"BPPTK sudah merekomendasikan daerah mana saja yang aman, bukan polisi yang harus mengawasi. Masa krisis belum lewat, radius awan panas belum terpantau karena cuaca tak memungkinkan pemantauan visual,” kata dia.
Besar Kecil Normal
*
* Bagikan83
* 0
Awan Panas Bergerak ke Selatan dan Barat Daya
Selasa, 26 Oktober 2010 | 19:34 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Gunung Merapi. TEMPO/Arif Wibowo
TEMPO Interaktif, Sleman: Petugas pemantau Gunung Merapi kesulitan untuk mengamati penyebaran wedus gembel (awan panas) karena tertutup kabut tebal. Namun dari arah pergerakan angin, diperkirakan awan bergerak ke arah selatan (wilayah Cangkringan Kabupaten Sleman) dan barat daya (wilayah Dukun Kabupaten Magelang).
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, awan panas terlihat pertama kali sekitar pukul 17.02. Kemudian secara berturut-turut muncul lagi pada pukul 17.19, 17.24, dan 17.34. “Sirine alarm tanda bahaya berbunyi pada pukul 17.57,” kata Surono lewat telepon.
Hingga saat ini Merapai masih mengeluarkan awan panas. “Namun tidak bisa dipantau karena terhalang kabut,” kata Surono. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) telah memerintahkan semua petugas pemantau untuk meninggalkan posko dan segera turun gunung. Jika mereka bertahan di sana dikhawatirkan terkena awan panas.
Pada pukul 18.00 terdengar tiga kali letusan dari puncak Merapi. “Gejala ini menunjukan Merapi telah explosif,” kata Surono.
Hingga berita ini dilaporkan, belum diketahui korban yang jatuh akibat letusan Merapi itu. Menurut Heru Setyaka, warga Dukun, Magelang, di letusan Merapi itu menimbulkan hujan pasir dan kerikil di tempatnya. Jarak antara Dukun dengan puncak Merapai sekitar 12 km.
Selasa, 26 Oktober 2010 | 20:23 WIB
Besar Kecil Normal
foto
TEMPO/Puspa Perwitasari
TEMPO Interaktif, Sleman - Gunung Merapi telah meletus namun juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. Sejumlah relawan sempat membujuk Mbah Maridjan untuk turun ke pengungsian sesaat sebelum awan panas muncul. Namun saat awan panas muncul, mereka kehilangan jejak Mbah Maridjan.
”Kami sempat nego dengan si Mbah, tapi tiba-tiba terdengar letusan. Kami lari menyelamatkan diri. Sejak itu kami tidak menemukan si Mbah,” kata salah seorang sumber Tempo yang tidak bersedia disebut namanya saat dihubungi Tempo, Selasa (26/10) malam ini.
Sumber ini menuturkan, para relawan datang ke rumah Mbah Maridjan sebelum wedhus gembel turun. Saat itu para relawan sempat melihat awan panas ke arah barat daya dalam radius sekitar 7 kilometer atau ke arah Magelang. ”Saat itu kami belum lari,” katanya.
Namun usai Maghrib, mereka melihat ada warna merah menyala di puncak Merapi yang mengarah ke selatan. Guguran lava itu tepat mengarah tepat di tempat tinggal Mbah Maridjan, yakni di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Lokasi dusun tersebut berada dalam kawasan rawan bencana III atau 5 kilometer dari puncak Merapi.
”Saat itulah kami lari dan tak lagi melihat si Mbah. Padahal waktu itu sedang negosiasi dengan si Mbah agar mau turun ngungsi,” kata sumber itu.
Beberapa kerabat Mbah Maridjan, menurut sumber itu, sudah turun mengungsi. Namun kerabat lainnya belum terlihat, seperti adik ipar Mbah Maridjan, Udi Sutrisno.
Sementara itu, Kepala Dusun Kinahrego Ramijo belum juga bisa dihubungi. Meski demikian, sumber tersebut belum bersedia memastikan dimana kondisi terakhir Mbah Maridjan. ”Kami akan naik untuk mencari lagi,” kata sumber tersebut.
Nasional
Jawa Timur
Maridjan Sang Penjaga, Setia Sampai ajal
Mbah Maridjan menepati janjinya. "Menjaga Merapi sampai ajal menjemput."
Kamis, 28 Oktober 2010, 08:58 WIB
Ismoko Widjaya
Mbah Maridjan sehari sebelum wafat, 25 Oktober 2010 (Antara/ Regina Safri)
BERITA TERKAIT
* Tugas Pertama Kapolri, ke Mentawai
* Video Mbah Maridjan Meninggal Posisi Sujud
* Mbah Maridjan Dimakamkan di Kaki Merapi
* Wapres Boediono ke Barak Pengungsi Merapi
* Gempa Mentawai dan Merapi Meletus Terkait?
VIVAnews - Jenazah Mbah Maridjan ditemukan dalam posisi sujud di dalam kamarnya. Saat ditemukan, Mbah Maridjan mengenakan batik kuning dan bersujud di atas sajadahnya di dalam kamar.
Hari ini, Kamis 28 Oktober 2010, sekitar pukul 10.00 WIB Mbah Maridjan akan dikebumikan. Tepat di bawah kaki Gunung Merapi. "Dari RS Sardjito berangkat pukul 09.00 WIB," kata kerabat Mbah Maridjan, Agus Wiyarto, Kamis 27 Oktober 2010.
Mbah Maridjan merupakan orang asli kaki Merapi. Lahir di Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, 83 tahun lalu. Mbah Maridjan ditemukan tewas dalam posisi bersujud di tempat kelahirannya.
Mbah Maridjan menepati janjinya. "Menjaga Merapi sampai ajal menjemput," kata Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso kemarin di gedung DPR. Mbah Maridjan merupakan didaulat menjadi kuncen atau juru kunci 'penjaga' Gunung Merapi sejak 1982.
Jabatan juru kunci bukanlah hal yang baru bagi ayah dengan empat orang anak kelahiran 1927 itu. Pada 1970, atau saat Mbah Maridjan berusia 43 tahun, Keraton Yogyakarta sudah menunjukknya menjadi wakil juru kunci, mendampingi sang ayah. Saat sang ayah wafat, Mbah Maridjan ditunjuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk melanjutkan amanat sebagai juru kunci Merapi.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan tugas utama sebagai juru kunci. Tugasnya, setiap Gunung Merapi akan meletus, warga setempat selalu menunggu komando dari Mbah Maridjan untuk mengungsi.
Bersama Ponirah, istrinya, Mbah Maridjan memiliki empat orang anak. Mbah Anjungan, Raden Ayu Surjuna, Raden Ayu Murjana, dan Raden Mas Kumambang.
Kharisma dan 'kemampuan' Mbah Maridjan menurun kepada anak-anaknya. Salah satunya Mbah Anjungan, yang dipercaya menjadi penasihat Presiden Soekarno sejak 1968-1969. Bahkan pada pada 1974-1987 menjadi Wali Mangkunagara VIII.
Mbah Maridjan mendapat gelar Mas Penewu Suraksohargo atau Sang Penjaga atau Juru Kunci Gunung Merapi. Sejak dijaga Mbah Maridjan, Gunung Merapi sudah lima kali meletus dan 'batuk-batuk'. Yakni di tahun 1994, 1998, 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus, 2006 dan 26 Oktober 2010.
Tidak semua juru kunci setenar Mbah Maridjan. Peristiwa meletusnya Merapi pada 2006 membuat namanya meroket. Mbah Maridjan kukuh tidak turun gunung karena yakin letusan awan panas 'wedhus gembel' Merapi tidak akan menyambarnya. Dengan keberanian dan perkiraan yang tepat itu, Mbah Maridjan terkenal. Bahkan dia menjadi bintang iklan minumen berenergi.
Kini, entah wangsit apa yang didapat Mbah Maridjan hingga dirinya enggan mengungsi turun dari Merapi. Dia memilih beribadah di atas sajadah dan bersujud kepada Yang Maha Kuasa sampai ajal menjemput. Mbah Maridjan meninggal dunia bersama 29 orang lainnya termasuk redaktur senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. (umi)
• VIVAnews
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#3
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#4
http://foto.vivanews.com/read/2551-pasca-letusan--kondisi-merapi-mereda#5
Adik Ipar dan Murid Mbah Maridjan Luka Bakar
Rabu, 27 Oktober 2010 | 05:43 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Korban letusan gunung Merapi di RS Sarjito Yogyakarta. ANTARA/Regina Safri
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Adik ipar Mbah Maridjan, Udi Sutrisno (50) dan salah seorang cantrik atau murid Mbah Maridjan, Muji (50) ditemukan selamat. Namun keduanya mengalami luka bakar serius dan saat ini tengah dirawat di Gedung Bedah Sentral Terpadu (GBST) Instalasi Luka Bakar RS dr Sardjito sejak Selasa (26/10) malam.
Muji ditemukan di sekitar rumah Mbah Maridjan dan langsung dibawa ke RS Sardjito. Sedangkan Udi yang rumahnya sekitar 20 meter dari rumah juru kunci Mbah Maridjan sempat dilarikan ke RS Panti Nugroho Pakem sebelum akhirnya dirujuk ke RS Sardjito.
“Tapi Mbah Maridjan belum kami temukan,” kata relawan dari Pos Keadilan Peduli Umat, Sholeh usai mengantar salah seorang korban selamat yang mengalami luka bakar ke unit gawat darurat RS dr Sardjito, Selasa (26/10) malam.
Menurut Sholeh, akses jalan menuju ke rumah Mbah Maridjan sulit dijangkau. Lantaran jalan tertutup dengan pohon-pohon sekitarnya yang tumbang disapu awan panas. Sedangkan rumah Mbah Maridjan pun telah roboh.
“Masjid yang ada di dekat rumahnya juga rusak, meski tidak roboh. Jadi kemungkinan ada yang masih hidup kecil,” kata Sholeh.
Ditambahkan relawan dari RS DKT Yogyakarta Kapten Suharna, untuk menjangkau ke lokasi tersebut harus menggunakan sepatu bot. Lantaran abu vulkanik yang menutupi kawasan tersebut masih terasa panas. Bahkan ketebalannya mencapai sekitar 10 sentimeter. Selain itu, masih banyak pohon yang masih merah membara karena terbakar saat tim evakuasi naik ke Kinahrejo.
“Kondisinya masih sangat mengkhawatirkan kalau tiba-tiba awan panas turun. Proses evakuasi akan kami lanjutkan Rabu pagi,” kata Suharna.
Berbeda dengan yang dikemukakan seorang relawan yang tidak bersedia disebut namanya. Saat ditemui di ruang forensik, relawan tersebut mengaku tengah ngobrol dengan Mbah Maridjan bersama relawan-relawan lainnya.
“Ya, guyon saja, ngomongin hal-hal yang dianggap sepele. Sama sekali kami tidak menyinggung Merapi pada si Mbah,” kata relawan itu.
Hingga kemudian sirine berbunyi sekitar satu menit usai adzan Maghrib. Saat itulah, relawan itu turun. Sedangkan Mbah Maridjan bergegas ke masjid untuk menjlankan sholat.
“Saya sempat lihat Mbah Maridjan masuk ke masjid,” kata relawan tersebut.
Sesaat sebelum sirine berbunyi, tiga buah mobil naik ke atas menuju rumah Mbah Maridjan. Saat sirine berbunyi, dua mobil turun dan tinggal satu buah mobil APV.
“Saya yakin sudah tidak ada orang di sana, kecuali Mbah Maridjan dan satu orang pengendara APV yang sama-sama masuk masjid,” kata relawan.
Saat evakuasi dilakukan, tim relawan menemukan sebuah mobil dan dua buah sepeda motor hangus terbakar.
PITO AGUSTIN RUDIANA
Detik-detik Letusan Merapi
Selasa, 26 Oktober 2010 | 23:57 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Gunung Merapi. REUTERS/Beawiharta
TEMPO Interaktif, Yogyakarta -Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta merilis kronologi letusan Gunung Merapi yang terjadi Selasa (26/10/2010). BPPTK mencatat sejak pukul 17.02, gunung Merapi mulai mengeluarkan awan panas. Arah luncuran awan panas ke sektor barat-barat daya dan sektor selatan tenggara.
Terjadinya luncuran awan panas beberapa kali terekam pada menit-menit berikutnya
dengan durasi waktu antara 2 menit hingga paling lama terjadi selama 33 menit. Pada pukul 18.54 aktifitas awan panas mereda.
"Indikasinya sudah sangat jelas, Merapi menepati janjinya, itulah sebabnya saya meminta petugas di pos pengamatan untuk mundur. Kami sampaikan informasi ke Satlak Penanggulangan Bencana masing-masing kabupaten segera membunyikan sirine tanda bahaya," kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi, Kementerian Sumber Daya Mineral di Kantor BPPTK, Selasa (26/10).
Pemantauan secara visual melalui kamera CCTV yang terpasang di bukit Plawangan Kaliurang, tidak bisa dilakukan karena cuaca buruk dan terhalang kabut tebal. Kondisi malam hari yang gelap gulita itu membuat pengamatan tak bisa optimal dilakukan dengan bantuan kamera pemantau. Energi letusan Merapi kali ini cukup besar jika dibandingkan dengan kejadian serupa di tahun sebelumnya seperti tahun 2006 lalu.
Petugas di pos pengamatan melaporkan mendengar ada suara gemuruh pada pukul 18.45 dari Pos Jrakah dan Pos Selo dan terjadi suara dentuman tiga kali. Bahkan dilaporkan dari pos pengamatan Selo terlihat nyala api bersama kolom asap membubung ke atas setinggi 1,5 kilometer dari puncak.
”Masa krisis Merapi masih belum lewat, kami terus melakukan pemantauan dari alat seismik masih bisa memantau,” kata dia.
Mengenai penyelamatan warga yang diperkirakan terjebak saat terjadi luncuran awan panas, secara pribadi Surono merasa sedih bahkan dirinya sempat menangis karena sudah memberikan peringatan sebelumnya.
"BPPTK sudah merekomendasikan daerah mana saja yang aman, bukan polisi yang harus mengawasi. Masa krisis belum lewat, radius awan panas belum terpantau karena cuaca tak memungkinkan pemantauan visual,” kata dia.
Besar Kecil Normal
*
* Bagikan83
* 0
Awan Panas Bergerak ke Selatan dan Barat Daya
Selasa, 26 Oktober 2010 | 19:34 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Gunung Merapi. TEMPO/Arif Wibowo
TEMPO Interaktif, Sleman: Petugas pemantau Gunung Merapi kesulitan untuk mengamati penyebaran wedus gembel (awan panas) karena tertutup kabut tebal. Namun dari arah pergerakan angin, diperkirakan awan bergerak ke arah selatan (wilayah Cangkringan Kabupaten Sleman) dan barat daya (wilayah Dukun Kabupaten Magelang).
Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono, awan panas terlihat pertama kali sekitar pukul 17.02. Kemudian secara berturut-turut muncul lagi pada pukul 17.19, 17.24, dan 17.34. “Sirine alarm tanda bahaya berbunyi pada pukul 17.57,” kata Surono lewat telepon.
Hingga saat ini Merapai masih mengeluarkan awan panas. “Namun tidak bisa dipantau karena terhalang kabut,” kata Surono. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) telah memerintahkan semua petugas pemantau untuk meninggalkan posko dan segera turun gunung. Jika mereka bertahan di sana dikhawatirkan terkena awan panas.
Pada pukul 18.00 terdengar tiga kali letusan dari puncak Merapi. “Gejala ini menunjukan Merapi telah explosif,” kata Surono.
Hingga berita ini dilaporkan, belum diketahui korban yang jatuh akibat letusan Merapi itu. Menurut Heru Setyaka, warga Dukun, Magelang, di letusan Merapi itu menimbulkan hujan pasir dan kerikil di tempatnya. Jarak antara Dukun dengan puncak Merapai sekitar 12 km.
PEMBENTUKAN KARAKTER BUILDING
BERFIKIR SEJENAK DEMI MASA DEPAN
May 12, 2007
MANAJEMEN DIRI:UPAYA MEMBANGUN KARAKTER (CHARACTER BUILDING) MASISIR
Filed under: Arsif PPMI CAIRO — supraptoe @ 3:31 pm
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS. Ar-Ra’ad [13]:11).
Iftitâh
Bismillâh. Sejak 2004, seperti air hujan, mahasiswa baru (MABA) dari Indonesia datang membanjiri lembah Sungai Nil. Jumlahnya mencapai 1054. Tahun berikutnya pun demikian. Peningkatan drastis pada dua tahun (2004-2005) itu, satu sisi membahagiakan, karena jumlah kader ummat dan bangsa yang akan mengeluarkan Indonesia dari krisis multidimensi semakin banyak. Namun di sisi lain menyedihkan, setelah natijah imtihân turun, banyak yang rasib. Muncullah sebuah kesimpulan, bahwa secara kuantitas Masisir besar, namun secara kualitas kecil. Ini pula yang membuat Departemen Agama (Depag) RI, tahun ini (2006), mengeluarkan kebijakan untuk menyeleksi, lewat testing di perguruan tinggi Islam di beberapa propinsi, terhadap semua CAMABA, baiknya jalur Depag maupun “Terjun Bebas” dan mensyaratkan adanya “uang bekal” (living cost) sebesar US$. 2500,- (25 juta rupiah).
Terlepas dari polemik dan pro-kontra Masisir terhadap kebijakan Dapag yang dianggap “sepihak” dan “sangat mendadak” tersebut, yang jelas peningkatan jumlah MABA perlu kita respon dengan proaktif dan bijaksana. Sebab, persoalannya, tidak hanya masalah akademis saja, tapi masalah patologi sosial —penyakit masyarakat (baca: Masisir)— yang muncul akibat “penumpukan” emigran; ketidakseimbangan antara kedatangan MABA dengan kepulangan mahasiswa lama.
Oleh sebab itu, dalam tulisan ini, saya ingin mengajak diskusi Anda dan para MABA yang dianggap sebagai “persoalan” (problem) agar berubah menjadi solusi dari masalah (problem solver). Ada empat pembahasan yang akan kita diskusikan di sini, (1) fenomena kehidupan Masisir sebagai upaya identifikasi sekaligus mencari akar masalah Masisir; (2) Manajemen Diri sebagai tawaran solusi dari persoalan Masisir; (3) Tujuh Prinsip dan Kiat Praktis Manajemen Diri sebagai bentuk konkrit dari Manajemen Diri itu; dan terakhir, (4) Manajemen Waktu sebagai pelengkap untuk menjelaskan salah satu prinsip dari 7 prinsip yang saya rumuskan.
Fenomena Kehidupan Masisir
Ada sebuah fenomena kehidupan Masisir, yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir di berbagai kalangan, yaitu “pembusukan karakter”. Maksudnya adalah menggunakan kebanyakan waktu —minjam istilah Stephen R. Covey— “untuk hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting”, serta tidak ada hubungannya dengan Mahasiswa/i Indonesia Mesir (selanjutnya dibaca: Masisir) sebagai civitas akademica.
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu kita sepakati bersama, bahwa Masisir yang kita maksud adalah Masisir berperan sebagai civitas akademika, bukan peran-peran yang lainnya. Mengapa demikian? Sebab,di lapangan, ada yang mendaftarkan diri di lembaga pendidikan di Mesir —baik Al-Azhar maupun yang lainnya— dengan tujuan untuk mendapatkan iqâmah (visa). Betul, status mereka adalah mahasiswa-mahasiswi, tapi peran mereka tidak hanya demikian. Ada yang berperan sebagai suami bagi isterinya yang sedang kuliah. Selama di Mesir, ia hanya menunggu tamat isterinya yang sedang kuliah di Mesir dan mencari nafkah untuk keluarganya. Sebaliknya, ada yang berperan sebagai isteri. Ia hanya mendampingi suaminya menyelesaikan studi.
Mereka tidak kuliah. Mereka hanya mengikuti imtihân (ujian) agar nama mereka tidak tercoret dari lembaga pendidikan itu. Ada juga yang sama sekali tidak mengikuti ujian, karena orang yang ia tunggu tidak sampai tiga tahun. Artinya, kalau pun ia tidak ikut imtihân, maka ia tidak akan mafshûl (dropt out). Di luar peran itu, masih banyak peran lainnya, misalnya karena ia menjadi TKI atau TKW, ingin talaqqi dengan seorang syaikh, dan seterusnya. Jadi, Masisir —dalam tulisan ini— adalah para mahasiswa-mahasiswi yang tinggal di Mesir dengan tujuan untuk menyelesai jenjang pendidikan kesarjanaan (strata 1 sampai strata 3) pada lembaga pendidikan —Al-Azhar atau yang lainnya— di Mesir. Dengan definisi ini meskipun mereka memiliki peran lain —sebagai suami, isteri, aktivis, businessman, dan lain-lain— kalau tujuan utama mereka memperoleh gelar kesarjanaan, inilah yang kita sebut Masisir sebagai civitas akademika.
Sebagai civitas akademika, seharusnya yang terbangun di Masisir adalah budaya ilmiah. Ini dapat terukur dari tiga hal, yaitu (1) budaya membaca —menela’ah; mengkaji; meneliti— karya-karya ilmiah; (2) budaya menulis karya tulis ilmiah, baik itu buku, jurnal, majalah, buletin, maupun media tulisan ilmiah lainnya; (3) budaya diskusi; dan (4) pola pikir, mental, serta perbuatan berdasarkan ilmu. Namun, realitasnya adalah budaya membaca sangat rendah, budaya menulis sangat lemah; dan budaya diskusi sangat susah. Indikator dari keempat hal tersebut dapat dilihat dari: (1) Masisir yang aktif di kelompok kajian (Studi Club) atau Senat Fakultatif, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang aktif di organisasi atau komunitas lainnya; (2) yang sering muncul dalam acara-acara Masisir sebagai pembicara dan dalam media massa Masisir sebagai penulis hanya berputar kepada beberapa orang saja; (3) setiap ada lomba Karya Tulis Ilmiah, pesertanya sangat sedikit; (4) buku; jurnal; dan karya ilmiah Masisir masih sangat minim; dan (5) dalam intraksi sosial dan menghadapi persoalan belum mencerminkan sebagai ilmuan.
Lantas, jika waktu Masisir tidak banyak terkuras untuk membangun budaya ilmiah, maka terpakai untuk apa? Wallahu ‘alam. Menurut pengamatan saya, waktu mereka banyak terbuang —meminjam perkataan Stephen R. Covey— untuk hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting. Misalnya, bergadang malam suntuk ketika musim panas; tidur seharian di musim dingin; membaca Kho Ping Kho berseri-seri; menonton TV atau film “Korea” belasan episode, bahkan film forno; main beragam “game” atau Play Station (PS) tak mengenal waktu, bahkan ada perlombaannya; main gaple sampai Shubuh; chatting, searching, e-mail-email, atau “main internet” tak ada tujuan yang jelas, bahkan ada yang sering meninggalkan sholat lima waktu, dan seterusnya. Inilah contoh pembusukan karakter secara individu —bisa dilakukan sendirian, dalam istilah Al-Quran, perbuatan munkar (al-munkar).
Ada lagi pembusukan karakter secara sosial —tidak bisa dilakukan sendirian, minimal harus ada dua orang, dalam Al-Quran disebut perbuatan keji (al-fahsya’). Tanpa menafikan betapa banyaknya Masisir yang baik dan komitmen menjaga ‘iffah (kehormatan diri), namun tidak bisa kita pungkiri juga, dari sekian banyak Masisir itu, meskipun hampir 100% kuliah di Al-Azhar —yang nota benenya mempelajari Islam— mereka melakukan kehidupan yang tidak Islami. Misalnya, khalwah (berdua-duaan di tempat sepi) dan ikhtilâth (percampuran tanpa uzur syar’i, pacaran jama’i dan pegang-pegang tangan). Sebagian memahami pacaran itu suatu kemestian sebelum nikah, bahkan mencampuradukan dengan al-haq, istilah mereka “pacaran Islami”. Akhirnya, kebablasan. Mereka sering jalan berduaan, nangkring di sûq sayyarât, ngobrol di telpon berjam-jam, SMS-an dan chatting tak kenal waktu, berduaan dalam saqoh, bahkan rihlah berduaan ke objek wisata Mesir. Kondisi inilah yang melahirkan Tim Pemerhati Intraksi Masir (TPIM) yang mengundang pro-kontra Masisir.
Bukan satu atau dua kali, saya menemukan faktanya. Betapa sering Masisir yang mengadu, karena miris melihat temannya sudah tidak lagi mengindahkan norma-norma Islam dalam berintraksi dengan lawan jenis. Bahkan, saya masih ingat, di bulan suci Ramadlan tahun lalu, tepatnya hari Ahad, 9 Oktober 2005, tiba-tiba, telpon di rumah saya berdering. Saya dekatkan gagang telpon ke telinga. Di ujung sana, terdengar suara akhwat: “Betul ini rumah Udo Yamin? Boleh aku bicara dengannya?” Saya membetulkan bahwa saya adalah Udo Yamin. Akhwat itu ingin minta nasehat saya, tapi ia tidak mau memperkenalkan siapa dirinya. Ia mengajukan empat pertanyaan: (1). Bagaimana pandangan Udo terhadap akhwat yang suka main ke rumah laki-laki sendirian? (2). Apa yang Udo lakukan, bila Udo serumah dengan laki-laki yang didatangi akhwat itu? (3) Bagaimana supaya adik-adik kelasnya yang serumah tidak mengikuti kebiasaan jelek akhwat itu? (4) Bagaimana solusi dari semua itu? Saya, tidak akan memaparkan jawaban saya di sini, sebab bukan tempatnya. Yang jelas, saat saya menjawab empat pertanyaan itu, saya dengar akhwat itu menangis. Hati saya ikut tercabik-cabik. “Oooi, napa Masisir kok jadi gini???” batin saya berteriak. Kisah nyata ini saya ceritakan, sekali lagi, untuk menguatkan bahwa apa yang saya sampaikan kepada Anda berdasarkan data dan fakta. Bukan fiktif, apalagi fitnah. Na’ûdzubillâh min dzâlik!
Manajemen Diri adalah Solusi
Tentu saja, bagi Anda sebagai mahasiswa baru (MABA), mungkin fenomena atau realitas di atas, membuat Anda terkejut dan kecewa. Hanya saja, jangan berlarut-larut dalam rasa kecewa itu; mulailah hidup bermakna! Sebab, seburuk apapun situasi dan kondisi di luar sana, apabila Anda respon secara proaktif, maka akan memberikan manfa’at. Bahkan, dengan fenomena di atas, seharusnya membangkitkan nurani Anda untuk merubahnya. Akan tetapi, sebelum merubah Masisir, sebuah keniscayaan Anda —termasuk saya, harus terlebih dahulu merubah diri. Suatu hal yang mustahil Masisir akan berubah, apabila “anfûs” Masisir tidak berubah. Allah Swt pun tidak akan merubahnya. Sebaliknya, manakala kita mulai dari diri kita sendiri (baca lagi firman Alllah diawal tulisan ini), maka Allah Swt. akan membantu kita. Untuk merubah diri itu, kita butuh alat yang kita sebut dengan “manajemen diri”.
Apa itu manajemen diri? Secara sederhana, manajemen —merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2001)— memiliki dua arti, yaitu; (1) penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran; dan (2) pimpinan yang bertanggungjawab atas jalannnya perusahaan dan organisasi. Dalam kajian kita saat ini, arti pertama yang relevan dan perlu kita eksplorasi lebih lanjut.
Selanjutnya, apa arti “diri” atau “saya”? Apakah yang kita sebut “diri” itu adalah akumulatif dari pikiran kita, seperti yang dikatakan David J. Schwarz bahwa “Kita adalah apa yang kita pikirkan tentang diri kita”, atau jargon yang diucapkan oleh Rene Descartes, “Saya berpikir, maka saya ada”? Apakah diri itu adalah apa yang kita rasakan, seperti yang dinyatakan Andre Gide, “Saya merasa, maka saya ada”? Apakah diri itu adalah perbuatan; tindakan; kebiasaan kita, seperti ucapan Albert Camus, “Saya memberontak, maka itulah saya”, atau pernyataan Aristoteles, “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang.” Atau, ungkapan Nurcholis Madjid, “Aku berbuat, maka aku ada”? Apakah diri itu gabungan dari pikiran dan perasaan kita, sebagaimana dalam konsep “ego” Muhammad Iqbal, bahwa ego (diri) adalah suatu kesatuan perasaan-perasaan —mental— kehidupan personal dan merupakan bagian dari sistim pemikiran. Dan, apakah diri itu adalah gabungan dari semua itu? Wallâhu a’lâmu.
Kata “diri” (anfûs) —jamak dari nafsun— dalam Al-Quran banyak maknanya, diantaranya: rûh (nyawa), dhamîr (hati nurani), jinsun (jenis), dan syahshiyah (pribadi) atau “totalitas manusia” dimana terpadu jiwa-raga manusia. Nah, makna yang terakhirlah yang kita maksud dengan “diri” itu. Yang kita sebut diri, pribadi, individu, adalah totalitas manusia sebagai perpaduan dari jasad dan ruhani, fisik yang bisa kita lihat dan sesuatu yang tak terlihat yang menggerakan fisik (hati; pikiran; jiwa). Diri adalah totalitas dari pemikiran, keinginan, dan gerakan kita dalam ruang dan waktu. Dengan kata lain, perpaduan antara intelektual, emosional, spiritual, dan fisik.
Berangkat dari makna dua kata —“manajemen” dan “diri”— di atas, maka manajemen diri —yang saya maksud— adalah sebuah proses merubah “totalitas diri” —intelektual, emosional, spiritual, dan fisik— kita agar apa yang kita inginkan (sasaran) tercapai.
Tujuh Prinsip dan Kiat Praktis Manajemen Diri
Dalam kitab At-Tafsîr al-Munîr fî al-’Aqîdah wa as-Syarî’ah wa al-Manhaj (Darul Fikri, 1998), Al-Ustadz Dr. Wahbah az-Zuhaily meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas: “Al Fatihah adalah inti dari Al Quran. Dan basmalah —bismillâhirrahmânirrahîm— adalah inti dari surat Al-Fatihah!”
Tentu saja kesimpulan sahabat nabi yang mendapat gelar dari Khalid Muhammad Khalid —penulis Rijâlu Haula Rasûl (Darul Muqatham, 1994)— sebagai “Kiai Umat” adalah benar. Apalagi, sejak kecil beliau sering bersama rasulullah Saw. dan beberapakali beliau menepuk-nepuk punggungnya sambil berdo’a: “Ya Allah, berikanlah ilmu agama yang mendalam dan ajarakan kepadanya ta’wil (Al-Quran)!”
Dari dua belas nama surat Al-Fatihah —Fâtihah Al-Kitâb, Ummu Al-Kitâb, Ummu Al-Quran, Al-Qurân Al-‘Adhîm, As-Sab’u Al-Matsâni, Ash-Shalâh, Ar-Ruqiyah, Al-Asâs, Asy-Syifa’, Al-Kâfiyah, Al-Wâfiyah, dan Al-Hamdu— yang disepakati oleh ulama, ada tiga nama yang menguatkan kesimpulan Ibnu Abbas tersebut, yaitu Fâtihah Al-Kitâb, Ummu Al-Kitâb dan Ummu Al-Quran. Iyya, Al-Fatihah memang sebagai pembuka dan induk dari Al-Quran.
Dengan demikian, jika surat Al-Fatihah inti Al-Quran dan Al-Quran adalah sebagai prinsip hidup kita, maka sudah barang tentu dalam surat Al-Fatihah ada prinsip hidup, termasuk prinsip-prinsip untuk manajemen diri. Tinggallah kemauan kita, apakah mau mencari prinsip itu atau tidak? Bukankah dalam ‘ulûmi al-Qurân (ilmu-ilmu Al-Quran), kita telah mempelajari tentang manthûq (arti tersurat) dan mafhûm (arti tersirat)? Lantas, apa arti tersirat dalam surat Al-Fatihah?
Setiap hari kita minimal membaca surat Al-Fatihah sebanyak 17 kali sehari-semalam dalam sholat. Tapi, pernahkah kita memikirkan makna —baik tersurat maupun tersirat— yang terkandung di dalamnya? Oke, mari kita renungkan bersama makna yang tersimpan dalam surat Al-Fatihah dan kita kaitkan dengan pembahasan kita saat ini.
Prinsip 1: Awali Dengan Basmalah
“Sesungguhnya (hasil) setiap amal perbuatan”, sabda nabi Muhammad Saw. yang diwartakan oleh Imam Bukhari, “tergantung dengan niat.” Begitu pula dengan buah yang akan kita petik dari menajemen diri, itu sangat tergantung pada benih yang kita tabur. Dan benih itu bernama niat.
Nah, apakah niat kita ketika hendak melaksanakan manajemen diri? Apakah hanya sebatas ingin meraih pujian dari ortu, adik-kakak, teman, atau dari yang lainnya? Apakah karena merasa iri dengan prestasi dan apa yang orang lain raih? Apakah hanya sekedar ingin mendapatkan pekerjaan? Apakah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. dan untuk mencari ridla-Nya?
Ayat pertama —Bismillâhirrahmânirrahîm (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang)— dari surat Al-Fatihah ini, mengajarkan kepada kita, apapun yang kita lakukan harus kita niatkan atas nama Allah; karena-Nya; dan untuk-Nya semata. Semakin ikhlas niat kita, maka semakin bermakna aktivitas kita. Sebaliknya, semakin jauh kita dari-Nya, maka apa yang kita lakukan akan kehilangan makna. Di sinilah, perbedaan antara manajemen diri Islami dengan konsep manajemen diri Barat. Manajemen diri Islami berpusat kepada Allah Swt. (Allah-sentris), sedang konsep manajemen diri lain berpusat kepada manusia (antroposentris).
Langkah praktis dari prinsip 1 ini adalah: Carilah waktu dan tempat yang kondusif untuk melakukan “Majlis Iman” seperti yang sering dilakukan oleh sahabat nabi —Ibnu Rawahah—, yaitu merenungi diri sejenak. Atau, minjam istilah Kang Hernowo; dalam bukunya Self Digesting (MLC, 2004)— melaksanakan Komunikasi-Internal Diri, yaitu menyingkirkan seluruh wujud di luar diri dan kemudian, secara aktif, bertanya tentang keberadaan diri.
Nah, yang kita tanyakan kepada batin kita kali ini adalah niat kita: Apa tujuan saya melakukan manajemen diri? Dengarkan semua jawaban yang muncul dalam hati nurani. Lalu, tutup dengan sebuah pertanyaan: “Apakah saya melakukan hal ini karena Allah?” Bila nurani Anda mengatakan “YA” dan tidak ada keraguan sama sekali, maka mulailah melangkah dan ucapkan “Bismillâhirrahmanirrahîm”. Sebaliknya, jika jawabannya: “TIDAK”, atau masih ada keraguan, maka ulang perenungan ini dari awal, hingga mendengarkan nuranimu berkata: “YA!”.
Prinsip 2: Terimalah Diri Apa Adanya
Salah satu ciri utama muslim adalah beriman sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya. Maka dalam melihat diri harus dengan kaca mata iman. “Iman itu”, sabda nabi Muhammad Saw., “setengahnya berada pada syukur dan separonya lagi ada pada sabar”. Kita harus bersyukur terhadap nikmat dari Allah, yaitu berupa apa saja yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebaliknya, kita harus bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, yaitu apa saja yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
Selanjutnya, kita harus mampu membedakan, mana yang bisa kita ubah, dan mana yang tidak bisa kita ubah dalam diri kita. Contoh yang kita bisa ubah adalah pikiran, perasaan, kebiasaan kita, dan seterusnya. Yang tidak bisa kita ubah adalah hari lahir kita, ortu kita, semua pengalaman hidup kita, dan seterusnya. Maka ubahlah terhadap hal-hal yang bisa kita ubah! Sebaliknya, terimalah apa adanya yang tidak bisa kita ubah.
Misalnya, ada yang tidak mengakui ortunya orang kampung. Di hadapan teman-temannya, ia mengaku anak ningrat dan ortunya sudah lama meninggal, padahal kedua orang tuanya masih ada di kampung bertarung dengan lumpur di sawah. Itu bukan langkah ke arah kemajuan, tapi ia sedang memotong cabang pohon tempatnya berpijak; lambat laun tapi pasti, ia akan jatuh oleh kebohongan itu.
Atau, ada yang tidak menerima kenyataan pengalaman hidup yang pahit. Hari demi hari, ia terbelenggu dengan masa lalu. Segala upaya ia lakukan agar melupakan pengalaman itu. Padahal masa lalu tidak mungkin bisa kita ubah. Bahkan, tidak bisa kita lupakan. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai atau menerima masa lalu itu apa adanya. Yang kita ubah, bukan masa lalu itu, tapi pikiran, perasaan, dan sikap kita terhadap masa lalu itu. Alias respon kita.
Seburuk apapun yang kita miliki —ortu, adik-kakak, rumah, kampung halaman, daerah, negara, dst— terimalah apa adanya. Sekelabu apapun masa lalu, biarkanlah ia berlalu dan jangan merasa terbelenggu. Kesempatan menghirup udara detik ini adalah nikmat yang terbesar untuk kita syukuri. Artinya, Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk mengubah apa yang bisa kita ubah dan menerima apa yang tidak bisa kita ubah. Gunakan detik ini dan detik berikutnya untuk merubah diri. Paling tidak, ucapkan dengan tulus: “Al-hamdulillâhi rabbi al-‘âlamîn!” (Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam) atas semua nikmat dari Allah —otak, telinga, mata, kaki, tangan, jantung, dan seluruh anggota tubuh lainnya— yang masih berfungsi sampai detik ini.
Intinya, dengan kaca mata iman, semuanya menjadi kebaikan; bila kita mampu meraih sesuatu sesuai dengan keinginan, maka kita akan bersyukur. Sebalik, jika mendapatkan sesuatu yang tidak kita inginkan, maka kita akan sabar. Sehat, syukur. Sakit, sabar. Bagi orang beriman, tidak ada bedanya antara sehat dan sakit, keduanya tetap mendatangkan rasa bahagia. Wajar jika nabi bersabda: “Sungguh sangat mengagumkan orang yang beriman. Segala urusannya adalah baik baginya. Dan itu terjadi, kecuali hanya pada orang yang beriman. Jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Apabila ditimpa musibah, ia bersabar. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya.” (Muslim & Ahmad)
Langkah praktis prinsip 2 ini adalah: Lakukan lagi Majlis Iman Ibnu Rawahah: Merenunglah sejenak! Gunakan “kesadaran diri” (yaqdzah/self awarness) untuk melihat apa yang telah (pengalaman hidup) dan apa yang sedang terjadi (kondisi hidup) pada dirimu. Lalu, aktifkan “suara nurani” (bashîrah/conscience) dalam dirimu. Pelajari dan catatlah, mana yang bisa Anda ubah, dan mana yang tidak bisa Anda ubah! Dari data dirimu itu, “gunakanlah” (use it) apa yang Anda bisa ubah sebagai bahan pelajaran untuk merubah diri atau melejitkan potensi diri. Bersyukurlah! Sedangkan yang tidak bisa Anda ubah, maka abaikanlah (lose it)! Dan bersabarlah!
Prinsip 3: Berikanlah Yang Terbaik
“Tidak pernah akan rugi orang yang beristikharah,” petuah nabi Muhammad Saw. yang dituturkan oleh Imam Malik, “dan tidaklah menyesal orang yang bermusyawarah.” Istikharah adalah mendiskusikan persoalan kepada Allah Swt. Sedangkan musyawarah mendiskusikan masalah kepada manusia. Keduanya bertujuan ingin mencari solusi terbaik dari apa yang kita hadapi.
Namun sayang, terkadang kita begitu menginginkan Allah Swt. dan manusia memberikan yang terbaik untuk kita, sedangkan kita sendiri enggan memberikan yang terbaik untuk-Nya dan mereka. Maka sebelum memohon petunjuk kepada Allah Swt. dan minta pendapat kepada manusia, berikanlah yang terbaik untuk Allah Swt. dan manusia dengan cara menyambungkan tali kasih sayang kepada-Nya (hablum minallâh) dan kepada manusia (hablum minannâs).
Sebaik apapun yang kita berikan —waktu, tenaga, pikiran, harta, dan seterus— untuk mengabdi kepada Allah Swt. sebagai bukti menyambungkan kasih sayang kepada-Nya, maka semua itu tidak pernah mampu membalas apa kasih sayang-Nya kepada kita. Wajar, jika Allah Swt., mengulangi kalimat: “Arrahmânirrahim”. Dan sebanyak apapun rahmat yang kita terima di dunia ini, maka hanya seper-sekian dari satu persen (1%) nikmat-Nya.
“Allah menciptakan rahmat menjadi seratus bagian,” ujar Imam Bukhari menyampaikan hadis dari nabi, “kemudian menetapkan 99 bagian di sisi-Nya dan menyempurnakan satu bagian inilah semua makhluk saling mengasihi, hingga seekor kuda mengangkat kaki dari anaknya karena khawatir menginjaknya.” Dalam riwayat Imam Muslim, hadis itu ada lanjutannya, yaitu “maka bila datang hari kiamat Allah menyempurnakan rahmat-Nya (99 rahmat di sisi-Nya) menjadi seratus rahmat dengan tambahan rahmat ini (rahmat dunia).”
Dan sebaik dan sebanyak apa pun yang kita berikan kepada manusia, itu tak mampu menggerakan manusia untuk membalas kebaikan kita, tanpa bantuan Allah Swt.. Allahlah yang membukakan hati manusia untuk membalas atas kebaikan kita (baca: QS. Al-Anfâl [8]: 63). Kuncinya, sekali lagi, minta bantuan kepada Allah Swt..
Bila hubungan kita dengan Allah sudah harmonis, maka insyâ Allâh, kita akan mudah berhubungan dengan manusia. Sebaliknya, bila hubungan kita dengan Allah, terputus, maka kita akan sulit harmonis dengan manusia, bahkan dengan diri kita sendiri kita tidak harmonis. Lantas, bagaimana kita mmelakukan manajemen diri, jika diri kita berantakan?
Langkah praktis prinsip 3 ini adalah: Pertama, bila selama ini kita lalai melaksanakan kewajiban kepada Allah, terutama sholat lima waktu, maka cepatlah taubat. Setelah sholat wajib itu kita perbaiki, maka lakukan sholat istikharah, yaitu sholat dua raka’at untuk meminta sesuatu kepada Allah, terutama sesuatu yang membingungkan kita. Bertanyalah dan pintalah kepada Allah, cara me-manajemen diri. Insya Allah, dengan cara-Nya, Allah akan menjawab pertanyaan dan permintaan kita; Kedua, setelah kita minta fatwa dari hati nurani dan Allah, maka berdiskusilah kepada orang yang paling Anda percayai dan ahli dalam persoalan yang Anda hadapi. Ceritakan keinginanmu untuk merubah diri dan mintalah pendapatnya. Dan buatlah rencana untuk menjalin hubungan lebih erat kepada Allah dan manusia.
Prinsip 4: Lihatlah Impian
“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai impiannya,” pesan rasulullah Saw. dalam kesempatan lain, “Allah akan menjadikan kekayaan dan rasa cukup dalam hatinya, mengumpulkan yang tercerai-berai darinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai impiannya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya, mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali yang telah disempitkan kepadanya.”
“Hai Harits,” sapa nabi Muhammad Saw. kepada Harits bin Malik r.a., “gimana keadaanmu pagi ini?” Harits menjawab: “Pagi ini, saya dalam keadaan beriman, ya rasulallah!” Rasulullah Saw. kembali bertanya: “Setiap perkataan itu ada hakikatnya. Nah, apa buktinya imanmu itu?” Dengan mantap Harits menanggapi: “Diriku menjauhi dunia. Malamnya aku bergadang (qiyamullail), sedangkan siangnya, aku shaum. Dan aku seolah-olah telah melihat ‘Arsy Tuhanku dengan begitu jelas. Aku juga, seakan-akan telah melihat para ahli surga yang saling datang berkunjung, sedangkan ahli neraka meliuk-liuk kelaparan!” Mendengar curhat Harits bin Malik r.a, rasulullah Saw. baru yakin seraya bersabda: “Hai Harits, sekarang saya baru percaya. Maka, pertahankanlah!” Kemudian rasulullah memberitahukan bahwa Harits telah sampai kepada yang menjadi tujuan hidupnya, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat ahli surga, maka coba perhatikan Harits!” (HR. Thabrani)
“Mâliki yaumi ad-dîn” (Yang menguasai hari pembalasan). Ini adalah prinsip lebih dahsyat dari prinsip “Mulai dengan Akhir dalam Pikiran” —Merujuk Pada Tujuan Akhir— milik Stephen R. Covey. Allah Swt. mengajak kita untuk membayangkan “yaumi ad-dîn” (hari pembalasan). Semakin jelas hari pembalasan itu dalam hati dan pikiran kita, maka hidup kita akan semakin baik.
Dalam Al-Quran dan hadis, Allah dan rasul-Nya, menjelaskan semua kejadian pada hari pembalasan ini. Bagi yang mendapatkan buku catatan dengan tangan kanan, berat timbangan kebaikannya banyak, bisa melewati “shirâth al-mustaqîm”, dan seterusnya, maka akan bertemu dengan Allah dalam surga. Sebaliknya, bagi yang mendapatkan buku catatan dengan kanan kiri, timbangan kejelekannya berat, tidak bisa melewati “shirâth al-mustaqîm”, dan seterusnya, maka akan bersama syetan dalam neraka. Perhitungan pada hari itu, semuanya adil, sebab Allah Maha Melihat, Mengetahui, dan Mendengar semua yang kita lakukan, apalagi semua saksi akan dihadirkan, mulai dari malaikat, rasul, manusia, benda-benda, bahkan seluruh anggota tubuh kita.
Sedangkan Stephen R. Covey —dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People— mengajak kita membayangkan upacara pemakaman. Di sana ada empat kelompok manusia yang akan memberikan sambutan; (1) keluarga dekat —anak, kakak, adik, sepupu, bibi, paman, keponakan, kakek, dan nenek; (2) perwakilan teman; (3) dari tempat kerja; dan (4) dari gereja atau ormas. Lalu, ia suruh kita membayangkan, apa yang kita inginkan dalam sambutan keempat perwakilan itu?
Setelah saya coba visualisasi pemakaman tersebut, yang saya rasakan adalah, pertama; membangun diri kita untuk riya’, sebab berpusat kepada manusia (antroposentris); dan kedua; sambutan (penilaian) dari perwakilan empat komponen itu tidak pernah akan objektif, sebab mereka tidak setiap detik menyertai kita. Jauh berbeda dengan cara Al-Quran dan hadis mengajak kita membayangkan hari akhirat, bahwa kaki, tangan, telinga, mata, kulit kita akan bicara jadi saksi atas semua perbuatan kita di hadapan Allah Swt. (baca: QS. Yasin [36]: 65 atau Fushshilat [41]: 20-21). Visualisasi berpusat kepada Allah ini lebih menyentuh hati dan menggerakan jiwa untuk berbuat baik.
Nah, jika kita mampu membayangkan semua kejadian di akhirat nanti, lalu mengapa kita tidak mampu membayangkan impian hidup kita beberapa tahun yang akan datang? Ingat, salah satu ciri orang sukses adalah dapat melihat sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Seperti Harits bin Malik di atas.
Langkah praktis prinsip 4 ini adalah: Gunakan imajinasi (fikrah/imagination) untuk memvisualisasikan (menggambarkan dalam pikiran) saat di alam akhirat; alam kubur; detik-detik menjelang kematian; dan beberapa tahun yang akan datang (5, 10, 35 tahun).
Saat memvisualisasikan akhirat, bertanyalah kepada dirimu: “Apakah saya termasuk orang bisa menatap wajah Allah atau tidak? Apakah saya ahli surga atau neraka? Apakah saya selamat melintasi shirâth al-mustaqîm atau terjatuh? Apakah buku amalan saya hasil catatan malaikat Raqib dan Atid lebih banyak memuat kisah iman dan amal shaleh atau kekafiran dan kemaksiatan? Apakah “rekaman perbuatan” saya yang dilakukan oleh Allah, diri sendiri, rasul-Nya, orang beriman, manusia, dan benda-benda yang kita miliki banyak merekam kebaikan atau keburukan? Apakah tatkala matahari beberapa senti di atas kepala kita, kita termasuk orang yang mendapat naungan cahaya dari Allah atau bukan? Apakah ketika air keringat meluap sebatas lutut; dada; hidung; bahkan sampai menenggalamkan kepala, kita termasuk yang mendapat pertolongan Allah atau bukan? Ketika manusia berbondong-bondong meminta syafa’at kepada nabi, apakah kita termasuk orang yang menerimanya atau justru ditolak nabi karena kita tidak pernah mengikuti cara hidupnya? Dan seterusnya.
Ketika memvisualisasikan diri dalam alam kubur: “Apakah saya bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir? Apakah di alam kubur saya termasuk orang yang mendapat nikmat atau tersiksa? Apakah amal perbuatan saya akan menjelma jadi penghibur atau penyiksa? Apakah kuburan saya termasuk dilapangkan oleh Allah Swt. atau tidak? Apakah di alam kubur saya diperlihatkan keindahan surga atau justru kepedihan neraka? Dan seterusnya.
Tatkala memvisualisasikan detik-detik menjelang kematian: “Apa yang telah aku lakukan untuk diri sendiri, ibu-bapak, adik-kakak, pasangan hidup, anak, nenek-kakek, bibi-paman, teman, dan seluruh manusia? Apakah menjelang kematian saya berada di tengah-tengah orang saya cintai atau bukan? Apakah ketika mati saya dalam keadaan dekat dengan Allah atau tidak? Apakah saat nyawa dicabut, saya mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak? Ketika saya meninggal, apakah saya meninggalkan anak sholeh yang memandikan, mengapani, menyolatkan, dan menguburkan saya atau tidak? Setelah saya meninggal, apakah saya menjadi buah tutur yang baik atau bukan?
Sewaktu memvisualisasikan beberapa tahun yang akan datang, misalnya 25 tahun —bayangkan berdasarkan peran: “Sebagai hamba Allah: Apakah ketika itu pemikiran, perasaan, dan tidakkan saya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau tidak? Apakah saya termasuk orang istiqamah dengan tuntutan iman atau tidak? Apakah ibadah saya ikhlas dan sesuai dengan contoh nabi? Apakah akhlak saya Islami atau bukan? Sebagai pribadi: “Apakah saya telah mengoptimalkan potensi diri saya atau belum? Apakah saya berbahagia atau tidak? Apakah diri berkembang atau tidak? Sebagai anak: “Apakah saya termasuk berbakti atau tidak? Apa yang telah saya berikan untuk kedua ortu saya? Apakah saya sering mendo’akan ortu atau tidak? Sebagai ortu: “Berapa anakkah yang saya miliki? Apakah saya telah menjadi ortu yang baik atau bukan? Apa yang telah saya berikan terhadap anak saya? Sebagai pekerja: “Apakah saya memiliki pekerjaan tetap atau tidak? Apa jenis pekerjanan saya? Di mana saya bekerja? Berapa gaji saya? Sebagai anggota masyarakat: “Apakah kontribusi saya terhadap masyarakat? Apakah masyarakat menyukai saya atau tidak? Begitu seterusnya.
Prinsip 5: Temukan Potensi dan Peluang Diri
“Mukmin yang kuat,” sabda nabi Muhammad Saw., “lebih baik dan lebih Allah cintai dari pada mukmin yang lemah. Walaupun keduanya tetap memiliki kebaikan —potensi. Seriuslah terhadap sesuatu yang bermanfa’at bagimu dan minta bantuan kepada Allah, serta jangan bersikap lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu, jangan bilang: “Andaikan saya melakukan ini, pasti deh akan begini. Andaikan saya melakukan itu, pasti deh akan begitu!” tetapi katakan: “Inilah taqdir Allah, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi!”, sebab kata “berandai-andai” —kalau begini, kalau begitu— akan membuka tindakan syetan.” (HR. Muslim)
Suatu hari, seorang pengemis datang kepada Nabi Muhammad Saw.. Ia minta sedekah, tapi tidak Nabi beri. Padahal kita tidak meragukan kedermawan Nabi. Lantas, mengapa beliau tidak memberi pengemis itu sesuatu? Baik kita lanjutkan kisah ini.
“Apa yang Anda miliki?” tanya Nabi. Pengemis itu menjawab: “Saya hanya punyai selembar permadani dan sebuah nampan.” Beliau berkata lagi, “Bawa kedua barang itu ke sini!” Lantas, Nabi menawarkan barang itu kepada para sahabatnya. “Siapa yang mau membeli barang ini?” tanya Nabi. Salah seorang sahabat mengajukan harga, “Saya berani beli lima dirham!” Maka tanya beliau lagi, “Siapa yang berani membayar lebih?” Lalu, sahabat yang lain memberikan harga lebih. Nabi pun mengedarkan pandang dan bertanya lagi, “Siapa yang berani membayar lebih?” Akhirnya, barang itu dilelang seharga 15 Dirham. Hasil lelang ini, Nabi perintahkan, setengahnya untuk keperluan rumah tangga pengemis, separuhnya lagi untuk beli kampak, seraya berpesan, “Pergilah ke hutan dan carilah kayu bakar, dan jangan perlihatkan dirimu selam tujuh hari sebelum kamu berhasil!”
Dari kisah itu, ada enam strategi Nabi dalam membantu orang supaya hidup mandiri, antara lain, (1). Mempelajari posisi dan mendudukan masalah sesuai dengan porsinya; (2). Mengundang para sahabatnya dan menganjurkan untuk bergotong royong meringankan beban saudaranya dengan jalan membeli barangnya; (3) menyisihkan separoh hasil lelang untuk keperluan keluarganya; (4) memerintahkan agar menginvestasikan sisa uang untuk membeli alat yang dapat digunakan untuk mencari nafkah; (5) melalui cara investasi modal, produksi dapat digalakkan dan pembangunan dapat ditingkatkan. Semua ini adalah sarana yang tepat untuk memecahkan problem ekonomi; (6). Mengawasi pelaksanaan anjuran atau perintah tersebut, apakah sudah berjalan sesuai dengan yang dimaksud.
Saya tidak akan membicarakan 6 hal itu. Tapi kita perhatikan pertanyaan beliau: “Apa yang Anda miliki?” Ini sebuah pertanyaan yang menuntut kita untuk hidup mandiri (independensi) —dan ini inti dari manajemen diri— seperti yang dikatakan oleh Stephen R. Covey. Dan menurutku, kunci utama untuk melakukan kemandirian itu adalah dengan menggantungkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Swt. semata; tidak kepada makhluk-Nya.
Sebab, bila kita masih menggantungkan diri kepada makhluk-Nya, kita tidak pernah mandiri, hingga pada tingkat tertentu rasa ketergantungan kita terhadap makhluk-Nya —manusia—, maka diri kita akan terjatuh dalam perilaku menghambakan diri kepada selain-Nya. Bila sudah demikian, maka kemandirian itu hilang, akhirnya berubah menjadi keterjajahan. Jiwa yang terjajah, tidak pernah akan mengalami perkembangan.
Maka ungkapan kita dalam surat Al-Fatihah ayat 5 —“Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în” (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)— merupakan sebuah afirmasi (penguatan) terhadap diri agar kita hidup mandiri.
Pengakuan untuk menyembah dan minta tolong, sebuah isyarat bahwa betapa lemahnya kita di hadapan Allah Swt.. Semakin kita merasa lemah di hadapan-Nya, rasa ketergantung terhadap-Nya juga akan semakin besar. Kita pun semakin banyak beribadah kepada-Nya. Ibadah itu akan mengembangkan seluruh potensi diri kita. Buahnya adalah kekuatan diri. Saat itu pula, akan muncul rasa kuat di hadapan manusia. Dua perasaan itu bersatu dalam diri kita: satu sisi merasa lemah di hadapan Allah, dan di sisi lain, merasa kuat di hadapan manusia. Inilah salah satu ciri manajemen diri Islami, yaitu kemampuan kita untuk menggabungkan dua hal yang berbeda dalam diri kita secara bersamaan dan keduanya membuahkan kebaikan.
Manajemen diri itu kita arahkan untuk menjadi rahmatan lil âlamîn. Makna rahmatan lil ‘alamin adalah ketika kita mampu memberikan manfa’at kepada manusia dan inilah manusia yang paling Allah cintai: “Sejatinya, seluruh makhluk adalah satu keluarga Allah. Orang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfa’at terhadap keluarga-Nya.” (HR. Abu Ya’la)
Maka bila makna surat Al-Fatihah ayat 5 kita hayati betul, maka akan muncul sifat tawadhu’ (QS. Al-Furqan [25]: 63). Orang tawadhu adalah orang yang melihat dirinya secara objektif; apa adanya tanpa imbuhan. Mereka tidak menutupi kelebihan dan kekurangan dirinya. Orang yang suka menutupi kelebihannya, ini tanda ia kurang percaya diri dan rendah diri, akhirnya mereka akan jadi manusia putus asa. Sebaliknya, orang yang suka menutupi kelebihannya, ini tanda ia terlalu percaya diri, akhirnya ia akan sombong. Jadi, orang yang tawadhu adalah orang yang mensyukuri kelebihannya dengan cara memberikan apa yang ia miliki untuk membantu orang lain dan orang tawadhu adalah orang yang bersabar atas kekurangan dirinya dengan cara belajar dari siapa saja yang memiliki apa yang ia butuhkan.
Langkah praktis prinsip 5 ini adalah: Anda pernah mempelajari konsep problem solving SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Treatment)? Nah, luangkan waktumu untuk mengajukan pertanyaan nabi itu kepada dirimu sendiri: “Apa yang kamu miliki?” Arahkan pertanyaan ini ke “dalam” dirimu. Perhatikan, kelebihan (strength) dan kekurangan (weakness) yang kamu miliki. Lalu, arahkan pertanyaan nabi ke sesuatu “di luar” dirimu —keluarga, sekolah, lingkungan, dst. Perhatikan, kesempatan (opportunity) dan rintangan (treatment). Sambil bertanya, ambillah pulpen dan kertas. Tulis empat kolom besar di kertas itu. Pada bagian atas kolom itu, masukan empat kata itu. Tulislah jawabanmu dalam empat kolom sesuai dengan katagori: kekuatan, kekurangan, kesempatan, dan peluang. Simpan hasilnya, nanti akan Anda butuhkan sebagai bahan melaksanakan langkah praktis prinsip selanjutnya.
Prinsip 6: Rumuskan Cara Meraih Impian
“Iman itu bukan sekedar angan-angan kosong, bukan buah bibir,” tutur nabi Muhammad Saw., “tapi tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan tindakan.” Hadis yang diceritakan oleh Dailami ini, menegaskan kepada kita, sebuah impian harus ada tindakan nyata untuk meraihnya.
Iman itu keyakinan. Keyakinan akan bertemu dengan Allah, inilah impian, misalnya. Bila kita yakin akan bertemu dengan Allah di surga dan sudah tergambar di benak kita di dunia ini, maka tercapai atau tidaknya, apa yang kita lihat lewat kekuatan majinasi ini, tergantung dengan usaha. Sekadar yakin tanpa tindakan, itulah yang disebut nabi dengan angan-angan kosong atau khayalan. Sedangkan keyakinan disertai tindakan, inilah yang disebut C.R. Snyder —ahli psikologi dari Universitas of Kansas— harapan. Menurutnya, harapan adalah “yakin bahwa kamu mempunyai kemauan maupun cara untuk mencapai sasaran kamu, apapun sasaran kamu itu.”
Nah, sebagus dan sebesar apapun impian kita, bila kita tidak mampu menerjemahkannya dalam bentuk sasaran atau target, maka kecil kemungkinan akan tercapai. Diantara kita, banyak yang memimpikan masuk surga, tapi dalam kehidupan sehari-hari tidak sungguh-sungguh menempuh jalan menuju surga. Atau, mengimpikan jadi orang sukses, tapi cara menjadi orang sukses itu tidak kita lakoni.
Biasanya, manakala ada kesenjangan antara impian dengan tindakan, maka akan melahirkan tidak percaya diri, kemalasan, keputus-asaan, kehilangan arah hidup (disorientasi), dan akhirnya, keterpecahan pribadi (split personality). Sebaliknya, sekecil apapun tindakan yang kita target dan itu dapat kita raih, akan mendatangkan rasa percaya diri, semangat, harapan, hidup bermakna, dan integritas.
Dalam bertindak, kita memerlukan juknis (petunjuk teknis) atau juklak (petunjuk pelaksana). Petunjuk, dalam bahasa Al-Qurannya adalah “hidâyah”. Di sinilah surat Al-Fatihah ayat 6: “Ihdinash shirâth al-mustaqîm” (Tunjukilah kami jalan yang lurus), menemukan maknanya. Ya, untuk meraih impian surga, kita butuh petunjuk “jalan lurus” atau Islam.
Dalam Al-Quran, kata “shirath” (jalan) —murâdif (sinonim) dari kata “sabîl” (jalan)— selalu dalam bentuk mufrad (tunggal) dan selalu berkaitan dengan al-haqq (kebenaran). Sedangkan jalan menuju al-bâthil (kesesatan) memakai kata jama’ (plural), yaitu kata “as-subul” (sebagai contoh, baca: QS. Al-An’am [6]: 153). Ini menunjukan jalan kebenaran itu hanya satu, yaitu Islam, sedangkan jalan kesesatan itu sangat banyak dan tidak terhitung. Maka sangat keliru, orang yang menyakini pluralisme agama: semua agama benar dan jalan menuju surga.
Islam diturunkan oleh Allah di muka bumi ini untuk menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidup ini. Ajaran Islam begitu canggih dalam menjelaskan cara untuk meraih impian surga. Pertama, Islam mengajarkan kita untuk membuat misi pribadi berupa dua kalimat syahadat. Lalu, disusul dengan sasaran target —baik yang wajib maupun sunnah— yang berskala waktu seumur hidup (haji), tahunan (shaum dan zakat fitrah), bulanan (shaum ayyâm al-bidh: puasa 13, 14, dan 15 bulan hijriyah), mingguan (sholat Jum’at; shaum Senin-Kamis), harian (sholat lima waktu), pagi dan sore, bahkan skala detik (dzikir).
Nah, bila kita mampu menjalankan ajaran Islam itu dengan baik, maka akan semakin bagus kita melaksanakan manajemen diri; kita lebih mudah lagi dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan. Karena semua ajaran Islam mengajak kita untuk hidup disiplin. Misalnya, kemampuan kita untuk sholat lima waktu tepat waktu dan di masjid, ini akan membangun berbagai karakter baik dalam diri kita, seperti hidup bersih, komitmen, integritas, disiplin, dan seterusnya. Begitu juga dengan ajaran Islam lainnya, selalu mendidik kita untuk meraih kesuksesan pribadi dan publik seperti yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey.
Langkah praktis prinsip 6 ini adalah: Gabungkan hasil langkah praktis prinsip 5 dan 6 dalam bentuk naskah hidup yang tertulis di atas kertas. Dari semua yang telah Anda visualisasikan pada prinsip 5 simpulkan dalam satu kalimat yang pendek, jelas, dan menggugah. Inilah yang disebut visi. Selanjutnya, terjemahkan visi ini dalam tujuan hidupmu secara global, atau sering kita sebut dengan misi. Ya, Anda buat pernyataan misi pribadi. Lalu, terjemahkan visi dan misi itu dalam bentuk target hidup, baik secara pribadi maupun sosial. Dari sana, buatlah blue print hidup yang menggambarkan keinginanmu dalam kurun waktu tertentu.
Prinsip 7: Belajarlah dari Pengalaman
“Bukanlah orang cerdas kecuali pernah tergelincir, bukan pula orang yang bijak kecuali berpengalaman” pesan nabi Muhammad Saw. kepada kita lewat Imam Tirmidzi. Ini sebuah isyarat bahwa nabi sepakat dengan metode belajar trial and error —berani mencoba meskipun nanti bisa jadi salah— dalam menjalani hidup ini.
Lebih lengkap lagi, kita dengarkan cerita Thalhah bin Abdullah. “Aku bersama rasulullah Saw.,” ujar Thalhah mulai bercerita, “melewati sekelompok orang yang berada dipucuk pohon-pohon kurma. Rasulullah Saw. bertanya, “Apa yang sedang mereka perbuat?” Jawab para sahabat, “Mereka sedang mengawinkan pohon kurma. Mereka masukkan yang jantan ke dalam betina agar berbuah.” Lalu nabi bersabda, “Aku rasa, hal itu tidak akan berhasil.” Thalhah berkata, “Lalu mereka diberitahu tentang hal itu dan mereka akhirnya meninggalkannya.” Kemudian rasulullah Saw. diberitahu tentang hal itu dan beliau bersabda: “Jika hal itu bermanfa’at bagi mereka, maka lakukanlah. Karena sesungguhnya aku hanya memperkirakan saja. Maka jangan kalian menyiksaku dengan sebuah dugaan. Akan tetapi jika aku menginformasikan sesuatu dari Allah, maka ambillah. Karena sesungguhnya aku tidak akan pernah berdusta tentang urusan dunia kalian”. Dan dalam riyawat Imam Muslim, setelah itu nabi bersabda: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian!”
Jadi, kita boleh mencoba sesuatu, meskipun kita tidak tahu, apakah itu akan berhasil atau gagal. Karena gagal setelah mencoba, jauh lebih baik daripada gagal untuk mencoba. Karena dari kegagalan itu kita akan memiliki pengalaman. Konon, ketika Thomas Alfa Edison 1000 kali gagal dalam percobaannya, ia berkata: “Saya tidak gagal, tapi saya telah menemukan 1000 cara yang salah!”
Dari prinsip 1 sampai 6 lebih terfokus pada diri sendiri. Sekarang keluarlah, lihat apa yang terjadi pada orang lain. Dalam ayat terakhir surat Al-Fatihah, kita membaca: “Shirâthalladzîna an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhûbi ‘alaihim wa ladhdhâllîn” (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat).
Nah, dalam ayat 7 surat Al-Fatihah ini, Allah menceritakan tentang jalan orang mendapatkan ni’mat Allah, yaitu jalan para nabi, ash-shiddiqîn, asy-syuhadâ, dan ash-shâlihîn (baca: (QS. Ani-Nisa [4]: 69). Inilah jalan keimanan. Lalu, Allah menceritakan jalan orang yang mendapat murka Allah Swt. dan tersesat. Berdasarkan keterangan Ibnu Katsir, rasulullah Saw. menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “al-maghdûbi” (yang dimurkai Allah) adalah orang Yahudi, sebab mereka mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengamalkannya. Dan “adhadhâllîn” (Yang Tersesat) adalah orang Nashrani (Kristen) karena mengamalkan sesuatu tanpa mengetahui kebenarannya. Jadi, jalan kebenaran; Islam hanya satu, begitu juga jalan iman itu tunggal, sedangkan jalan kafir itu sangat banyak.
Untuk kesuksesan akhirat, kita harus mempelajari mana jalan keimanan yang akan membawa kita menuju surga, sebaliknya mana jalan kekafiran yang akan menjerumuskan kita ke jurang neraka. Kita harus menempuh jalan keimanan dan menjauhi jalan kekafiran. Dalam hal keimanan, mau tidak mau kita harus belajar dari pengalaman orang yang beriman. Karena, Allah telah berlepas tangan dari orang kafir dan memberikan “ar-rahim”-Nya hanya kepada orang beriman saja.
Adapun untuk kesuksesan duniawi, kita mempelajari pengalaman siapa saja —terutama untuk diri sendiri, meskipun dari orang kafir. Karena sifat “ar-rahmân” Allah Swt., tidak membedakan antara orang beriman dan orang kafir, orang beriman tapi malas akan bodoh; orang kafir rajin belajar akan cerdas. Orang beriman menanam cabe, tidak akan manis. Orang kafir menanam cabe, tidak akan pahit. Rasanya akan sama, yaitu pedes. Di sini, hukum kausalitas tetap berlaku. Bila orang kafir banyak mencoba, setelah sekian kali gagal, maka mereka akan menemukan cara sukses. Nah, cara sukses yang ditemukan oleh orang kafir ini adalah hikmah yang hilang dari orang yang beriman. Maka Imam Tirmidzi meriwayatkan sabda nabi: “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Dimana saja ia menemukannya, maka ambillah.”
Langkah praktis prinsip 7 ini adalah: (1). Pelajari setiap pengalaman pribadi, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Lakukan dengan pola pengalaman berstruktur (structured experiences) —dengan daur (perputaran)— lima hal ini: melakukan—mengungkapkan—mengolah/menganalisa—menyimpulkan—menerapkan kembali/eksprimen. Gunakan “Jurnal pribadi” atau “Diary” (Catatan Harian) untuk mencatat seluruh pengalaman itu; (2). Pelajari pengalaman hidup orang yang sukses dan orang gagal, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi! Sebelum mempelajari yang lain, yang pertama dan utama adalah pelajari tarîkh Nabi Muhammad Saw. Sebab, beliau adalah profil orang yang sukses melaksanakan ajaran Al-Quran termasuk tentang kecerdasan. Beliau orang yang sukses di dunia dan di akhirat. Setelah Anda benar-benar memahami seluruh kehidupan nabi Muhammad Saw. baru pelajari kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran, baik itu kisah para nabi dan rasul maupun kisah para musuh Allah Swt. Setelah itu, pelajari para tokoh-tokoh dunia baik zaman dulu maupun zaman kini. Buatlah sinopsis biografi tokoh yang sedang Anda pelajari, misal umur sekian ia lahir; umur sekian meraih prestasi ini; dan seterusnya. Pelajari sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan mereka, baik itu berhubungan dengan diri mereka sendiri, keluarga, masyarakat, negara, maupun situasi zaman.
Itulah 7 prinsip melejitkan manajemen diri yang saya tawarkan. Sengaja, dalam menguraikan prinsip itu, saya lebih banyak mengutip hadis. Bagi saya “role model” —contoh, panutan, atau idola— dalam melaksanakan manajemen diri yang paling berhasil adalah Nabi Muhammad Saw.. Wallahu a’lâmu bish shawâb.
Manajemen Waktu
Baik, masih ada satu lagi hal penting untuk kita diskusikan di sini, yaitu Manajemen Waktu. Sebab, hubungan antara keduanya sangat erat, terutama dengan prinsip keenam —Rumuskan Cara Meraih Impian. Dalam buku “First Think First” (Dahulukan Yang Utama), Stephen R. Covey menjelaskan dengan sangat menarik tentang “tiga generasi manajemen waktu”.
Menurutnya, generasi pertama, adalah generasi berdasarkan reminder (sarana yang akan mengingatkan kita bagaimana kita harus memanfa’atkan waktu kita). Generasi ini menganjurkan kita untuk “Ikut Arus”, tetapi sambil berusaha memperhatikan hal-hal yang harus kita beri waktu untuk kita kerjakan —membaca muqarar, menghadiri acara atau rapat, mencuci, membersihkan rumah. Generasi ini ditandai dengan catatan-catatan singkat atau checklist (daftar kegiatan). Daftar ini kita bawa kemana-mana agar kita tidak lupa. Di malam hari kita coret daftar kegiatan yang telah kita lakukan, dan menuliskannya kembali keesok harinya yang belum kita capai.
Generasi kedua, adalah manajemen waktu yang berdasarkan diri pada “perencanaan dan persiapan”. Ini ditandai dengan penanggalan dan buku agenda atau catatan mengenai janji pertemuan atau kegiatan yang akan kita lakukan. Generasi ini adalah generasi efisiensi, tanggungjawab pribadi, pencapaian dalam kerangka tujuan yang telah ditetapkan, merencanakan ke depan, dan penjadwalan kegiatan-kegiatan maupun peristiwa-peristiwa yang akan datang. Kita buat janji, menuliskan komitmen kita, menentukan deadline, dan mencatat seluruh kegiatan kita, baik itu dalam buku, maupun komputer atau network.
Dan, generasi ketiga, adalah generasi “perencanaan, pemrioritas, dan kontrol atau pengendalian”. Waktu kita banyak kita manfa’atkan untuk memperjelas nilai-nilai dan prioritas-prioritas kita, dengan pertanyaan ini: “Apa yang kumaui?” Kita membuat master plans —tujuan jangka panjang, menengah, dan pendek, untuk meraih nilai-nilai tersebut. Kita memberikan prioritas pada kegiatan kita secara harian. Generasi ini ditandai dengan bervariasi sarana perencanaan dan pengorganisasian —baik elektronik maupun kertas— dengan formulir terperinci bagi perencanaan harian.
Nah, menurut saya, baik pengalaman menjadi peserta pelatihan manajemen waktu dan melaksanakannya maupun “pengamat” terhadap manajemen waktu yang digunakan Masisir, ternyata berputar pada tiga generasi tersebut. Dalam batasan tertentu, tiga generasi itu memang meningkatkan efektivitas dalam hidup kita —misalnya, efisiensi, perencanaan, skala prioritas, memperjelas nilai dan penetapan tujuan— namun, pada dasarnya masih bercokol kesenjangan antara “apa yang sungguh sangat penting” bagi kita dan “cara kita memanfa’atkan waktu” Lebih parahnya lagi, kesenjangan antara “hasil” dengan “apa yang kita rasakan”.
Maka tidak sedikit, Masisir yang “cepat” menamatkan studi sebagai salah satu buah manajemen waktu, namun ketika gelar Lc. telah mereka raih justru muncul “rasa cemas” tidak siap menghadapi masyarakat, “rasa tertekan” karena mendapat predikat sarjana tapi “merasa” —bahkan memang kenyataan— ilmu sangat minim, “bingung” untuk kemana, dan seterusnya.
Bagaimana solusinya? Perlu generasi keempat —generasi yang merengkah semua kekuatan tiga generasi itu, sekaligus menyingkirkan kelemahan-kelemahan— adalah jawabannya. Dengan kata lain, kita beranjak dari manajemen waktu menuju kepemimpinan hidup (life leadership). Generasi ini didasarkan pada paradigma “ke-pentingan-an” —dahulukan yang utama. Berkaitan dengan paradigma ini, maka cara kita memanfa’atkan waktu berada dalam salah satu dari keempat cara —empat kuadran— berikut ini:
Kwadran I mewakili hal-hal yang “mendesak” (urgent) dan “penting” (importance). Dalam kwadran ini, kita menangani tuan rumah menagih sewa rumah dengan marah-marah, mengejar deadline makalah atau tulisan, kuliah istitsna-i, memperbaiki kompor rusak, atau krisis-krisis yang lain. Di sinilah kita mengatur, memproduksi, memanfa’atkan pengalaman dan kemampuan penilaian kita untuk menjawab berbagai kebutuhan dan tantangan. Kalau kita mengabaikannya, kita akan terkubur hidup-hidup. Tetapi, kita perlu menyadari bahwa banyak kegiatan penting menjadi “mendesak” karena “penundaan” atau karena kita tidak cukup melakukan “antisipasi” —penanggulangan— dan perencanaan.
Kaudran II mencakup kegiatan yang “penting tetapi tidak mendesak”. Ini kwadran kualitas. Di sinilah kita melakukan perancanaan jangka panjang, mengantisipasi dan menanggulangi masalah-masalah, memberikan kekuasaan atau wewenang (mendelegasikan) kepada orang lain, memperluas cakrawala pikir kita, dan meningkatkan keahlian kita melalui bacaan dan pengembangan “karir” terus-menerus, merancang bagaimana kita hendak membantu teman kita dalam kesulitan, mempersiapkan diri untuk rapat atau presentasi penting, dan menjalin hubungan dengan cara mendengarkan orang lain secara jujur dan penuh perhatian. Intinya, meningkatkan kemampuan kita untuk berbuat.
Pengabaian kwadran itu akan memperluas dan menambah hal-hal pada kwadran I, sehingga menciptakan stress, “kabakaran jenggot”, dan menciptakan krisis yang lebih mendalam bagi orang yang terkuras tenaga dan perhatiannya di sana. Perencanaan, persiaan, dan upaya penanggulangan menghindarkan banyak hal sehingga tidak menjadi sesuatu yang mendesak. Kwadran II tidak menguasai kita; kitalah yang menguasainya. Inilah kwadran Kepemimpinan Pribadi.
Kwadran III hampir meruapakan bayang-bayang dari kwadran I, dan mencakup “hal-hal yang mendesak, tetapi tidak penting”. Ini merupakan kwadran tipuan. Bunyi “mendesak” itu menciptakan ilusi seakan-akan itu penting. Tetapi kenyataannya, kalau pun itu penting, hanya penting bagi orang lain. Menerima telpon, rapat, dan kunjungan masuk dalam katagori ini. Kita memenuhi prioritas dan harapan orang lain, dan itu mengira bahwa sungguh di Kwadran I.
Kwadran IV dikhususkan bagi kegiatan-kegiatan yang “tidak mendesak” dan “tidak penting”. Ini Kwadran Pemborosan. Memang, kita sesungguhnya sama sekali tidak perlu berada di situ. Tetapi kita tidak begitu babak belur karena terus terjerembab dalam Kwadran I dan III, sehingga sering “melarikan diri” ke Kwadran IV untuk bertahan hidup. Hal-hal macam apakah yang terdapat dalam Kwadran IV ini? Hal-hal yang di situ tidak harus merupakan hal yang bersifat rekreatif, karena rekreasi dalam arti yang sesungguhnya dari re-kreasi —dari bahasa Latin: re-cratio (harfiah: penciptaan kembali)— merupakan kegiatan Kwdran II yang amat berharga. Tetapi membaca serilal Kho Ping Ho yang membuat kita semacam “kecanduan”, kebiasaan nonton film, atau ngobrol semalam suntuk dan tidur seharian, pantas disebut “pemborosan waktu”. Kwadran IV ini bukan merupakan sarana pertahanan hidup yang sesungguhnya. Sebaliknya, kwadran ini adalah pembusukan. Dari sinilah saya memunculkan istilah “pembusukan karakter” Masisir.
Ikhtitâm
Sebagai pamungkas, pertama, saya ingin menegaskan kembali bahwa manajemen diri adalah sebuah keniscayaan bagi kita yang ingin merubah diri sendiri dan merubah Masisir ke arah lebih baik. Sebagai insan akademis muslim, sudah seharusnya kita tidak “melahap” atau “membeo” begitu saja konsep manajemen diri yang berkembang —terutama dari Barat—, akan tetapi bagaimana kita “menyinari” manajemen diri yang ada dengan “cahaya” Islam. Dengan kata lain, manajamen diri yang saya maksud tak lain adalah sebuah upaya membangun karakter Islami dalam diri kita dengan mengambil hal-hal yang baik dari manajemen diri kontemporer.
Kedua, “pembusukan karakter” ini adalah persoalan kita bersama (we-ness) , bukan masalah orang lain (the other). Oleh sebab itu, butuh kerja kolektif (‘amal jama’i) untuk menyelesaikannya, agar Masisir menjadi creative minority —saya sedikit agak berbeda dengan Toynbee dalam mendefinsikan kata ini, menurut saya creative minority adalah “thaifatun liyatafaqquhû fiddîn” (Qs.at-Taubah[9]:122) meskipun jumlah mereka sedikit (Qs.al-Baqarah[2]:249) tapi mereka adalah pribadi-pribadi yang terbaik untuk memperbaiki manusia. (Qs.Ali Imran[3]:110)— yang akan membangun masyarakat madani (civil society) di Indonesia. Bila tidak, maka tunggulah, akan tercipta para “Generasi Buih”. Orang menyangka “air” (berilmu), ternyata hanya “buih” (tidak berilmu, sehingga mudah terbawa arus dan tidak memiliki manfa’at atau menjadi sampah masyarakat). Jadi, sudah saatnya, kita “mendesain” dinamika Masisir sebagai proses merubah logam menjadi sesuatu yang berharga dan istimewa. Wallâhu a’lâmu bish shawâb.
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya,maka arus itu membawa buih yang mengembang.Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. Ar-Ra’ad [13]:17)
Cairo, 11 November 2006
Daftar Pustaka
1. Asy-Syarifain, Khadim Al-Haramain, Al-Quran wa Tarjamah Ma’âniyah ilâ al-Lughatu al-Andunisia (Al-Quran dan Terjemahnya), (Madinatu al-Munawwarah: Majammak Malik Fahd li Thiba’ah al-Mushaf asy-Syarîf, 1971)
2. Ridla, Dr. Akrim, Idâratu adz-Dzât: Dalîlu asy-Syabâbu ilâ an-Najahi, (Cairo: Dâr at-Tawzi’ wa an-Nasyr al-Islâmi, 2000)
3. Fathy, Muhammad, Al-Waqtu Huwa al-Hayah, (Cairo: Dâr at-Tawzi’ wa an-Nasyr al-Islâmi, 2000)
4. Al-Qoradhowy, Dr. Yusuf, Al-Waqtu fî Hayati al-Muslim, (Cairo: Maktabah Wahbah, 2004)
5. Covey, Stephen R., The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif), (Jakarta: Binarupa Aksara, 1997)
6. ______________, First Things First (Dahulukan Yang Utama), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999)
7. Daud Ibrahim, Marwah, Ph.D, Mengelola Hidup & Merencanakan Masa Depan, (Jakarta: MHMMD, 2004)
8. Az-Zuhaily, Dr. Wahbah, At-Tafsîr al-Munîr fî al-’Aqîdah wa as-Syarî’ah wa al-Manhaj (Libanon: Darul Fikri, 1998)
9. Khalid Muhammad Khalid, Rijâlu Haula Rasûl (Cairo: Darul Muqatham, 1994)
10. Hernowo, Self Digesting (Bandung: MLC, 2004)
Membangun Karakter dan Watak Bangsa
Melalui Pendidikan Mutlak Diperlukan
Oleh: Drs. Bambang Nurokhim
Apabila kita simak bersama, bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Memang idealnya demikian. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan, bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua, baik guru maupun sesama. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa "watak" dengan "watuk" (batuk) sangat tipis perbedaannya. Apabila "watak" bisa terjadi karena sudah dari sononya atau bisa juga karena faktor bawaan yang sulit untuk diubah, namun apabila "watak" = batuk, mudah disembuhkan dengan minum obat batuk. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal, bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia.
Makna Pendidikan
Banyak kalangan memberikan makna tentang pendidikan sangat beragam, bahkan sesuai dengan pandangannya masing-masing. Azyumardi Azra dalam buku "Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi", memberikan pengertian tentang "pendidikan" adalah merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Bahkan ia menegaskan, bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran, artinya, bahwa pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu.
Di samping itu, pendidikan adalah suatu hal yang benar-benar ditanamkan selain menempa fisik, mental dan moral bagi individu-individu, agar mereka menjadi manusia yang berbudaya, sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara.
Perkembangan Pendidikan
Bangkitnya dunia pendidikan yang dirintis oleh Pahlawan kita Ki Hadjar Dewantara untuk menentang penjajah pada massa lalu, sungguh sangat berarti apabila kita cermati dengan saksama. Untuk itu tidak terlalu berlebihan apabila bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei ini, sebagai bentuk refteksi penghargaan sekaligus bentuk penghormatan yang tiada terhingga kepada para Perintis Kemerdekaan dan Pahlawan Nasional. Di samping itu, betapa jiwa nasionalisme dan kejuangannya serta wawasan kebangsaan yang dimiliki para pendahulu kita sangat besar, bahkan rela berkorban demi nusa dan bangsa. Lantas bagaimana perkembangan sekarang? Sangat ironis, memang. Banyak para pemuda kita yang tidak memiliki jiwa besar, bahkan sangat mengkhawatirkan, janganjangan terhadap lagu kebangsaan kita pun sudah tidak hafal, jangankan menghayati. Namun, kita sangat yakin dan semakin sadar, bahwa hanya melalui dunia pendidikanlah bangsa kita akan menjadi maju, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di dunia, sekaligus merupakan barometer terhadap kualitas sumber daya manusia.
Krisis moneter yang berlanjut dalam krisis ekonomi yang terjadi hingga puncaknya ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto dari kekuasaannya pada Mei 1998 yang lalu, telah mendorong reformasi bukan hanya dalam bidang politik dan ekonomi saja, melainkan juga terimbas dalam dunia pendidikan juga. Reformasi dalam bidang pendidikan, pada dasarnya merupakan reposisi dan bahkan rekonstruksi pendidikan secara keseluruhan atau secara komprehensif integral. Reformasi, reposisi dan rekonstruksi pendidikan jelas harus melibatkan penilaian kembali secara kritis pencapaian dan masalah-masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.
Apabila kita amati secara garis besar, pencapaian pendidikan nasional kita masih jauh dan harapan, apalagi untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan perkembangan pendidikan pada tingkat global. Baik secara kuantitatif maupun kualitatif, pendidikan nasional masih memiliki banyak kelemahan mendasar. Bahkan pendidikan nasional, menurut banyak kalangan, bukan hanya belum berhasil meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak didik, melainkan gagal dalam membentuk karakter dan watak kepribadian (nation and character building), bahkan terjadi adanya degradasi moral.
Reformasi Pendidikan
Kita harus sadar, bahwa pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting, bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). Hal ini cukup beralasan. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas, lebih banyak berupa wacana yang seolah-olah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. Tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu Pemerintah mengeluarkan pandangan, bahwa bangsa kita akan makmur, sejahtera nanti di tahun 2030. Suatu pemimpin bangsa yang besar untuk mengajak bangsa atau rakyatnya menjadi "pemimpi" dalam menggapai kemakmuran yang dicita-citakan.
Banyak kalangan masyarakat yang mempunyai pandangan terhadap istilah "kelatahan sosial" yang terjadi akhir-akhir ini. Hal ini memang terjadi dengan berbagai peristiwa, seperti tuntutan demokrasi yang diartikan sebagai kebebasan tanpa aturan, tuntutan otonomi sebagai kemandirian tanpa kerangka acuan yang mempersatukan seluruh komponen bangsa, hak asasi manusia yang terkadang mendahulukan hak daripada kewajiban. Pada akhirnya berkembang ke arah berlakunya hukum rimba yang memicu kesukubangsaan (ethnicity). Kerancuan ini menyebabkan orang frustasi dan cenderung meluapkan perasaan tanpa kendali dalam bentuk "amuk massa atau amuk sosial".
Berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan, pendidikan nasional pada saat yang sama (masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda dengan peran pendidikan pada negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab.
Oleh karena itu, reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Reformasi kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan berkeadaban, sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang bersatu padu (integrated). Di samping itu, peran pendidikan nasional dengan berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh, membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki keadaban (civility) kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta berpartisipasi aktif, merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu masyarakat madani Indonesia. Jangan sampai yang terjadi malah kekerasan yang meregenerasi seperti halnya yang terjadi di IPDN yang menjadi sorotan akhir-akhir ini (Kompas 16/4), Kekerasan fisik yang mengorbankan nyawa dan harta benda tersebut, sangat jelas terkait pula dengan masih bertahannya "kekerasan struktural" (structural violence) pada tingkat tertentu. Akibatnya, perdamaian hati secara hakiki tidak atau belum berhasil diwujudkan.
Pendidikan Karakter
Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.
Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. Sebagaimana disarankan Philips, keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah). Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tatapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter, seperti; pelajaran Agama, Sejarah, Moral Pancasila dan sebagainya.
Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.
Apabila kita cermati bersama, bahwa desain pendidikan yang mengacu pada pembebasan, penyadaran dan kreativitas sesungguhnya sejak masa kemerdekaan sudah digagas oleh para pendidik kita, seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, Prof. HA. Mukti Ali, Ki Hajar Dewantara misalnya, mengajarkan praktek pendidikan yang mengusung kompetensi/kodrat alam anak didik, bukan dengan perintah paksaan, tetapi dengan "tuntunan" bukan "tontonan". Sangat jelas cara mendidik seperti ini dikenal dengan pendekatan "among"' yang lebih menyentuh langsung pada tataran etika, perilaku yang tidak terlepas dengan karakter atau watak seseorang. KH. Ahmad Dahlan berusaha "mengadaptasi" pendidikan modern Barat sejauh untuk kemajuan umat Islam, sedangkan Mukti Ali mendesain integrasi kurikulum dengan penambahan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Namun mengapa dunia pendidikan kita yang masih berkutat dengan problem internalnya, seperti penyakit dikotomi, profesionalitas pendidiknya, sistem pendidikan yang masih lemah, perilaku pendidiknya dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingklingan rumah tangga, sekolah dan masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh. Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju, sejahtera kini, esok dan selamanya. Seiring dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei Tahun 2007 yang lalu dan mereka yang lahir pada tanggal yang sama, semoga panjang umur dan berjiwa pendidik yang patut disuri tau-ladani generasi yang akan datang, bahkan lestari selamanya. Amin. ©
posted @ Wednesday, September 05, 2007 5:51 PM by cakrawala
THE MOTIVATOR Motivator
THE MOTIVATOR is usually friendly, imaginative, empathetic, flexible and the most optimistic of our character types. Motivator biasanya ramah, imajinatif, empati, fleksibel dan paling optimis jenis karakter kita. They are particularly well suited to occupations such as acting, graphic design and psychology. Mereka sangat cocok untuk pekerjaan seperti akting, desain grafis dan psikologi.
The Motivator's strongest personality indicators are in extroversion , intuition , feeling and perception . Motivator terkuat kepribadian indikator ini adalah di ekstroversi , intuisi , perasaan dan persepsi . Some areas may be more pronounced than others. Beberapa daerah mungkin lebih menonjol daripada yang lain. The following information contains a broad description of the character's individual personality components. Informasi berikut ini berisi deskripsi luas's individu kepribadian karakter komponen-komponen.
* THE MOTIVATOR is highly sociable and freely interacts with people. Motivator sangat ramah dan bebas berinteraksi dengan orang-orang. Their conversations cover a wide breadth of subject matter, since they easily speak their mind and react spontaneously to whatever is said. Percakapan mereka mencakup luas luas materi pelajaran, karena mereka mudah berbicara pikiran mereka dan bereaksi spontan terhadap apa pun yang dikatakan. They feel more comfortable around other people than alone; therefore, they maintain a multiplicity of relationships. Mereka merasa lebih nyaman di sekitar orang lain selain sendirian, sehingga mereka mempertahankan multiplisitas hubungan. In doing so, they exert a high level of energy staying in touch with family, friends and associates, so that they can efficiently manage their network of people. Dalam melakukannya, mereka mengerahkan tingkat energi yang tinggi tetap berhubungan dengan keluarga, teman dan rekan, sehingga mereka dapat secara efisien mengelola jaringan mereka orang.
* They rely more heavily on gut feelings than on past experience. Mereka mengandalkan lebih banyak pada perasaan usus dari pada pengalaman masa lalu. Others may view them as having their head in the clouds or as being free-spirited. Lain mungkin melihat mereka memiliki kepala mereka di awan atau sebagai berjiwa bebas. They are imaginative people who are more intrigued with fantasy then facts. Mereka adalah orang-orang imajinatif yang lebih tertarik dengan fakta fantasi kemudian. They spend more time contemplating about future possibilities than worrying about the here and now. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu merenungkan tentang kemungkinan masa depan yang mengkhawatirkan di sini dan sekarang. They are often a great source of inspiration to the people around them. Mereka sering menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di sekitar mereka.
* THE MOTIVATOR is also a good listener. Motivator juga merupakan pendengar yang baik. They are more likely to put themselves in someone else's shoes before passing judgment. Mereka lebih cenderung menempatkan diri dalam sepatu orang lain sebelum melewati penghakiman. They are empathetic. Mereka adalah empati. Values and extenuating circumstances take precedence over policy. Nilai-nilai dan keadaan khusus didahulukan atas kebijakan. They seek out the good in everybody and insist on the humane treatment of all living things. Mereka mencari kebaikan dalam setiap orang dan bersikeras pada perlakuan manusiawi terhadap semua makhluk hidup. They are well liked by others and have the ability to maintain intimate relationships. Mereka sangat disukai oleh orang lain dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan hubungan intim.
* In addition, they manage to roll with the punches. Selain itu, mereka berhasil roll dengan pukulan. They live life in the moment adapting to situations as they pop up. Mereka hidup di saat beradaptasi dengan situasi saat mereka muncul. They are not quick to make decisions and like to keep their options open. Mereka tidak cepat untuk membuat keputusan dan ingin menyimpan pilihan mereka terbuka. Others view them as followers instead of leaders; however, their flexibility makes them good team members. Lain melihat mereka sebagai pengikut bukan pemimpin, namun fleksibilitas mereka membuat mereka anggota tim yang baik. Many of them have problems with commitment and prefer to keep things tentative or open-ended. Banyak dari mereka memiliki masalah dengan komitmen dan lebih memilih untuk menjaga hal-hal sementara atau terbuka. They are often called or called upon at the last minute. Mereka sering disebut atau disebut pada saat-saat terakhir.
May 12, 2007
MANAJEMEN DIRI:UPAYA MEMBANGUN KARAKTER (CHARACTER BUILDING) MASISIR
Filed under: Arsif PPMI CAIRO — supraptoe @ 3:31 pm
Oleh: Udo Yamin Efendi Majdi
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS. Ar-Ra’ad [13]:11).
Iftitâh
Bismillâh. Sejak 2004, seperti air hujan, mahasiswa baru (MABA) dari Indonesia datang membanjiri lembah Sungai Nil. Jumlahnya mencapai 1054. Tahun berikutnya pun demikian. Peningkatan drastis pada dua tahun (2004-2005) itu, satu sisi membahagiakan, karena jumlah kader ummat dan bangsa yang akan mengeluarkan Indonesia dari krisis multidimensi semakin banyak. Namun di sisi lain menyedihkan, setelah natijah imtihân turun, banyak yang rasib. Muncullah sebuah kesimpulan, bahwa secara kuantitas Masisir besar, namun secara kualitas kecil. Ini pula yang membuat Departemen Agama (Depag) RI, tahun ini (2006), mengeluarkan kebijakan untuk menyeleksi, lewat testing di perguruan tinggi Islam di beberapa propinsi, terhadap semua CAMABA, baiknya jalur Depag maupun “Terjun Bebas” dan mensyaratkan adanya “uang bekal” (living cost) sebesar US$. 2500,- (25 juta rupiah).
Terlepas dari polemik dan pro-kontra Masisir terhadap kebijakan Dapag yang dianggap “sepihak” dan “sangat mendadak” tersebut, yang jelas peningkatan jumlah MABA perlu kita respon dengan proaktif dan bijaksana. Sebab, persoalannya, tidak hanya masalah akademis saja, tapi masalah patologi sosial —penyakit masyarakat (baca: Masisir)— yang muncul akibat “penumpukan” emigran; ketidakseimbangan antara kedatangan MABA dengan kepulangan mahasiswa lama.
Oleh sebab itu, dalam tulisan ini, saya ingin mengajak diskusi Anda dan para MABA yang dianggap sebagai “persoalan” (problem) agar berubah menjadi solusi dari masalah (problem solver). Ada empat pembahasan yang akan kita diskusikan di sini, (1) fenomena kehidupan Masisir sebagai upaya identifikasi sekaligus mencari akar masalah Masisir; (2) Manajemen Diri sebagai tawaran solusi dari persoalan Masisir; (3) Tujuh Prinsip dan Kiat Praktis Manajemen Diri sebagai bentuk konkrit dari Manajemen Diri itu; dan terakhir, (4) Manajemen Waktu sebagai pelengkap untuk menjelaskan salah satu prinsip dari 7 prinsip yang saya rumuskan.
Fenomena Kehidupan Masisir
Ada sebuah fenomena kehidupan Masisir, yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir di berbagai kalangan, yaitu “pembusukan karakter”. Maksudnya adalah menggunakan kebanyakan waktu —minjam istilah Stephen R. Covey— “untuk hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting”, serta tidak ada hubungannya dengan Mahasiswa/i Indonesia Mesir (selanjutnya dibaca: Masisir) sebagai civitas akademica.
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu kita sepakati bersama, bahwa Masisir yang kita maksud adalah Masisir berperan sebagai civitas akademika, bukan peran-peran yang lainnya. Mengapa demikian? Sebab,di lapangan, ada yang mendaftarkan diri di lembaga pendidikan di Mesir —baik Al-Azhar maupun yang lainnya— dengan tujuan untuk mendapatkan iqâmah (visa). Betul, status mereka adalah mahasiswa-mahasiswi, tapi peran mereka tidak hanya demikian. Ada yang berperan sebagai suami bagi isterinya yang sedang kuliah. Selama di Mesir, ia hanya menunggu tamat isterinya yang sedang kuliah di Mesir dan mencari nafkah untuk keluarganya. Sebaliknya, ada yang berperan sebagai isteri. Ia hanya mendampingi suaminya menyelesaikan studi.
Mereka tidak kuliah. Mereka hanya mengikuti imtihân (ujian) agar nama mereka tidak tercoret dari lembaga pendidikan itu. Ada juga yang sama sekali tidak mengikuti ujian, karena orang yang ia tunggu tidak sampai tiga tahun. Artinya, kalau pun ia tidak ikut imtihân, maka ia tidak akan mafshûl (dropt out). Di luar peran itu, masih banyak peran lainnya, misalnya karena ia menjadi TKI atau TKW, ingin talaqqi dengan seorang syaikh, dan seterusnya. Jadi, Masisir —dalam tulisan ini— adalah para mahasiswa-mahasiswi yang tinggal di Mesir dengan tujuan untuk menyelesai jenjang pendidikan kesarjanaan (strata 1 sampai strata 3) pada lembaga pendidikan —Al-Azhar atau yang lainnya— di Mesir. Dengan definisi ini meskipun mereka memiliki peran lain —sebagai suami, isteri, aktivis, businessman, dan lain-lain— kalau tujuan utama mereka memperoleh gelar kesarjanaan, inilah yang kita sebut Masisir sebagai civitas akademika.
Sebagai civitas akademika, seharusnya yang terbangun di Masisir adalah budaya ilmiah. Ini dapat terukur dari tiga hal, yaitu (1) budaya membaca —menela’ah; mengkaji; meneliti— karya-karya ilmiah; (2) budaya menulis karya tulis ilmiah, baik itu buku, jurnal, majalah, buletin, maupun media tulisan ilmiah lainnya; (3) budaya diskusi; dan (4) pola pikir, mental, serta perbuatan berdasarkan ilmu. Namun, realitasnya adalah budaya membaca sangat rendah, budaya menulis sangat lemah; dan budaya diskusi sangat susah. Indikator dari keempat hal tersebut dapat dilihat dari: (1) Masisir yang aktif di kelompok kajian (Studi Club) atau Senat Fakultatif, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang aktif di organisasi atau komunitas lainnya; (2) yang sering muncul dalam acara-acara Masisir sebagai pembicara dan dalam media massa Masisir sebagai penulis hanya berputar kepada beberapa orang saja; (3) setiap ada lomba Karya Tulis Ilmiah, pesertanya sangat sedikit; (4) buku; jurnal; dan karya ilmiah Masisir masih sangat minim; dan (5) dalam intraksi sosial dan menghadapi persoalan belum mencerminkan sebagai ilmuan.
Lantas, jika waktu Masisir tidak banyak terkuras untuk membangun budaya ilmiah, maka terpakai untuk apa? Wallahu ‘alam. Menurut pengamatan saya, waktu mereka banyak terbuang —meminjam perkataan Stephen R. Covey— untuk hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting. Misalnya, bergadang malam suntuk ketika musim panas; tidur seharian di musim dingin; membaca Kho Ping Kho berseri-seri; menonton TV atau film “Korea” belasan episode, bahkan film forno; main beragam “game” atau Play Station (PS) tak mengenal waktu, bahkan ada perlombaannya; main gaple sampai Shubuh; chatting, searching, e-mail-email, atau “main internet” tak ada tujuan yang jelas, bahkan ada yang sering meninggalkan sholat lima waktu, dan seterusnya. Inilah contoh pembusukan karakter secara individu —bisa dilakukan sendirian, dalam istilah Al-Quran, perbuatan munkar (al-munkar).
Ada lagi pembusukan karakter secara sosial —tidak bisa dilakukan sendirian, minimal harus ada dua orang, dalam Al-Quran disebut perbuatan keji (al-fahsya’). Tanpa menafikan betapa banyaknya Masisir yang baik dan komitmen menjaga ‘iffah (kehormatan diri), namun tidak bisa kita pungkiri juga, dari sekian banyak Masisir itu, meskipun hampir 100% kuliah di Al-Azhar —yang nota benenya mempelajari Islam— mereka melakukan kehidupan yang tidak Islami. Misalnya, khalwah (berdua-duaan di tempat sepi) dan ikhtilâth (percampuran tanpa uzur syar’i, pacaran jama’i dan pegang-pegang tangan). Sebagian memahami pacaran itu suatu kemestian sebelum nikah, bahkan mencampuradukan dengan al-haq, istilah mereka “pacaran Islami”. Akhirnya, kebablasan. Mereka sering jalan berduaan, nangkring di sûq sayyarât, ngobrol di telpon berjam-jam, SMS-an dan chatting tak kenal waktu, berduaan dalam saqoh, bahkan rihlah berduaan ke objek wisata Mesir. Kondisi inilah yang melahirkan Tim Pemerhati Intraksi Masir (TPIM) yang mengundang pro-kontra Masisir.
Bukan satu atau dua kali, saya menemukan faktanya. Betapa sering Masisir yang mengadu, karena miris melihat temannya sudah tidak lagi mengindahkan norma-norma Islam dalam berintraksi dengan lawan jenis. Bahkan, saya masih ingat, di bulan suci Ramadlan tahun lalu, tepatnya hari Ahad, 9 Oktober 2005, tiba-tiba, telpon di rumah saya berdering. Saya dekatkan gagang telpon ke telinga. Di ujung sana, terdengar suara akhwat: “Betul ini rumah Udo Yamin? Boleh aku bicara dengannya?” Saya membetulkan bahwa saya adalah Udo Yamin. Akhwat itu ingin minta nasehat saya, tapi ia tidak mau memperkenalkan siapa dirinya. Ia mengajukan empat pertanyaan: (1). Bagaimana pandangan Udo terhadap akhwat yang suka main ke rumah laki-laki sendirian? (2). Apa yang Udo lakukan, bila Udo serumah dengan laki-laki yang didatangi akhwat itu? (3) Bagaimana supaya adik-adik kelasnya yang serumah tidak mengikuti kebiasaan jelek akhwat itu? (4) Bagaimana solusi dari semua itu? Saya, tidak akan memaparkan jawaban saya di sini, sebab bukan tempatnya. Yang jelas, saat saya menjawab empat pertanyaan itu, saya dengar akhwat itu menangis. Hati saya ikut tercabik-cabik. “Oooi, napa Masisir kok jadi gini???” batin saya berteriak. Kisah nyata ini saya ceritakan, sekali lagi, untuk menguatkan bahwa apa yang saya sampaikan kepada Anda berdasarkan data dan fakta. Bukan fiktif, apalagi fitnah. Na’ûdzubillâh min dzâlik!
Manajemen Diri adalah Solusi
Tentu saja, bagi Anda sebagai mahasiswa baru (MABA), mungkin fenomena atau realitas di atas, membuat Anda terkejut dan kecewa. Hanya saja, jangan berlarut-larut dalam rasa kecewa itu; mulailah hidup bermakna! Sebab, seburuk apapun situasi dan kondisi di luar sana, apabila Anda respon secara proaktif, maka akan memberikan manfa’at. Bahkan, dengan fenomena di atas, seharusnya membangkitkan nurani Anda untuk merubahnya. Akan tetapi, sebelum merubah Masisir, sebuah keniscayaan Anda —termasuk saya, harus terlebih dahulu merubah diri. Suatu hal yang mustahil Masisir akan berubah, apabila “anfûs” Masisir tidak berubah. Allah Swt pun tidak akan merubahnya. Sebaliknya, manakala kita mulai dari diri kita sendiri (baca lagi firman Alllah diawal tulisan ini), maka Allah Swt. akan membantu kita. Untuk merubah diri itu, kita butuh alat yang kita sebut dengan “manajemen diri”.
Apa itu manajemen diri? Secara sederhana, manajemen —merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2001)— memiliki dua arti, yaitu; (1) penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran; dan (2) pimpinan yang bertanggungjawab atas jalannnya perusahaan dan organisasi. Dalam kajian kita saat ini, arti pertama yang relevan dan perlu kita eksplorasi lebih lanjut.
Selanjutnya, apa arti “diri” atau “saya”? Apakah yang kita sebut “diri” itu adalah akumulatif dari pikiran kita, seperti yang dikatakan David J. Schwarz bahwa “Kita adalah apa yang kita pikirkan tentang diri kita”, atau jargon yang diucapkan oleh Rene Descartes, “Saya berpikir, maka saya ada”? Apakah diri itu adalah apa yang kita rasakan, seperti yang dinyatakan Andre Gide, “Saya merasa, maka saya ada”? Apakah diri itu adalah perbuatan; tindakan; kebiasaan kita, seperti ucapan Albert Camus, “Saya memberontak, maka itulah saya”, atau pernyataan Aristoteles, “Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang.” Atau, ungkapan Nurcholis Madjid, “Aku berbuat, maka aku ada”? Apakah diri itu gabungan dari pikiran dan perasaan kita, sebagaimana dalam konsep “ego” Muhammad Iqbal, bahwa ego (diri) adalah suatu kesatuan perasaan-perasaan —mental— kehidupan personal dan merupakan bagian dari sistim pemikiran. Dan, apakah diri itu adalah gabungan dari semua itu? Wallâhu a’lâmu.
Kata “diri” (anfûs) —jamak dari nafsun— dalam Al-Quran banyak maknanya, diantaranya: rûh (nyawa), dhamîr (hati nurani), jinsun (jenis), dan syahshiyah (pribadi) atau “totalitas manusia” dimana terpadu jiwa-raga manusia. Nah, makna yang terakhirlah yang kita maksud dengan “diri” itu. Yang kita sebut diri, pribadi, individu, adalah totalitas manusia sebagai perpaduan dari jasad dan ruhani, fisik yang bisa kita lihat dan sesuatu yang tak terlihat yang menggerakan fisik (hati; pikiran; jiwa). Diri adalah totalitas dari pemikiran, keinginan, dan gerakan kita dalam ruang dan waktu. Dengan kata lain, perpaduan antara intelektual, emosional, spiritual, dan fisik.
Berangkat dari makna dua kata —“manajemen” dan “diri”— di atas, maka manajemen diri —yang saya maksud— adalah sebuah proses merubah “totalitas diri” —intelektual, emosional, spiritual, dan fisik— kita agar apa yang kita inginkan (sasaran) tercapai.
Tujuh Prinsip dan Kiat Praktis Manajemen Diri
Dalam kitab At-Tafsîr al-Munîr fî al-’Aqîdah wa as-Syarî’ah wa al-Manhaj (Darul Fikri, 1998), Al-Ustadz Dr. Wahbah az-Zuhaily meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas: “Al Fatihah adalah inti dari Al Quran. Dan basmalah —bismillâhirrahmânirrahîm— adalah inti dari surat Al-Fatihah!”
Tentu saja kesimpulan sahabat nabi yang mendapat gelar dari Khalid Muhammad Khalid —penulis Rijâlu Haula Rasûl (Darul Muqatham, 1994)— sebagai “Kiai Umat” adalah benar. Apalagi, sejak kecil beliau sering bersama rasulullah Saw. dan beberapakali beliau menepuk-nepuk punggungnya sambil berdo’a: “Ya Allah, berikanlah ilmu agama yang mendalam dan ajarakan kepadanya ta’wil (Al-Quran)!”
Dari dua belas nama surat Al-Fatihah —Fâtihah Al-Kitâb, Ummu Al-Kitâb, Ummu Al-Quran, Al-Qurân Al-‘Adhîm, As-Sab’u Al-Matsâni, Ash-Shalâh, Ar-Ruqiyah, Al-Asâs, Asy-Syifa’, Al-Kâfiyah, Al-Wâfiyah, dan Al-Hamdu— yang disepakati oleh ulama, ada tiga nama yang menguatkan kesimpulan Ibnu Abbas tersebut, yaitu Fâtihah Al-Kitâb, Ummu Al-Kitâb dan Ummu Al-Quran. Iyya, Al-Fatihah memang sebagai pembuka dan induk dari Al-Quran.
Dengan demikian, jika surat Al-Fatihah inti Al-Quran dan Al-Quran adalah sebagai prinsip hidup kita, maka sudah barang tentu dalam surat Al-Fatihah ada prinsip hidup, termasuk prinsip-prinsip untuk manajemen diri. Tinggallah kemauan kita, apakah mau mencari prinsip itu atau tidak? Bukankah dalam ‘ulûmi al-Qurân (ilmu-ilmu Al-Quran), kita telah mempelajari tentang manthûq (arti tersurat) dan mafhûm (arti tersirat)? Lantas, apa arti tersirat dalam surat Al-Fatihah?
Setiap hari kita minimal membaca surat Al-Fatihah sebanyak 17 kali sehari-semalam dalam sholat. Tapi, pernahkah kita memikirkan makna —baik tersurat maupun tersirat— yang terkandung di dalamnya? Oke, mari kita renungkan bersama makna yang tersimpan dalam surat Al-Fatihah dan kita kaitkan dengan pembahasan kita saat ini.
Prinsip 1: Awali Dengan Basmalah
“Sesungguhnya (hasil) setiap amal perbuatan”, sabda nabi Muhammad Saw. yang diwartakan oleh Imam Bukhari, “tergantung dengan niat.” Begitu pula dengan buah yang akan kita petik dari menajemen diri, itu sangat tergantung pada benih yang kita tabur. Dan benih itu bernama niat.
Nah, apakah niat kita ketika hendak melaksanakan manajemen diri? Apakah hanya sebatas ingin meraih pujian dari ortu, adik-kakak, teman, atau dari yang lainnya? Apakah karena merasa iri dengan prestasi dan apa yang orang lain raih? Apakah hanya sekedar ingin mendapatkan pekerjaan? Apakah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt. dan untuk mencari ridla-Nya?
Ayat pertama —Bismillâhirrahmânirrahîm (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang)— dari surat Al-Fatihah ini, mengajarkan kepada kita, apapun yang kita lakukan harus kita niatkan atas nama Allah; karena-Nya; dan untuk-Nya semata. Semakin ikhlas niat kita, maka semakin bermakna aktivitas kita. Sebaliknya, semakin jauh kita dari-Nya, maka apa yang kita lakukan akan kehilangan makna. Di sinilah, perbedaan antara manajemen diri Islami dengan konsep manajemen diri Barat. Manajemen diri Islami berpusat kepada Allah Swt. (Allah-sentris), sedang konsep manajemen diri lain berpusat kepada manusia (antroposentris).
Langkah praktis dari prinsip 1 ini adalah: Carilah waktu dan tempat yang kondusif untuk melakukan “Majlis Iman” seperti yang sering dilakukan oleh sahabat nabi —Ibnu Rawahah—, yaitu merenungi diri sejenak. Atau, minjam istilah Kang Hernowo; dalam bukunya Self Digesting (MLC, 2004)— melaksanakan Komunikasi-Internal Diri, yaitu menyingkirkan seluruh wujud di luar diri dan kemudian, secara aktif, bertanya tentang keberadaan diri.
Nah, yang kita tanyakan kepada batin kita kali ini adalah niat kita: Apa tujuan saya melakukan manajemen diri? Dengarkan semua jawaban yang muncul dalam hati nurani. Lalu, tutup dengan sebuah pertanyaan: “Apakah saya melakukan hal ini karena Allah?” Bila nurani Anda mengatakan “YA” dan tidak ada keraguan sama sekali, maka mulailah melangkah dan ucapkan “Bismillâhirrahmanirrahîm”. Sebaliknya, jika jawabannya: “TIDAK”, atau masih ada keraguan, maka ulang perenungan ini dari awal, hingga mendengarkan nuranimu berkata: “YA!”.
Prinsip 2: Terimalah Diri Apa Adanya
Salah satu ciri utama muslim adalah beriman sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya. Maka dalam melihat diri harus dengan kaca mata iman. “Iman itu”, sabda nabi Muhammad Saw., “setengahnya berada pada syukur dan separonya lagi ada pada sabar”. Kita harus bersyukur terhadap nikmat dari Allah, yaitu berupa apa saja yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebaliknya, kita harus bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, yaitu apa saja yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
Selanjutnya, kita harus mampu membedakan, mana yang bisa kita ubah, dan mana yang tidak bisa kita ubah dalam diri kita. Contoh yang kita bisa ubah adalah pikiran, perasaan, kebiasaan kita, dan seterusnya. Yang tidak bisa kita ubah adalah hari lahir kita, ortu kita, semua pengalaman hidup kita, dan seterusnya. Maka ubahlah terhadap hal-hal yang bisa kita ubah! Sebaliknya, terimalah apa adanya yang tidak bisa kita ubah.
Misalnya, ada yang tidak mengakui ortunya orang kampung. Di hadapan teman-temannya, ia mengaku anak ningrat dan ortunya sudah lama meninggal, padahal kedua orang tuanya masih ada di kampung bertarung dengan lumpur di sawah. Itu bukan langkah ke arah kemajuan, tapi ia sedang memotong cabang pohon tempatnya berpijak; lambat laun tapi pasti, ia akan jatuh oleh kebohongan itu.
Atau, ada yang tidak menerima kenyataan pengalaman hidup yang pahit. Hari demi hari, ia terbelenggu dengan masa lalu. Segala upaya ia lakukan agar melupakan pengalaman itu. Padahal masa lalu tidak mungkin bisa kita ubah. Bahkan, tidak bisa kita lupakan. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai atau menerima masa lalu itu apa adanya. Yang kita ubah, bukan masa lalu itu, tapi pikiran, perasaan, dan sikap kita terhadap masa lalu itu. Alias respon kita.
Seburuk apapun yang kita miliki —ortu, adik-kakak, rumah, kampung halaman, daerah, negara, dst— terimalah apa adanya. Sekelabu apapun masa lalu, biarkanlah ia berlalu dan jangan merasa terbelenggu. Kesempatan menghirup udara detik ini adalah nikmat yang terbesar untuk kita syukuri. Artinya, Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk mengubah apa yang bisa kita ubah dan menerima apa yang tidak bisa kita ubah. Gunakan detik ini dan detik berikutnya untuk merubah diri. Paling tidak, ucapkan dengan tulus: “Al-hamdulillâhi rabbi al-‘âlamîn!” (Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam) atas semua nikmat dari Allah —otak, telinga, mata, kaki, tangan, jantung, dan seluruh anggota tubuh lainnya— yang masih berfungsi sampai detik ini.
Intinya, dengan kaca mata iman, semuanya menjadi kebaikan; bila kita mampu meraih sesuatu sesuai dengan keinginan, maka kita akan bersyukur. Sebalik, jika mendapatkan sesuatu yang tidak kita inginkan, maka kita akan sabar. Sehat, syukur. Sakit, sabar. Bagi orang beriman, tidak ada bedanya antara sehat dan sakit, keduanya tetap mendatangkan rasa bahagia. Wajar jika nabi bersabda: “Sungguh sangat mengagumkan orang yang beriman. Segala urusannya adalah baik baginya. Dan itu terjadi, kecuali hanya pada orang yang beriman. Jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Apabila ditimpa musibah, ia bersabar. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya.” (Muslim & Ahmad)
Langkah praktis prinsip 2 ini adalah: Lakukan lagi Majlis Iman Ibnu Rawahah: Merenunglah sejenak! Gunakan “kesadaran diri” (yaqdzah/self awarness) untuk melihat apa yang telah (pengalaman hidup) dan apa yang sedang terjadi (kondisi hidup) pada dirimu. Lalu, aktifkan “suara nurani” (bashîrah/conscience) dalam dirimu. Pelajari dan catatlah, mana yang bisa Anda ubah, dan mana yang tidak bisa Anda ubah! Dari data dirimu itu, “gunakanlah” (use it) apa yang Anda bisa ubah sebagai bahan pelajaran untuk merubah diri atau melejitkan potensi diri. Bersyukurlah! Sedangkan yang tidak bisa Anda ubah, maka abaikanlah (lose it)! Dan bersabarlah!
Prinsip 3: Berikanlah Yang Terbaik
“Tidak pernah akan rugi orang yang beristikharah,” petuah nabi Muhammad Saw. yang dituturkan oleh Imam Malik, “dan tidaklah menyesal orang yang bermusyawarah.” Istikharah adalah mendiskusikan persoalan kepada Allah Swt. Sedangkan musyawarah mendiskusikan masalah kepada manusia. Keduanya bertujuan ingin mencari solusi terbaik dari apa yang kita hadapi.
Namun sayang, terkadang kita begitu menginginkan Allah Swt. dan manusia memberikan yang terbaik untuk kita, sedangkan kita sendiri enggan memberikan yang terbaik untuk-Nya dan mereka. Maka sebelum memohon petunjuk kepada Allah Swt. dan minta pendapat kepada manusia, berikanlah yang terbaik untuk Allah Swt. dan manusia dengan cara menyambungkan tali kasih sayang kepada-Nya (hablum minallâh) dan kepada manusia (hablum minannâs).
Sebaik apapun yang kita berikan —waktu, tenaga, pikiran, harta, dan seterus— untuk mengabdi kepada Allah Swt. sebagai bukti menyambungkan kasih sayang kepada-Nya, maka semua itu tidak pernah mampu membalas apa kasih sayang-Nya kepada kita. Wajar, jika Allah Swt., mengulangi kalimat: “Arrahmânirrahim”. Dan sebanyak apapun rahmat yang kita terima di dunia ini, maka hanya seper-sekian dari satu persen (1%) nikmat-Nya.
“Allah menciptakan rahmat menjadi seratus bagian,” ujar Imam Bukhari menyampaikan hadis dari nabi, “kemudian menetapkan 99 bagian di sisi-Nya dan menyempurnakan satu bagian inilah semua makhluk saling mengasihi, hingga seekor kuda mengangkat kaki dari anaknya karena khawatir menginjaknya.” Dalam riwayat Imam Muslim, hadis itu ada lanjutannya, yaitu “maka bila datang hari kiamat Allah menyempurnakan rahmat-Nya (99 rahmat di sisi-Nya) menjadi seratus rahmat dengan tambahan rahmat ini (rahmat dunia).”
Dan sebaik dan sebanyak apa pun yang kita berikan kepada manusia, itu tak mampu menggerakan manusia untuk membalas kebaikan kita, tanpa bantuan Allah Swt.. Allahlah yang membukakan hati manusia untuk membalas atas kebaikan kita (baca: QS. Al-Anfâl [8]: 63). Kuncinya, sekali lagi, minta bantuan kepada Allah Swt..
Bila hubungan kita dengan Allah sudah harmonis, maka insyâ Allâh, kita akan mudah berhubungan dengan manusia. Sebaliknya, bila hubungan kita dengan Allah, terputus, maka kita akan sulit harmonis dengan manusia, bahkan dengan diri kita sendiri kita tidak harmonis. Lantas, bagaimana kita mmelakukan manajemen diri, jika diri kita berantakan?
Langkah praktis prinsip 3 ini adalah: Pertama, bila selama ini kita lalai melaksanakan kewajiban kepada Allah, terutama sholat lima waktu, maka cepatlah taubat. Setelah sholat wajib itu kita perbaiki, maka lakukan sholat istikharah, yaitu sholat dua raka’at untuk meminta sesuatu kepada Allah, terutama sesuatu yang membingungkan kita. Bertanyalah dan pintalah kepada Allah, cara me-manajemen diri. Insya Allah, dengan cara-Nya, Allah akan menjawab pertanyaan dan permintaan kita; Kedua, setelah kita minta fatwa dari hati nurani dan Allah, maka berdiskusilah kepada orang yang paling Anda percayai dan ahli dalam persoalan yang Anda hadapi. Ceritakan keinginanmu untuk merubah diri dan mintalah pendapatnya. Dan buatlah rencana untuk menjalin hubungan lebih erat kepada Allah dan manusia.
Prinsip 4: Lihatlah Impian
“Barang siapa menjadikan akhirat sebagai impiannya,” pesan rasulullah Saw. dalam kesempatan lain, “Allah akan menjadikan kekayaan dan rasa cukup dalam hatinya, mengumpulkan yang tercerai-berai darinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barang siapa menjadikan dunia sebagai impiannya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya, mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali yang telah disempitkan kepadanya.”
“Hai Harits,” sapa nabi Muhammad Saw. kepada Harits bin Malik r.a., “gimana keadaanmu pagi ini?” Harits menjawab: “Pagi ini, saya dalam keadaan beriman, ya rasulallah!” Rasulullah Saw. kembali bertanya: “Setiap perkataan itu ada hakikatnya. Nah, apa buktinya imanmu itu?” Dengan mantap Harits menanggapi: “Diriku menjauhi dunia. Malamnya aku bergadang (qiyamullail), sedangkan siangnya, aku shaum. Dan aku seolah-olah telah melihat ‘Arsy Tuhanku dengan begitu jelas. Aku juga, seakan-akan telah melihat para ahli surga yang saling datang berkunjung, sedangkan ahli neraka meliuk-liuk kelaparan!” Mendengar curhat Harits bin Malik r.a, rasulullah Saw. baru yakin seraya bersabda: “Hai Harits, sekarang saya baru percaya. Maka, pertahankanlah!” Kemudian rasulullah memberitahukan bahwa Harits telah sampai kepada yang menjadi tujuan hidupnya, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat ahli surga, maka coba perhatikan Harits!” (HR. Thabrani)
“Mâliki yaumi ad-dîn” (Yang menguasai hari pembalasan). Ini adalah prinsip lebih dahsyat dari prinsip “Mulai dengan Akhir dalam Pikiran” —Merujuk Pada Tujuan Akhir— milik Stephen R. Covey. Allah Swt. mengajak kita untuk membayangkan “yaumi ad-dîn” (hari pembalasan). Semakin jelas hari pembalasan itu dalam hati dan pikiran kita, maka hidup kita akan semakin baik.
Dalam Al-Quran dan hadis, Allah dan rasul-Nya, menjelaskan semua kejadian pada hari pembalasan ini. Bagi yang mendapatkan buku catatan dengan tangan kanan, berat timbangan kebaikannya banyak, bisa melewati “shirâth al-mustaqîm”, dan seterusnya, maka akan bertemu dengan Allah dalam surga. Sebaliknya, bagi yang mendapatkan buku catatan dengan kanan kiri, timbangan kejelekannya berat, tidak bisa melewati “shirâth al-mustaqîm”, dan seterusnya, maka akan bersama syetan dalam neraka. Perhitungan pada hari itu, semuanya adil, sebab Allah Maha Melihat, Mengetahui, dan Mendengar semua yang kita lakukan, apalagi semua saksi akan dihadirkan, mulai dari malaikat, rasul, manusia, benda-benda, bahkan seluruh anggota tubuh kita.
Sedangkan Stephen R. Covey —dalam bukunya The 7 Habits of Highly Effective People— mengajak kita membayangkan upacara pemakaman. Di sana ada empat kelompok manusia yang akan memberikan sambutan; (1) keluarga dekat —anak, kakak, adik, sepupu, bibi, paman, keponakan, kakek, dan nenek; (2) perwakilan teman; (3) dari tempat kerja; dan (4) dari gereja atau ormas. Lalu, ia suruh kita membayangkan, apa yang kita inginkan dalam sambutan keempat perwakilan itu?
Setelah saya coba visualisasi pemakaman tersebut, yang saya rasakan adalah, pertama; membangun diri kita untuk riya’, sebab berpusat kepada manusia (antroposentris); dan kedua; sambutan (penilaian) dari perwakilan empat komponen itu tidak pernah akan objektif, sebab mereka tidak setiap detik menyertai kita. Jauh berbeda dengan cara Al-Quran dan hadis mengajak kita membayangkan hari akhirat, bahwa kaki, tangan, telinga, mata, kulit kita akan bicara jadi saksi atas semua perbuatan kita di hadapan Allah Swt. (baca: QS. Yasin [36]: 65 atau Fushshilat [41]: 20-21). Visualisasi berpusat kepada Allah ini lebih menyentuh hati dan menggerakan jiwa untuk berbuat baik.
Nah, jika kita mampu membayangkan semua kejadian di akhirat nanti, lalu mengapa kita tidak mampu membayangkan impian hidup kita beberapa tahun yang akan datang? Ingat, salah satu ciri orang sukses adalah dapat melihat sesuatu sebelum segala sesuatu itu terjadi. Seperti Harits bin Malik di atas.
Langkah praktis prinsip 4 ini adalah: Gunakan imajinasi (fikrah/imagination) untuk memvisualisasikan (menggambarkan dalam pikiran) saat di alam akhirat; alam kubur; detik-detik menjelang kematian; dan beberapa tahun yang akan datang (5, 10, 35 tahun).
Saat memvisualisasikan akhirat, bertanyalah kepada dirimu: “Apakah saya termasuk orang bisa menatap wajah Allah atau tidak? Apakah saya ahli surga atau neraka? Apakah saya selamat melintasi shirâth al-mustaqîm atau terjatuh? Apakah buku amalan saya hasil catatan malaikat Raqib dan Atid lebih banyak memuat kisah iman dan amal shaleh atau kekafiran dan kemaksiatan? Apakah “rekaman perbuatan” saya yang dilakukan oleh Allah, diri sendiri, rasul-Nya, orang beriman, manusia, dan benda-benda yang kita miliki banyak merekam kebaikan atau keburukan? Apakah tatkala matahari beberapa senti di atas kepala kita, kita termasuk orang yang mendapat naungan cahaya dari Allah atau bukan? Apakah ketika air keringat meluap sebatas lutut; dada; hidung; bahkan sampai menenggalamkan kepala, kita termasuk yang mendapat pertolongan Allah atau bukan? Ketika manusia berbondong-bondong meminta syafa’at kepada nabi, apakah kita termasuk orang yang menerimanya atau justru ditolak nabi karena kita tidak pernah mengikuti cara hidupnya? Dan seterusnya.
Ketika memvisualisasikan diri dalam alam kubur: “Apakah saya bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir? Apakah di alam kubur saya termasuk orang yang mendapat nikmat atau tersiksa? Apakah amal perbuatan saya akan menjelma jadi penghibur atau penyiksa? Apakah kuburan saya termasuk dilapangkan oleh Allah Swt. atau tidak? Apakah di alam kubur saya diperlihatkan keindahan surga atau justru kepedihan neraka? Dan seterusnya.
Tatkala memvisualisasikan detik-detik menjelang kematian: “Apa yang telah aku lakukan untuk diri sendiri, ibu-bapak, adik-kakak, pasangan hidup, anak, nenek-kakek, bibi-paman, teman, dan seluruh manusia? Apakah menjelang kematian saya berada di tengah-tengah orang saya cintai atau bukan? Apakah ketika mati saya dalam keadaan dekat dengan Allah atau tidak? Apakah saat nyawa dicabut, saya mengucapkan dua kalimat syahadat atau tidak? Ketika saya meninggal, apakah saya meninggalkan anak sholeh yang memandikan, mengapani, menyolatkan, dan menguburkan saya atau tidak? Setelah saya meninggal, apakah saya menjadi buah tutur yang baik atau bukan?
Sewaktu memvisualisasikan beberapa tahun yang akan datang, misalnya 25 tahun —bayangkan berdasarkan peran: “Sebagai hamba Allah: Apakah ketika itu pemikiran, perasaan, dan tidakkan saya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau tidak? Apakah saya termasuk orang istiqamah dengan tuntutan iman atau tidak? Apakah ibadah saya ikhlas dan sesuai dengan contoh nabi? Apakah akhlak saya Islami atau bukan? Sebagai pribadi: “Apakah saya telah mengoptimalkan potensi diri saya atau belum? Apakah saya berbahagia atau tidak? Apakah diri berkembang atau tidak? Sebagai anak: “Apakah saya termasuk berbakti atau tidak? Apa yang telah saya berikan untuk kedua ortu saya? Apakah saya sering mendo’akan ortu atau tidak? Sebagai ortu: “Berapa anakkah yang saya miliki? Apakah saya telah menjadi ortu yang baik atau bukan? Apa yang telah saya berikan terhadap anak saya? Sebagai pekerja: “Apakah saya memiliki pekerjaan tetap atau tidak? Apa jenis pekerjanan saya? Di mana saya bekerja? Berapa gaji saya? Sebagai anggota masyarakat: “Apakah kontribusi saya terhadap masyarakat? Apakah masyarakat menyukai saya atau tidak? Begitu seterusnya.
Prinsip 5: Temukan Potensi dan Peluang Diri
“Mukmin yang kuat,” sabda nabi Muhammad Saw., “lebih baik dan lebih Allah cintai dari pada mukmin yang lemah. Walaupun keduanya tetap memiliki kebaikan —potensi. Seriuslah terhadap sesuatu yang bermanfa’at bagimu dan minta bantuan kepada Allah, serta jangan bersikap lemah. Jika ada sesuatu yang menimpamu, jangan bilang: “Andaikan saya melakukan ini, pasti deh akan begini. Andaikan saya melakukan itu, pasti deh akan begitu!” tetapi katakan: “Inilah taqdir Allah, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi!”, sebab kata “berandai-andai” —kalau begini, kalau begitu— akan membuka tindakan syetan.” (HR. Muslim)
Suatu hari, seorang pengemis datang kepada Nabi Muhammad Saw.. Ia minta sedekah, tapi tidak Nabi beri. Padahal kita tidak meragukan kedermawan Nabi. Lantas, mengapa beliau tidak memberi pengemis itu sesuatu? Baik kita lanjutkan kisah ini.
“Apa yang Anda miliki?” tanya Nabi. Pengemis itu menjawab: “Saya hanya punyai selembar permadani dan sebuah nampan.” Beliau berkata lagi, “Bawa kedua barang itu ke sini!” Lantas, Nabi menawarkan barang itu kepada para sahabatnya. “Siapa yang mau membeli barang ini?” tanya Nabi. Salah seorang sahabat mengajukan harga, “Saya berani beli lima dirham!” Maka tanya beliau lagi, “Siapa yang berani membayar lebih?” Lalu, sahabat yang lain memberikan harga lebih. Nabi pun mengedarkan pandang dan bertanya lagi, “Siapa yang berani membayar lebih?” Akhirnya, barang itu dilelang seharga 15 Dirham. Hasil lelang ini, Nabi perintahkan, setengahnya untuk keperluan rumah tangga pengemis, separuhnya lagi untuk beli kampak, seraya berpesan, “Pergilah ke hutan dan carilah kayu bakar, dan jangan perlihatkan dirimu selam tujuh hari sebelum kamu berhasil!”
Dari kisah itu, ada enam strategi Nabi dalam membantu orang supaya hidup mandiri, antara lain, (1). Mempelajari posisi dan mendudukan masalah sesuai dengan porsinya; (2). Mengundang para sahabatnya dan menganjurkan untuk bergotong royong meringankan beban saudaranya dengan jalan membeli barangnya; (3) menyisihkan separoh hasil lelang untuk keperluan keluarganya; (4) memerintahkan agar menginvestasikan sisa uang untuk membeli alat yang dapat digunakan untuk mencari nafkah; (5) melalui cara investasi modal, produksi dapat digalakkan dan pembangunan dapat ditingkatkan. Semua ini adalah sarana yang tepat untuk memecahkan problem ekonomi; (6). Mengawasi pelaksanaan anjuran atau perintah tersebut, apakah sudah berjalan sesuai dengan yang dimaksud.
Saya tidak akan membicarakan 6 hal itu. Tapi kita perhatikan pertanyaan beliau: “Apa yang Anda miliki?” Ini sebuah pertanyaan yang menuntut kita untuk hidup mandiri (independensi) —dan ini inti dari manajemen diri— seperti yang dikatakan oleh Stephen R. Covey. Dan menurutku, kunci utama untuk melakukan kemandirian itu adalah dengan menggantungkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah Swt. semata; tidak kepada makhluk-Nya.
Sebab, bila kita masih menggantungkan diri kepada makhluk-Nya, kita tidak pernah mandiri, hingga pada tingkat tertentu rasa ketergantungan kita terhadap makhluk-Nya —manusia—, maka diri kita akan terjatuh dalam perilaku menghambakan diri kepada selain-Nya. Bila sudah demikian, maka kemandirian itu hilang, akhirnya berubah menjadi keterjajahan. Jiwa yang terjajah, tidak pernah akan mengalami perkembangan.
Maka ungkapan kita dalam surat Al-Fatihah ayat 5 —“Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în” (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan)— merupakan sebuah afirmasi (penguatan) terhadap diri agar kita hidup mandiri.
Pengakuan untuk menyembah dan minta tolong, sebuah isyarat bahwa betapa lemahnya kita di hadapan Allah Swt.. Semakin kita merasa lemah di hadapan-Nya, rasa ketergantung terhadap-Nya juga akan semakin besar. Kita pun semakin banyak beribadah kepada-Nya. Ibadah itu akan mengembangkan seluruh potensi diri kita. Buahnya adalah kekuatan diri. Saat itu pula, akan muncul rasa kuat di hadapan manusia. Dua perasaan itu bersatu dalam diri kita: satu sisi merasa lemah di hadapan Allah, dan di sisi lain, merasa kuat di hadapan manusia. Inilah salah satu ciri manajemen diri Islami, yaitu kemampuan kita untuk menggabungkan dua hal yang berbeda dalam diri kita secara bersamaan dan keduanya membuahkan kebaikan.
Manajemen diri itu kita arahkan untuk menjadi rahmatan lil âlamîn. Makna rahmatan lil ‘alamin adalah ketika kita mampu memberikan manfa’at kepada manusia dan inilah manusia yang paling Allah cintai: “Sejatinya, seluruh makhluk adalah satu keluarga Allah. Orang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfa’at terhadap keluarga-Nya.” (HR. Abu Ya’la)
Maka bila makna surat Al-Fatihah ayat 5 kita hayati betul, maka akan muncul sifat tawadhu’ (QS. Al-Furqan [25]: 63). Orang tawadhu adalah orang yang melihat dirinya secara objektif; apa adanya tanpa imbuhan. Mereka tidak menutupi kelebihan dan kekurangan dirinya. Orang yang suka menutupi kelebihannya, ini tanda ia kurang percaya diri dan rendah diri, akhirnya mereka akan jadi manusia putus asa. Sebaliknya, orang yang suka menutupi kelebihannya, ini tanda ia terlalu percaya diri, akhirnya ia akan sombong. Jadi, orang yang tawadhu adalah orang yang mensyukuri kelebihannya dengan cara memberikan apa yang ia miliki untuk membantu orang lain dan orang tawadhu adalah orang yang bersabar atas kekurangan dirinya dengan cara belajar dari siapa saja yang memiliki apa yang ia butuhkan.
Langkah praktis prinsip 5 ini adalah: Anda pernah mempelajari konsep problem solving SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, dan Treatment)? Nah, luangkan waktumu untuk mengajukan pertanyaan nabi itu kepada dirimu sendiri: “Apa yang kamu miliki?” Arahkan pertanyaan ini ke “dalam” dirimu. Perhatikan, kelebihan (strength) dan kekurangan (weakness) yang kamu miliki. Lalu, arahkan pertanyaan nabi ke sesuatu “di luar” dirimu —keluarga, sekolah, lingkungan, dst. Perhatikan, kesempatan (opportunity) dan rintangan (treatment). Sambil bertanya, ambillah pulpen dan kertas. Tulis empat kolom besar di kertas itu. Pada bagian atas kolom itu, masukan empat kata itu. Tulislah jawabanmu dalam empat kolom sesuai dengan katagori: kekuatan, kekurangan, kesempatan, dan peluang. Simpan hasilnya, nanti akan Anda butuhkan sebagai bahan melaksanakan langkah praktis prinsip selanjutnya.
Prinsip 6: Rumuskan Cara Meraih Impian
“Iman itu bukan sekedar angan-angan kosong, bukan buah bibir,” tutur nabi Muhammad Saw., “tapi tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan tindakan.” Hadis yang diceritakan oleh Dailami ini, menegaskan kepada kita, sebuah impian harus ada tindakan nyata untuk meraihnya.
Iman itu keyakinan. Keyakinan akan bertemu dengan Allah, inilah impian, misalnya. Bila kita yakin akan bertemu dengan Allah di surga dan sudah tergambar di benak kita di dunia ini, maka tercapai atau tidaknya, apa yang kita lihat lewat kekuatan majinasi ini, tergantung dengan usaha. Sekadar yakin tanpa tindakan, itulah yang disebut nabi dengan angan-angan kosong atau khayalan. Sedangkan keyakinan disertai tindakan, inilah yang disebut C.R. Snyder —ahli psikologi dari Universitas of Kansas— harapan. Menurutnya, harapan adalah “yakin bahwa kamu mempunyai kemauan maupun cara untuk mencapai sasaran kamu, apapun sasaran kamu itu.”
Nah, sebagus dan sebesar apapun impian kita, bila kita tidak mampu menerjemahkannya dalam bentuk sasaran atau target, maka kecil kemungkinan akan tercapai. Diantara kita, banyak yang memimpikan masuk surga, tapi dalam kehidupan sehari-hari tidak sungguh-sungguh menempuh jalan menuju surga. Atau, mengimpikan jadi orang sukses, tapi cara menjadi orang sukses itu tidak kita lakoni.
Biasanya, manakala ada kesenjangan antara impian dengan tindakan, maka akan melahirkan tidak percaya diri, kemalasan, keputus-asaan, kehilangan arah hidup (disorientasi), dan akhirnya, keterpecahan pribadi (split personality). Sebaliknya, sekecil apapun tindakan yang kita target dan itu dapat kita raih, akan mendatangkan rasa percaya diri, semangat, harapan, hidup bermakna, dan integritas.
Dalam bertindak, kita memerlukan juknis (petunjuk teknis) atau juklak (petunjuk pelaksana). Petunjuk, dalam bahasa Al-Qurannya adalah “hidâyah”. Di sinilah surat Al-Fatihah ayat 6: “Ihdinash shirâth al-mustaqîm” (Tunjukilah kami jalan yang lurus), menemukan maknanya. Ya, untuk meraih impian surga, kita butuh petunjuk “jalan lurus” atau Islam.
Dalam Al-Quran, kata “shirath” (jalan) —murâdif (sinonim) dari kata “sabîl” (jalan)— selalu dalam bentuk mufrad (tunggal) dan selalu berkaitan dengan al-haqq (kebenaran). Sedangkan jalan menuju al-bâthil (kesesatan) memakai kata jama’ (plural), yaitu kata “as-subul” (sebagai contoh, baca: QS. Al-An’am [6]: 153). Ini menunjukan jalan kebenaran itu hanya satu, yaitu Islam, sedangkan jalan kesesatan itu sangat banyak dan tidak terhitung. Maka sangat keliru, orang yang menyakini pluralisme agama: semua agama benar dan jalan menuju surga.
Islam diturunkan oleh Allah di muka bumi ini untuk menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidup ini. Ajaran Islam begitu canggih dalam menjelaskan cara untuk meraih impian surga. Pertama, Islam mengajarkan kita untuk membuat misi pribadi berupa dua kalimat syahadat. Lalu, disusul dengan sasaran target —baik yang wajib maupun sunnah— yang berskala waktu seumur hidup (haji), tahunan (shaum dan zakat fitrah), bulanan (shaum ayyâm al-bidh: puasa 13, 14, dan 15 bulan hijriyah), mingguan (sholat Jum’at; shaum Senin-Kamis), harian (sholat lima waktu), pagi dan sore, bahkan skala detik (dzikir).
Nah, bila kita mampu menjalankan ajaran Islam itu dengan baik, maka akan semakin bagus kita melaksanakan manajemen diri; kita lebih mudah lagi dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan. Karena semua ajaran Islam mengajak kita untuk hidup disiplin. Misalnya, kemampuan kita untuk sholat lima waktu tepat waktu dan di masjid, ini akan membangun berbagai karakter baik dalam diri kita, seperti hidup bersih, komitmen, integritas, disiplin, dan seterusnya. Begitu juga dengan ajaran Islam lainnya, selalu mendidik kita untuk meraih kesuksesan pribadi dan publik seperti yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey.
Langkah praktis prinsip 6 ini adalah: Gabungkan hasil langkah praktis prinsip 5 dan 6 dalam bentuk naskah hidup yang tertulis di atas kertas. Dari semua yang telah Anda visualisasikan pada prinsip 5 simpulkan dalam satu kalimat yang pendek, jelas, dan menggugah. Inilah yang disebut visi. Selanjutnya, terjemahkan visi ini dalam tujuan hidupmu secara global, atau sering kita sebut dengan misi. Ya, Anda buat pernyataan misi pribadi. Lalu, terjemahkan visi dan misi itu dalam bentuk target hidup, baik secara pribadi maupun sosial. Dari sana, buatlah blue print hidup yang menggambarkan keinginanmu dalam kurun waktu tertentu.
Prinsip 7: Belajarlah dari Pengalaman
“Bukanlah orang cerdas kecuali pernah tergelincir, bukan pula orang yang bijak kecuali berpengalaman” pesan nabi Muhammad Saw. kepada kita lewat Imam Tirmidzi. Ini sebuah isyarat bahwa nabi sepakat dengan metode belajar trial and error —berani mencoba meskipun nanti bisa jadi salah— dalam menjalani hidup ini.
Lebih lengkap lagi, kita dengarkan cerita Thalhah bin Abdullah. “Aku bersama rasulullah Saw.,” ujar Thalhah mulai bercerita, “melewati sekelompok orang yang berada dipucuk pohon-pohon kurma. Rasulullah Saw. bertanya, “Apa yang sedang mereka perbuat?” Jawab para sahabat, “Mereka sedang mengawinkan pohon kurma. Mereka masukkan yang jantan ke dalam betina agar berbuah.” Lalu nabi bersabda, “Aku rasa, hal itu tidak akan berhasil.” Thalhah berkata, “Lalu mereka diberitahu tentang hal itu dan mereka akhirnya meninggalkannya.” Kemudian rasulullah Saw. diberitahu tentang hal itu dan beliau bersabda: “Jika hal itu bermanfa’at bagi mereka, maka lakukanlah. Karena sesungguhnya aku hanya memperkirakan saja. Maka jangan kalian menyiksaku dengan sebuah dugaan. Akan tetapi jika aku menginformasikan sesuatu dari Allah, maka ambillah. Karena sesungguhnya aku tidak akan pernah berdusta tentang urusan dunia kalian”. Dan dalam riyawat Imam Muslim, setelah itu nabi bersabda: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian!”
Jadi, kita boleh mencoba sesuatu, meskipun kita tidak tahu, apakah itu akan berhasil atau gagal. Karena gagal setelah mencoba, jauh lebih baik daripada gagal untuk mencoba. Karena dari kegagalan itu kita akan memiliki pengalaman. Konon, ketika Thomas Alfa Edison 1000 kali gagal dalam percobaannya, ia berkata: “Saya tidak gagal, tapi saya telah menemukan 1000 cara yang salah!”
Dari prinsip 1 sampai 6 lebih terfokus pada diri sendiri. Sekarang keluarlah, lihat apa yang terjadi pada orang lain. Dalam ayat terakhir surat Al-Fatihah, kita membaca: “Shirâthalladzîna an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhûbi ‘alaihim wa ladhdhâllîn” (yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat).
Nah, dalam ayat 7 surat Al-Fatihah ini, Allah menceritakan tentang jalan orang mendapatkan ni’mat Allah, yaitu jalan para nabi, ash-shiddiqîn, asy-syuhadâ, dan ash-shâlihîn (baca: (QS. Ani-Nisa [4]: 69). Inilah jalan keimanan. Lalu, Allah menceritakan jalan orang yang mendapat murka Allah Swt. dan tersesat. Berdasarkan keterangan Ibnu Katsir, rasulullah Saw. menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “al-maghdûbi” (yang dimurkai Allah) adalah orang Yahudi, sebab mereka mengetahui kebenaran tapi tidak mau mengamalkannya. Dan “adhadhâllîn” (Yang Tersesat) adalah orang Nashrani (Kristen) karena mengamalkan sesuatu tanpa mengetahui kebenarannya. Jadi, jalan kebenaran; Islam hanya satu, begitu juga jalan iman itu tunggal, sedangkan jalan kafir itu sangat banyak.
Untuk kesuksesan akhirat, kita harus mempelajari mana jalan keimanan yang akan membawa kita menuju surga, sebaliknya mana jalan kekafiran yang akan menjerumuskan kita ke jurang neraka. Kita harus menempuh jalan keimanan dan menjauhi jalan kekafiran. Dalam hal keimanan, mau tidak mau kita harus belajar dari pengalaman orang yang beriman. Karena, Allah telah berlepas tangan dari orang kafir dan memberikan “ar-rahim”-Nya hanya kepada orang beriman saja.
Adapun untuk kesuksesan duniawi, kita mempelajari pengalaman siapa saja —terutama untuk diri sendiri, meskipun dari orang kafir. Karena sifat “ar-rahmân” Allah Swt., tidak membedakan antara orang beriman dan orang kafir, orang beriman tapi malas akan bodoh; orang kafir rajin belajar akan cerdas. Orang beriman menanam cabe, tidak akan manis. Orang kafir menanam cabe, tidak akan pahit. Rasanya akan sama, yaitu pedes. Di sini, hukum kausalitas tetap berlaku. Bila orang kafir banyak mencoba, setelah sekian kali gagal, maka mereka akan menemukan cara sukses. Nah, cara sukses yang ditemukan oleh orang kafir ini adalah hikmah yang hilang dari orang yang beriman. Maka Imam Tirmidzi meriwayatkan sabda nabi: “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Dimana saja ia menemukannya, maka ambillah.”
Langkah praktis prinsip 7 ini adalah: (1). Pelajari setiap pengalaman pribadi, baik itu kesuksesan maupun kegagalan. Lakukan dengan pola pengalaman berstruktur (structured experiences) —dengan daur (perputaran)— lima hal ini: melakukan—mengungkapkan—mengolah/menganalisa—menyimpulkan—menerapkan kembali/eksprimen. Gunakan “Jurnal pribadi” atau “Diary” (Catatan Harian) untuk mencatat seluruh pengalaman itu; (2). Pelajari pengalaman hidup orang yang sukses dan orang gagal, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi! Sebelum mempelajari yang lain, yang pertama dan utama adalah pelajari tarîkh Nabi Muhammad Saw. Sebab, beliau adalah profil orang yang sukses melaksanakan ajaran Al-Quran termasuk tentang kecerdasan. Beliau orang yang sukses di dunia dan di akhirat. Setelah Anda benar-benar memahami seluruh kehidupan nabi Muhammad Saw. baru pelajari kisah-kisah yang ada dalam Al-Quran, baik itu kisah para nabi dan rasul maupun kisah para musuh Allah Swt. Setelah itu, pelajari para tokoh-tokoh dunia baik zaman dulu maupun zaman kini. Buatlah sinopsis biografi tokoh yang sedang Anda pelajari, misal umur sekian ia lahir; umur sekian meraih prestasi ini; dan seterusnya. Pelajari sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan mereka, baik itu berhubungan dengan diri mereka sendiri, keluarga, masyarakat, negara, maupun situasi zaman.
Itulah 7 prinsip melejitkan manajemen diri yang saya tawarkan. Sengaja, dalam menguraikan prinsip itu, saya lebih banyak mengutip hadis. Bagi saya “role model” —contoh, panutan, atau idola— dalam melaksanakan manajemen diri yang paling berhasil adalah Nabi Muhammad Saw.. Wallahu a’lâmu bish shawâb.
Manajemen Waktu
Baik, masih ada satu lagi hal penting untuk kita diskusikan di sini, yaitu Manajemen Waktu. Sebab, hubungan antara keduanya sangat erat, terutama dengan prinsip keenam —Rumuskan Cara Meraih Impian. Dalam buku “First Think First” (Dahulukan Yang Utama), Stephen R. Covey menjelaskan dengan sangat menarik tentang “tiga generasi manajemen waktu”.
Menurutnya, generasi pertama, adalah generasi berdasarkan reminder (sarana yang akan mengingatkan kita bagaimana kita harus memanfa’atkan waktu kita). Generasi ini menganjurkan kita untuk “Ikut Arus”, tetapi sambil berusaha memperhatikan hal-hal yang harus kita beri waktu untuk kita kerjakan —membaca muqarar, menghadiri acara atau rapat, mencuci, membersihkan rumah. Generasi ini ditandai dengan catatan-catatan singkat atau checklist (daftar kegiatan). Daftar ini kita bawa kemana-mana agar kita tidak lupa. Di malam hari kita coret daftar kegiatan yang telah kita lakukan, dan menuliskannya kembali keesok harinya yang belum kita capai.
Generasi kedua, adalah manajemen waktu yang berdasarkan diri pada “perencanaan dan persiapan”. Ini ditandai dengan penanggalan dan buku agenda atau catatan mengenai janji pertemuan atau kegiatan yang akan kita lakukan. Generasi ini adalah generasi efisiensi, tanggungjawab pribadi, pencapaian dalam kerangka tujuan yang telah ditetapkan, merencanakan ke depan, dan penjadwalan kegiatan-kegiatan maupun peristiwa-peristiwa yang akan datang. Kita buat janji, menuliskan komitmen kita, menentukan deadline, dan mencatat seluruh kegiatan kita, baik itu dalam buku, maupun komputer atau network.
Dan, generasi ketiga, adalah generasi “perencanaan, pemrioritas, dan kontrol atau pengendalian”. Waktu kita banyak kita manfa’atkan untuk memperjelas nilai-nilai dan prioritas-prioritas kita, dengan pertanyaan ini: “Apa yang kumaui?” Kita membuat master plans —tujuan jangka panjang, menengah, dan pendek, untuk meraih nilai-nilai tersebut. Kita memberikan prioritas pada kegiatan kita secara harian. Generasi ini ditandai dengan bervariasi sarana perencanaan dan pengorganisasian —baik elektronik maupun kertas— dengan formulir terperinci bagi perencanaan harian.
Nah, menurut saya, baik pengalaman menjadi peserta pelatihan manajemen waktu dan melaksanakannya maupun “pengamat” terhadap manajemen waktu yang digunakan Masisir, ternyata berputar pada tiga generasi tersebut. Dalam batasan tertentu, tiga generasi itu memang meningkatkan efektivitas dalam hidup kita —misalnya, efisiensi, perencanaan, skala prioritas, memperjelas nilai dan penetapan tujuan— namun, pada dasarnya masih bercokol kesenjangan antara “apa yang sungguh sangat penting” bagi kita dan “cara kita memanfa’atkan waktu” Lebih parahnya lagi, kesenjangan antara “hasil” dengan “apa yang kita rasakan”.
Maka tidak sedikit, Masisir yang “cepat” menamatkan studi sebagai salah satu buah manajemen waktu, namun ketika gelar Lc. telah mereka raih justru muncul “rasa cemas” tidak siap menghadapi masyarakat, “rasa tertekan” karena mendapat predikat sarjana tapi “merasa” —bahkan memang kenyataan— ilmu sangat minim, “bingung” untuk kemana, dan seterusnya.
Bagaimana solusinya? Perlu generasi keempat —generasi yang merengkah semua kekuatan tiga generasi itu, sekaligus menyingkirkan kelemahan-kelemahan— adalah jawabannya. Dengan kata lain, kita beranjak dari manajemen waktu menuju kepemimpinan hidup (life leadership). Generasi ini didasarkan pada paradigma “ke-pentingan-an” —dahulukan yang utama. Berkaitan dengan paradigma ini, maka cara kita memanfa’atkan waktu berada dalam salah satu dari keempat cara —empat kuadran— berikut ini:
Kwadran I mewakili hal-hal yang “mendesak” (urgent) dan “penting” (importance). Dalam kwadran ini, kita menangani tuan rumah menagih sewa rumah dengan marah-marah, mengejar deadline makalah atau tulisan, kuliah istitsna-i, memperbaiki kompor rusak, atau krisis-krisis yang lain. Di sinilah kita mengatur, memproduksi, memanfa’atkan pengalaman dan kemampuan penilaian kita untuk menjawab berbagai kebutuhan dan tantangan. Kalau kita mengabaikannya, kita akan terkubur hidup-hidup. Tetapi, kita perlu menyadari bahwa banyak kegiatan penting menjadi “mendesak” karena “penundaan” atau karena kita tidak cukup melakukan “antisipasi” —penanggulangan— dan perencanaan.
Kaudran II mencakup kegiatan yang “penting tetapi tidak mendesak”. Ini kwadran kualitas. Di sinilah kita melakukan perancanaan jangka panjang, mengantisipasi dan menanggulangi masalah-masalah, memberikan kekuasaan atau wewenang (mendelegasikan) kepada orang lain, memperluas cakrawala pikir kita, dan meningkatkan keahlian kita melalui bacaan dan pengembangan “karir” terus-menerus, merancang bagaimana kita hendak membantu teman kita dalam kesulitan, mempersiapkan diri untuk rapat atau presentasi penting, dan menjalin hubungan dengan cara mendengarkan orang lain secara jujur dan penuh perhatian. Intinya, meningkatkan kemampuan kita untuk berbuat.
Pengabaian kwadran itu akan memperluas dan menambah hal-hal pada kwadran I, sehingga menciptakan stress, “kabakaran jenggot”, dan menciptakan krisis yang lebih mendalam bagi orang yang terkuras tenaga dan perhatiannya di sana. Perencanaan, persiaan, dan upaya penanggulangan menghindarkan banyak hal sehingga tidak menjadi sesuatu yang mendesak. Kwadran II tidak menguasai kita; kitalah yang menguasainya. Inilah kwadran Kepemimpinan Pribadi.
Kwadran III hampir meruapakan bayang-bayang dari kwadran I, dan mencakup “hal-hal yang mendesak, tetapi tidak penting”. Ini merupakan kwadran tipuan. Bunyi “mendesak” itu menciptakan ilusi seakan-akan itu penting. Tetapi kenyataannya, kalau pun itu penting, hanya penting bagi orang lain. Menerima telpon, rapat, dan kunjungan masuk dalam katagori ini. Kita memenuhi prioritas dan harapan orang lain, dan itu mengira bahwa sungguh di Kwadran I.
Kwadran IV dikhususkan bagi kegiatan-kegiatan yang “tidak mendesak” dan “tidak penting”. Ini Kwadran Pemborosan. Memang, kita sesungguhnya sama sekali tidak perlu berada di situ. Tetapi kita tidak begitu babak belur karena terus terjerembab dalam Kwadran I dan III, sehingga sering “melarikan diri” ke Kwadran IV untuk bertahan hidup. Hal-hal macam apakah yang terdapat dalam Kwadran IV ini? Hal-hal yang di situ tidak harus merupakan hal yang bersifat rekreatif, karena rekreasi dalam arti yang sesungguhnya dari re-kreasi —dari bahasa Latin: re-cratio (harfiah: penciptaan kembali)— merupakan kegiatan Kwdran II yang amat berharga. Tetapi membaca serilal Kho Ping Ho yang membuat kita semacam “kecanduan”, kebiasaan nonton film, atau ngobrol semalam suntuk dan tidur seharian, pantas disebut “pemborosan waktu”. Kwadran IV ini bukan merupakan sarana pertahanan hidup yang sesungguhnya. Sebaliknya, kwadran ini adalah pembusukan. Dari sinilah saya memunculkan istilah “pembusukan karakter” Masisir.
Ikhtitâm
Sebagai pamungkas, pertama, saya ingin menegaskan kembali bahwa manajemen diri adalah sebuah keniscayaan bagi kita yang ingin merubah diri sendiri dan merubah Masisir ke arah lebih baik. Sebagai insan akademis muslim, sudah seharusnya kita tidak “melahap” atau “membeo” begitu saja konsep manajemen diri yang berkembang —terutama dari Barat—, akan tetapi bagaimana kita “menyinari” manajemen diri yang ada dengan “cahaya” Islam. Dengan kata lain, manajamen diri yang saya maksud tak lain adalah sebuah upaya membangun karakter Islami dalam diri kita dengan mengambil hal-hal yang baik dari manajemen diri kontemporer.
Kedua, “pembusukan karakter” ini adalah persoalan kita bersama (we-ness) , bukan masalah orang lain (the other). Oleh sebab itu, butuh kerja kolektif (‘amal jama’i) untuk menyelesaikannya, agar Masisir menjadi creative minority —saya sedikit agak berbeda dengan Toynbee dalam mendefinsikan kata ini, menurut saya creative minority adalah “thaifatun liyatafaqquhû fiddîn” (Qs.at-Taubah[9]:122) meskipun jumlah mereka sedikit (Qs.al-Baqarah[2]:249) tapi mereka adalah pribadi-pribadi yang terbaik untuk memperbaiki manusia. (Qs.Ali Imran[3]:110)— yang akan membangun masyarakat madani (civil society) di Indonesia. Bila tidak, maka tunggulah, akan tercipta para “Generasi Buih”. Orang menyangka “air” (berilmu), ternyata hanya “buih” (tidak berilmu, sehingga mudah terbawa arus dan tidak memiliki manfa’at atau menjadi sampah masyarakat). Jadi, sudah saatnya, kita “mendesain” dinamika Masisir sebagai proses merubah logam menjadi sesuatu yang berharga dan istimewa. Wallâhu a’lâmu bish shawâb.
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya,maka arus itu membawa buih yang mengembang.Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. Ar-Ra’ad [13]:17)
Cairo, 11 November 2006
Daftar Pustaka
1. Asy-Syarifain, Khadim Al-Haramain, Al-Quran wa Tarjamah Ma’âniyah ilâ al-Lughatu al-Andunisia (Al-Quran dan Terjemahnya), (Madinatu al-Munawwarah: Majammak Malik Fahd li Thiba’ah al-Mushaf asy-Syarîf, 1971)
2. Ridla, Dr. Akrim, Idâratu adz-Dzât: Dalîlu asy-Syabâbu ilâ an-Najahi, (Cairo: Dâr at-Tawzi’ wa an-Nasyr al-Islâmi, 2000)
3. Fathy, Muhammad, Al-Waqtu Huwa al-Hayah, (Cairo: Dâr at-Tawzi’ wa an-Nasyr al-Islâmi, 2000)
4. Al-Qoradhowy, Dr. Yusuf, Al-Waqtu fî Hayati al-Muslim, (Cairo: Maktabah Wahbah, 2004)
5. Covey, Stephen R., The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif), (Jakarta: Binarupa Aksara, 1997)
6. ______________, First Things First (Dahulukan Yang Utama), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999)
7. Daud Ibrahim, Marwah, Ph.D, Mengelola Hidup & Merencanakan Masa Depan, (Jakarta: MHMMD, 2004)
8. Az-Zuhaily, Dr. Wahbah, At-Tafsîr al-Munîr fî al-’Aqîdah wa as-Syarî’ah wa al-Manhaj (Libanon: Darul Fikri, 1998)
9. Khalid Muhammad Khalid, Rijâlu Haula Rasûl (Cairo: Darul Muqatham, 1994)
10. Hernowo, Self Digesting (Bandung: MLC, 2004)
Membangun Karakter dan Watak Bangsa
Melalui Pendidikan Mutlak Diperlukan
Oleh: Drs. Bambang Nurokhim
Apabila kita simak bersama, bahwa dalam pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Memang idealnya demikian. Namun apa yang terjadi di era sekarang? Banyak kita jumpai perilaku para anak didik kita yang kurang sopan, bahkan lebih ironis lagi sudah tidak mau menghormati kepada orang tua, baik guru maupun sesama. Banyak kalangan yang mengatakan bahwa "watak" dengan "watuk" (batuk) sangat tipis perbedaannya. Apabila "watak" bisa terjadi karena sudah dari sononya atau bisa juga karena faktor bawaan yang sulit untuk diubah, namun apabila "watak" = batuk, mudah disembuhkan dengan minum obat batuk. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas hal ini tidak dapat terlepas adanya perkembangan atau laju ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang mengglobal, bahkan sudah tidak mengenal batas-batas negara hingga mempengaruhi ke seluruh sendi kehidupan manusia.
Makna Pendidikan
Banyak kalangan memberikan makna tentang pendidikan sangat beragam, bahkan sesuai dengan pandangannya masing-masing. Azyumardi Azra dalam buku "Paradigma Baru Pendidikan Nasional Rekonstruksi dan Demokratisasi", memberikan pengertian tentang "pendidikan" adalah merupakan suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Bahkan ia menegaskan, bahwa pendidikan lebih sekedar pengajaran, artinya, bahwa pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri diantara individu-individu.
Di samping itu, pendidikan adalah suatu hal yang benar-benar ditanamkan selain menempa fisik, mental dan moral bagi individu-individu, agar mereka menjadi manusia yang berbudaya, sehingga diharapkan mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia yang diciptakan Allah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di muka bumi ini yang sekaligus menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi suatu negara.
Perkembangan Pendidikan
Bangkitnya dunia pendidikan yang dirintis oleh Pahlawan kita Ki Hadjar Dewantara untuk menentang penjajah pada massa lalu, sungguh sangat berarti apabila kita cermati dengan saksama. Untuk itu tidak terlalu berlebihan apabila bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar memperingati hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei ini, sebagai bentuk refteksi penghargaan sekaligus bentuk penghormatan yang tiada terhingga kepada para Perintis Kemerdekaan dan Pahlawan Nasional. Di samping itu, betapa jiwa nasionalisme dan kejuangannya serta wawasan kebangsaan yang dimiliki para pendahulu kita sangat besar, bahkan rela berkorban demi nusa dan bangsa. Lantas bagaimana perkembangan sekarang? Sangat ironis, memang. Banyak para pemuda kita yang tidak memiliki jiwa besar, bahkan sangat mengkhawatirkan, janganjangan terhadap lagu kebangsaan kita pun sudah tidak hafal, jangankan menghayati. Namun, kita sangat yakin dan semakin sadar, bahwa hanya melalui dunia pendidikanlah bangsa kita akan menjadi maju, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain di dunia, sekaligus merupakan barometer terhadap kualitas sumber daya manusia.
Krisis moneter yang berlanjut dalam krisis ekonomi yang terjadi hingga puncaknya ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto dari kekuasaannya pada Mei 1998 yang lalu, telah mendorong reformasi bukan hanya dalam bidang politik dan ekonomi saja, melainkan juga terimbas dalam dunia pendidikan juga. Reformasi dalam bidang pendidikan, pada dasarnya merupakan reposisi dan bahkan rekonstruksi pendidikan secara keseluruhan atau secara komprehensif integral. Reformasi, reposisi dan rekonstruksi pendidikan jelas harus melibatkan penilaian kembali secara kritis pencapaian dan masalah-masalah yang dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.
Apabila kita amati secara garis besar, pencapaian pendidikan nasional kita masih jauh dan harapan, apalagi untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan perkembangan pendidikan pada tingkat global. Baik secara kuantitatif maupun kualitatif, pendidikan nasional masih memiliki banyak kelemahan mendasar. Bahkan pendidikan nasional, menurut banyak kalangan, bukan hanya belum berhasil meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak didik, melainkan gagal dalam membentuk karakter dan watak kepribadian (nation and character building), bahkan terjadi adanya degradasi moral.
Reformasi Pendidikan
Kita harus sadar, bahwa pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting, bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya (tidak bisa ditawar-tawar lagi). Hal ini cukup beralasan. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas, lebih banyak berupa wacana yang seolah-olah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. Tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu Pemerintah mengeluarkan pandangan, bahwa bangsa kita akan makmur, sejahtera nanti di tahun 2030. Suatu pemimpin bangsa yang besar untuk mengajak bangsa atau rakyatnya menjadi "pemimpi" dalam menggapai kemakmuran yang dicita-citakan.
Banyak kalangan masyarakat yang mempunyai pandangan terhadap istilah "kelatahan sosial" yang terjadi akhir-akhir ini. Hal ini memang terjadi dengan berbagai peristiwa, seperti tuntutan demokrasi yang diartikan sebagai kebebasan tanpa aturan, tuntutan otonomi sebagai kemandirian tanpa kerangka acuan yang mempersatukan seluruh komponen bangsa, hak asasi manusia yang terkadang mendahulukan hak daripada kewajiban. Pada akhirnya berkembang ke arah berlakunya hukum rimba yang memicu kesukubangsaan (ethnicity). Kerancuan ini menyebabkan orang frustasi dan cenderung meluapkan perasaan tanpa kendali dalam bentuk "amuk massa atau amuk sosial".
Berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan, pendidikan nasional pada saat yang sama (masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda dengan peran pendidikan pada negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi notion building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab.
Oleh karena itu, reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Reformasi kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan berkeadaban, sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang bersatu padu (integrated). Di samping itu, peran pendidikan nasional dengan berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh, membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki keadaban (civility) kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta berpartisipasi aktif, merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu masyarakat madani Indonesia. Jangan sampai yang terjadi malah kekerasan yang meregenerasi seperti halnya yang terjadi di IPDN yang menjadi sorotan akhir-akhir ini (Kompas 16/4), Kekerasan fisik yang mengorbankan nyawa dan harta benda tersebut, sangat jelas terkait pula dengan masih bertahannya "kekerasan struktural" (structural violence) pada tingkat tertentu. Akibatnya, perdamaian hati secara hakiki tidak atau belum berhasil diwujudkan.
Pendidikan Karakter
Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.
Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. Sebagaimana disarankan Philips, keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000) atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah). Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tatapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Selanjutnya menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (characterbase education) dengan menerapkan ke dalam setiap pelajaran yang ada di samping mata pelajaran khusus untuk mendidik karakter, seperti; pelajaran Agama, Sejarah, Moral Pancasila dan sebagainya.
Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.
Apabila kita cermati bersama, bahwa desain pendidikan yang mengacu pada pembebasan, penyadaran dan kreativitas sesungguhnya sejak masa kemerdekaan sudah digagas oleh para pendidik kita, seperti Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, Prof. HA. Mukti Ali, Ki Hajar Dewantara misalnya, mengajarkan praktek pendidikan yang mengusung kompetensi/kodrat alam anak didik, bukan dengan perintah paksaan, tetapi dengan "tuntunan" bukan "tontonan". Sangat jelas cara mendidik seperti ini dikenal dengan pendekatan "among"' yang lebih menyentuh langsung pada tataran etika, perilaku yang tidak terlepas dengan karakter atau watak seseorang. KH. Ahmad Dahlan berusaha "mengadaptasi" pendidikan modern Barat sejauh untuk kemajuan umat Islam, sedangkan Mukti Ali mendesain integrasi kurikulum dengan penambahan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Namun mengapa dunia pendidikan kita yang masih berkutat dengan problem internalnya, seperti penyakit dikotomi, profesionalitas pendidiknya, sistem pendidikan yang masih lemah, perilaku pendidiknya dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda, mulai dari lingklingan rumah tangga, sekolah dan masyarakat dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk dicontoh. Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju, sejahtera kini, esok dan selamanya. Seiring dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei Tahun 2007 yang lalu dan mereka yang lahir pada tanggal yang sama, semoga panjang umur dan berjiwa pendidik yang patut disuri tau-ladani generasi yang akan datang, bahkan lestari selamanya. Amin. ©
posted @ Wednesday, September 05, 2007 5:51 PM by cakrawala
THE MOTIVATOR Motivator
THE MOTIVATOR is usually friendly, imaginative, empathetic, flexible and the most optimistic of our character types. Motivator biasanya ramah, imajinatif, empati, fleksibel dan paling optimis jenis karakter kita. They are particularly well suited to occupations such as acting, graphic design and psychology. Mereka sangat cocok untuk pekerjaan seperti akting, desain grafis dan psikologi.
The Motivator's strongest personality indicators are in extroversion , intuition , feeling and perception . Motivator terkuat kepribadian indikator ini adalah di ekstroversi , intuisi , perasaan dan persepsi . Some areas may be more pronounced than others. Beberapa daerah mungkin lebih menonjol daripada yang lain. The following information contains a broad description of the character's individual personality components. Informasi berikut ini berisi deskripsi luas's individu kepribadian karakter komponen-komponen.
* THE MOTIVATOR is highly sociable and freely interacts with people. Motivator sangat ramah dan bebas berinteraksi dengan orang-orang. Their conversations cover a wide breadth of subject matter, since they easily speak their mind and react spontaneously to whatever is said. Percakapan mereka mencakup luas luas materi pelajaran, karena mereka mudah berbicara pikiran mereka dan bereaksi spontan terhadap apa pun yang dikatakan. They feel more comfortable around other people than alone; therefore, they maintain a multiplicity of relationships. Mereka merasa lebih nyaman di sekitar orang lain selain sendirian, sehingga mereka mempertahankan multiplisitas hubungan. In doing so, they exert a high level of energy staying in touch with family, friends and associates, so that they can efficiently manage their network of people. Dalam melakukannya, mereka mengerahkan tingkat energi yang tinggi tetap berhubungan dengan keluarga, teman dan rekan, sehingga mereka dapat secara efisien mengelola jaringan mereka orang.
* They rely more heavily on gut feelings than on past experience. Mereka mengandalkan lebih banyak pada perasaan usus dari pada pengalaman masa lalu. Others may view them as having their head in the clouds or as being free-spirited. Lain mungkin melihat mereka memiliki kepala mereka di awan atau sebagai berjiwa bebas. They are imaginative people who are more intrigued with fantasy then facts. Mereka adalah orang-orang imajinatif yang lebih tertarik dengan fakta fantasi kemudian. They spend more time contemplating about future possibilities than worrying about the here and now. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu merenungkan tentang kemungkinan masa depan yang mengkhawatirkan di sini dan sekarang. They are often a great source of inspiration to the people around them. Mereka sering menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di sekitar mereka.
* THE MOTIVATOR is also a good listener. Motivator juga merupakan pendengar yang baik. They are more likely to put themselves in someone else's shoes before passing judgment. Mereka lebih cenderung menempatkan diri dalam sepatu orang lain sebelum melewati penghakiman. They are empathetic. Mereka adalah empati. Values and extenuating circumstances take precedence over policy. Nilai-nilai dan keadaan khusus didahulukan atas kebijakan. They seek out the good in everybody and insist on the humane treatment of all living things. Mereka mencari kebaikan dalam setiap orang dan bersikeras pada perlakuan manusiawi terhadap semua makhluk hidup. They are well liked by others and have the ability to maintain intimate relationships. Mereka sangat disukai oleh orang lain dan memiliki kemampuan untuk mempertahankan hubungan intim.
* In addition, they manage to roll with the punches. Selain itu, mereka berhasil roll dengan pukulan. They live life in the moment adapting to situations as they pop up. Mereka hidup di saat beradaptasi dengan situasi saat mereka muncul. They are not quick to make decisions and like to keep their options open. Mereka tidak cepat untuk membuat keputusan dan ingin menyimpan pilihan mereka terbuka. Others view them as followers instead of leaders; however, their flexibility makes them good team members. Lain melihat mereka sebagai pengikut bukan pemimpin, namun fleksibilitas mereka membuat mereka anggota tim yang baik. Many of them have problems with commitment and prefer to keep things tentative or open-ended. Banyak dari mereka memiliki masalah dengan komitmen dan lebih memilih untuk menjaga hal-hal sementara atau terbuka. They are often called or called upon at the last minute. Mereka sering disebut atau disebut pada saat-saat terakhir.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)